Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Nasi Wong-wongan Nasinya Putih, Bukan Berwarna-warni

I Komang Gede Doktrinaya • Sabtu, 30 Juli 2022 | 18:06 WIB
NASI PUTIH : Nasi Wong-wongan menggunakan nasi putih. Ketua PHDI Kecamatan Buleleng Nyoman Suardika. Ist  
NASI PUTIH : Nasi Wong-wongan menggunakan nasi putih. Ketua PHDI Kecamatan Buleleng Nyoman Suardika. Ist  
BULELENG, BALI EXPRESS -Nasi Wong-wongan menjadi salah satu sarana yang kerap dihaturkan saat terjadinya wabah gerubug (gering) atau penyakit. Bahkan, saat pandemi Covid-19 terjadi, nasi berbentuk manusia ini menjadi sarana magis yang diyakini untuk menangkal dampak negatif dari wabah Virus Corona.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kecamatan Buleleng Nyoman Suardika mengatakan, Nasi Wong-wongan termuat dalam salinan lontar pupulan Indik Caru lan Tawur.

Dalam salinan lontar tersebut dikatakan : Malih caruning bilang bucu pekarangan segaa wong wongan amanca warna anut panca warna pada asiki maaled don telujungan matatakan klakat pada misi dupa asiki sowang-sowang.

Artinya, dan lagi upacara macaru di setiap pojok pekarangan rumah dengan Segaa Wong-wongan amancawarna sesuai dengan lima warna menurut tempatnya, memakai daun atau ujung daun pisang/telujungan dengan wadahnya klakat yang dibuat dari bambu dan diisi dengan dupa setiap Segaa Wong-wongan satu.

Mengacu pupulan lontar Indik Caru lan Tawur tersebut, dalam menghaturkan Segaa Wong-wongan disesuaikan dengan tempat arah mata angin dan tujuannya seperti menjaga pekarangan rumah, sehingga setiap pojok di rumah dipersembahkan segaa.

Hal ini juga bila menggelar upacara yang lebih besar. Seperti segaa barak letakkan di daksina atau selatan, segaa ireng atau hitam tempatkan di utara, segaa putih tempatkan di timur, di tengah-tengah segaa brumbun.

Selama ini, ada yang membuat Nasi Wong-wongan dengan wujud orang diberi warna seperti tangan kanan diberi warna merah, tangan kiri diberi warna kuning, kepala warna putih, kaki warna hitam dan badan warna manca warna.

“Nasi Wong-wongan yang lazim digunakan di masyarakat yaitu berwarna putih, tidak berwarna-warni. Kenapa?  Karena kan sudah segehannya sudah amanca warna,” paparnya.

Ada juga orang yang membuat Nasi Wong-wongan lengkap dengan mata hidung dan lainnya. Hal ini merupakan kearifan lokal, dimana umatnya kreatif berimajinasi sehingga ada berbagai bentuk Nasi Wong-wongan.

Selain dalam bentuk orang atau Wong-wongan, ada lagi nasi dalam berbagai bentuk. Seperti yang disebutkan dalam salinan lontar Pupulan Indik Caru lan Tawur yaitu pada caru karang panes, disebutkan: Muah bhuta slurik paha ganjaraning sarwa bhucari sedananya sega mawarna mareka jati, mapinda macan ring gneya, mapinda durgadewi ring neriti, mapinda nagaraja ring wayabya, mapinda garudapati ring airsanya, mapinda Wong-wongan ring madya, jangkep sowang-sowang ring pasangannya, pada sowangsowang maaled don talujungan, matatakan klakat sudhamala.

Artinya, bahwa bentuk nasi tersebut tidak hanya dalam bentuk orang tetap juga ada berbagai bentuk sesuai dengan tujuan tujuan tertentu, seperti nasi bentuk macan, bentuk durga dewi dan bentuk garuda.

Dari berbagai bentuk tersebut disesuaikan dengan tempatnya gneya atau arah tenggara nasi dengan bentuk macan. Kemudian arah neriti atau di barat daya nasi dalam bentuk durga dewi. Sedangkan di arah wayabya atau barat laut nasi dalam bentuk nagaraja. Selanjutnya untuk arah airsanya atau timur laut nasinya berbentuk garuda.  “Dan arah madya atau di tengah nasi berbentuk manusia,” sebutnya. (dik/wan)
  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#ritual #bali #balinese #adat #Ketua PHDI Kecamatan Buleleng #hindu #pura #budaya #tradisi #Nasi Wong-wongan #nasi putih #Nyoman Suardika