BALIEXPRESS.ID - Pura Pucak Payogan, yang terletak di Ubud, Gianyar, adalah salah satu destinasi spiritual yang sarat dengan sejarah dan aura mistis. Tempat suci umat Hindu Bali, ini dipercaya sebagai tempat Rsi Markandya, seorang resi suci, menjalankan yoga di tengah hutan lebat.
Keberadaan pura yang berada di jantung hutan ini menjadikannya lokasi yang sempurna untuk kegiatan meditasi dan penyerapan energi spiritual.
Menurut penuturan Tokoh Desa Adat Lungsiakan, I Nyoman Jaya, Pura Pucak Payogan adalah bagian dari perjalanan spiritual Rsi Markandya menuju Desa Taro dari Pura Campuhan Ubud.
Saat ditemui di kediamannya di Banjar Lungsiakan, Desa Kedewatan, Jaya menegaskan bahwa lokasi pura ini berada di utara Banjar Payogan, sebuah wilayah yang dahulu dikenal sebagai hutan yang sangat luas dan tak tersentuh.
Perjalanan Sejarah dan Mitos yang Melingkupi Pura
Pada zaman dahulu, Banjar Lungsiakan meluas hingga mencapai wilayah Pura Pucak Payogan.
Menurut cerita para leluhur, area tersebut dipenuhi oleh penduduk asli Desa Gerih, Abiansemal, Badung, yang diperintahkan oleh Raja Ubud untuk tinggal di hutan tersebut selama masa peperangan.
Hanya berjumlah 25 orang pada awalnya, penduduk kemudian berkembang dan mendirikan Pura Khayangan Tiga serta desa mereka sendiri.
"Meski mengalami perkembangan, Pura Pucak Payogan tetap terjaga keasriannya di tengah hutan," ungkapnya.
Uniknya, pura ini tidak dilengkapi dengan penyengker (tembok pembatas), karena alam sekitarnya dipercaya telah memberikan perlindungan alami.
Menurut kepercayaan setempat, jika pura ini dipagari, maka pohon-pohon di sekitar akan tumbang dan menghantam bangunan suci.
Kehadiran Mistik di Sekitar Pura
Pura ini tidak hanya terkenal karena nilai spiritualnya, tetapi juga kisah mistis yang menyelimutinya.
Nyoman Jaya menceritakan bahwa banyak warga yang sering melihat sosok ular besar di sekitar pura.
Bahkan, beberapa warga yang memiliki lahan di sekitar pura sering mendengar suara yang mirip dengan suara naga, membuat mereka enggan berani menebang pohon atau mencari kayu di sana.
Selain itu, pura ini juga dihuni oleh Barong Macan dan pratima lainnya sebagai bentuk penghormatan kepada alam dan hutan tempat Rsi Markandya beryoga.
Area payogan Rsi Markandya sendiri berada di utama mandala pura, menghadap utara, tepat ke arah palinggih Pura Pucak Payogan.
Ritual Piodalan dan Larangan Khusus
Pelaksanaan piodalan di Pura Pucak Payogan jatuh pada hari Anggara Kasih Tambir.
Terdapat dua jenis piodalan yang dilaksanakan, yaitu piodalan nadi yang berlangsung selama tiga hari dan piodalan alit yang hanya sehari.
Piodalan nadi digelar setahun sekali dan menjadi momen penting bagi masyarakat sekitar untuk berdoa dan menghormati leluhur.
Ada larangan khusus di pura ini, yakni tidak diperbolehkannya mempersembahkan daging babi saat bersembahyang.
Tradisi ini dipercaya sudah ada sejak lama dan menjadi bagian dari ritual yang harus diikuti oleh para pemedek.
Akses Menuju Pura Pucak Payogan
Meskipun lokasinya agak tersembunyi di tengah hutan, Pura Pucak Payogan cukup mudah dijangkau.
Dari Denpasar, perjalanan menuju Desa Kedewatan, Ubud, Gianyar, hanya memerlukan waktu sekitar 45 menit.
Setelah sampai di Balai Banjar Lungsiakan, tinggal mengikuti jalan utama hingga ke ujung Banjar Payogan.
Di sanalah, pura ini berdiri megah di antara pepohonan, menyimpan sejuta misteri dan keagungan spiritual.
Dengan sejarah yang mendalam dan cerita-cerita mistis yang mengelilinginya, Pura Pucak Payogan tetap menjadi tempat yang menarik perhatian, baik bagi yang mencari ketenangan spiritual maupun mereka yang tertarik pada misteri hutan Ubud. ***
Editor : I Putu Suyatra