DENPASAR, BALI EXPRESS - Upacara Mapandes atau potong gigi, adalah bagian penting dari siklus ritual Hindu Bali.
Sebab, bagi umat Hindu di Bali, mepandes memiliki makna mendalam yang berasal dari tradisi dan mitologi kuno.
Upacara ini dimulai sejak seseorang berada dalam kandungan ibunya, dan setiap tahap dalam kehidupan seseorang Hindu Bali, termasuk dewasa seperti dalam upacara Potong Gigi, dirayakan dengan ritual yang khusus.
Makna Mapandes: Pembersihan Dosa dan Pertajaman Pikiran
Dalam tradisi Hindu Bali, Mapandes juga dikenal sebagai Masangih atau Matatah.
Ini adalah ritual penting yang dilakukan oleh umat Hindu Bali. Upacara ini memiliki makna pembersihan dosa atau pemotongan enam musuh yang ada dalam diri manusia, yaitu Kama (nafsu), Lobha (keserakahan), Krodha (kemarahan), Moha (kebingungan), Mada (intoksikasi), dan Matsarya (iri hati).
Ritual Mapandes juga melambangkan pertajaman pikiran, yang disimbolkan dengan penghormatan kepada kedua orang tua.
Selain itu, ada ritual Matatah, di mana gigi taring dipotong oleh seorang sangging.
Seluruh rangkaian upacara ini dilakukan di dua tempat, yaitu pamerajan atau sanggah dan balai adat.
Aspek Spiritual dalam Upacara Mapandes
Upacara yang dilakukan di pamerajan atau sanggah memiliki nilai spiritual yang tinggi.
Dalam upacara ini, anak melakukan ritual penyembahan kepada roh leluhur di pamerajan atau sanggah Kemulan, sambil memohon restu dari kedua orang tuanya.
Keduanya, Mapandes dan Matatah, diadakan di pamerajan, dan ini adalah inti dari upacara potong gigi.
Mitologi Bhatara Kala dalam Upacara Mapandes
Upacara Mapandes juga mencerminkan kisah mitologi Bhatara Kala, yang mencari orang tuanya di surga karena selama hidupnya tidak mengetahui siapa orang tuanya.
Kisah ini mirip dengan cerita dalam filsafat Kala Pati Tattwa, yang mengisahkan tentang kelahiran Sang Hyang Kala yang tidak mengetahui orang tuanya.
Baca Juga: Mengungkap Luhuring Ambal Ambal: Tujuh Lapisan Atas di Kawasan Pura Besakih
Namun, dalam cerita ini, Sang Hyang Kala akhirnya diberitahu oleh Sang Hyang Tri Murti bahwa orang tuanya adalah Dewa Siwa dan Dewi Uma, penguasa Surga Loka.
Setelah perjalanan yang panjang, Bhatara Kala akhirnya berhadapan dengan orang tuanya, Dewa Siwa dan Dewi Uma, setelah taring Dewa Siwa dipotong sebagai syarat.
Penutup
Rangkaian upacara Mapandes ini penuh dengan makna, simbolisme, dan cerita mitologi yang menggambarkan perjalanan spiritual dan pencarian akar manusia yang sejati.
Upacara ini mengingatkan kita akan pentingnya pemurnian diri dan penghormatan kepada orang tua, serta memahami nilai-nilai yang ada dalam warisan budaya Hindu Bali.
Editor : I Putu Suyatra