Dosen Bahasa Bali, STAHN Mpu Kuturan Made Susila Putra menjelaskan, secara umum lontar usada mengungkap metode dan teknik pengobatan tradisional yang menggunakan bahan-bahan yang dapat diperoleh dari alam.
Namun, lontar Usada Carik lebih khusus menjelaskan bagaimana menghindarkan padi dari serangan berbagai hama dengan sarana tradisional. Karena segala penyakit yang menyerang padi adalah datangnya dari hama. Maka untuk tetap menjaga kesehatan tanaman, hal terpenting yang harus dilakukan petani adalah mencegah datangnya hama penyakit.
Penjelasan mengenai Usada Carik secara khusus dalam naskah tersebut dimulai dari halaman 22a sampai dengan 30a. Penjelasan tersebut lebih menekankan pada usaha menolak datangnya berbagai hama penyakit yang mengganggu kesuburan padi, bahkan dapat menyebabkan kematian padi sehingga para petani mengalami gagal panen.
Setiap jenis hama ditolak atau dicegah dengan perantara sarana-sarana yang bersumber dari alam. Selain itu juga menggunakan sesajen. “Bukan hanya sarana, petani juga menggunakan beberapa sesajen untuk memohon keselamatan kepada ista dewatanya (dewa pelindung padi) agar padinya tidak diserang hama penyakit,” ungkapnya.
Selain itu juga diucapkan doa, mantra, dan saa sebagai media verbal untuk menyatakan permohonan kepada dewa bahkan terhadap hama. Salah satu mantra yang diucapkan pada saat menanam padi yaitu : Ong Sri sajagat guruning Sri ya nama swaha, aṇna resi raresighgaṇna, rupani raka di liman matta dūmanglah mangilangang sasab, maraṇnaning pari, ong pat, 3.
Terjemahannya, Ya Tuhan yang bermanifestasi sebagai Dewi Sri penguasa dunia yang tertinggi dari Sri yang mulia, adalah pendeta terhormat yang mengantarkan penolak bala pada tangan dan matanya bersiap hendak menghilangkan wabah penyakit, kematian padi, Ong Pat (diucapkan tiga kali).
Hal tersebut membuktikan bahwa petani wajib menyentuh lapisan spiritual untuk memohon perlindungan dewa yang dipujanya. Hama, menjadi satu bahaya yang meresahkan petani dan mengancam kesuburan padi.
Berbagai usaha dilakukan oleh petani agar tanaman padinya tetap terjaga sampai dapat memanen hasilnya. Dikatakan Susila, sebagai sebuah pedoman untuk menghindarkan padi dari serangan berbagai hama, ada beberapa unsur yang sangat penting dan tidak dapat ditinggalkan yang termuat Lontar Usada Carik.
Hama sangat dihindari oleh petani meskipun begitu banyak hama yang akan berdatangan sehingga padi perlu dilindungi atau diberikan benteng (panglogor carik) dengan sebuah permohonan, seperti ini. Ong angloperi dera wong tikus walang sangit, caṇdhang lanas mereng, caṇdhang uler, caṇdhang nghapi, caṇdhang sasab, aja tiba ring sawah ira bhaṭara gurū iki, dinangko jabaning pager, sidi mantranku.
Terjemahannya : Ya Tuhan (dalam wujud aksara suci Ong) meniadalah olehMu (para) tikus balang sangit, cegah datangnya mereng, cegah datangnya ular, cegah datangnya api, cegah datangnya penyakit, janganlah sampai di sawahMu ini Bhatara Guru (Siwa), lindungilah di luar pagar, (semoga) mantraku ampuh.
Sebut saja tikus sangat ditakuti oleh petani. Karena padi yang mulai menguning memiliki bau yang sangat disukai oleh tikus. Jika sampai padi-padi tersebut didatangi oleh tikus, padi tersebut akan habis dimakannya. Sehingga, petani akan gagal memanen sawahnya.
Untuk mencegah datangnya tikus, dalam teks Usada Carik digunakan sarana seperti dedes tingalun (sejenis gula tebu) yang disebarkan di sekeliling sawah dengan mantra : Ong Sang Hyang Putih, aja sira mangan pari ningsun, iki parin Batara Guru, lamun sirra kawasa amangan dening kuwuk putih, kawaṣa sira mangan pari ningsung, yan ki tan kawasa sira amangan dening kuwuk putih, tan kawaśa sira amangan pari ningsun, sidi mantranku.
Terjemahannya : Ya Tuhan yang berwujud Sang Hyang Putih (Iswara), janganlah memakan padi hamba, ini padi Bhatara Guru, jika Engkau bisa dimakan oleh kucing liar putih, mampu lah Engkau memakan padi hamba, jika tak mampu Engkau di makan kucing liar putih, tidak kuasa lah Engkau memakan padi hamba, ampuh las mantraku.
Selain mantra tersebut, digunakan mantra seperti berikut ini : Ih Ki Gilitingal, tongosin papantunirane, da mahanga sang tikus mangan pantunirane, puniki pantun ṣirane kehnya.
Terjemahannya : Wahai Ki Gilitingal, jagalah padi-padiku, jangan biarkan para tikus memakan padiku, ini adalah padi beliau yang melimpah.
Mantra tersebut disertai dengan beberapa sarana sesajen seperti : nasi yang berwarna merah 4 sajian, diletakkan di setiap sudut sawah, bertempat daun dadap, dialasi batok kelapa yang masih bersabut, dan daun kumbang. “Sesajen tersebut dipersembahkan kepada Ki Gilitingal yang dipercaya sebagai penjaga sawah agar beliau senantiasa menjaga sawah dari serangan tikus,” paparnya. (dik/wan) Editor : I Komang Gede Doktrinaya