Seperti namanya Ngusaba Goreng, upacara ini menggunakan sarana berupa jajanan yang digoreng. Jajanan terbuat dari tepung beras, tepung ketan, kelapa, gula, pewarna dan garam yang dibentuk sedemikian rupa sesuai dengan keperluan.
Tokoh adat Desa Adat Karangsari Jro Mangku Kuta mengatakan, Ngusaba Goreng dilaksanakan setiap tiga tahun sekali. Proses pelaksanaan upacara selama 10 hari, diselenggarakan di Pura Desa atau Pura Puseh.
Upacara ini dianggap paling lama dibandingkan dengan upacara lain, seperti Ngusaba Dodol dan Ngusaba Emping yang dilaksanakan satu tahun sekali di desa setempat, dengan proses pelaksanaan upacaranya selama 1 hari.
Pelaksanaan upacara Ngusaba Goreng dilaksanakan selama 10 hari. Dimulai dari tahapan pasesapuh di Pura Puseh (persiapan upacara), palelungaan Ida Bhatara ke segara, upacara ngewayon (nyuung), palelungaan Ida Bhatara ke beji (pusat mata air desa) dan lainnya.
Menurut kepercayaan masyarakat Desa Karangsari, Ngusaba Goreng erat kaitannya dengan sejarah berdirinya desa setempat, yang dahulunya masih bernama Desa Leketuk, di mana dimulai dari kedatangan Ida Bhatara Dalem tahun Caka 1009 yang berasal dari Klungkung. “Semenjak itulah Desa Karangsari sudah mengenal dan melaksanakan upacara Ngusaba Goreng,” jelasnya.
Ia mengakui upacara itu memang sebagai bagian dari ritual agraris. Sebab, pekerjaan masyarakat mayoritas petani dengan risiko dan ketidakpastian serta sangat tergantung terhadap alam. Oleh karena itu, masyarakat sangat mengharapkan bantuan alam, khususnya alam niskala, melalui pelaksanaan upacara-upacara keagamaan.
“Ngusaba Goreng bertujuan untuk memohon kesuburan. Bahkan sudah dilaksanakan dari zaman dahulu yang diwariskan secara turun-temurun oleh krama Desa Adat Karangsari, sehingga disebut loka dresta,” terang Mangku Kuta, beberapa waktu lalu. Editor : I Komang Gede Doktrinaya