Tradisi ini dilaksanakan oleh seluruh warga di Desa Pakraman Banyuning dengan berbagai rangakianya wajib diikuti oleh seluruh warga.
Baca Juga: Jokowi Ikuti Tren Reaction Joget 'Waktu Ku Kecil', Netizen Heboh! Ada yang Menyebut Sebuah Clue
Saat Tata Linggih dilaksanakan, ada uleman wajib yang dihadirkan.
Seperti pemangku Pura Khayangan desa, Bendesa, Kelian Adat desa, Kelian adat banjar, PHDI, kelian subak.
Para uleman dari jro mangku kayangan tiga, jro mangku sebanyuning sampai kelian banjar, desa pakraman termask ketua Parisadha duduk di balai pengenem.
Baca Juga: Unik, Pura Pemayun Wajib Pentaskan Mejaran-Jaranan hingga Makeringan Endut
Nyoman Suardika mengatakan, semua uleman dkasi air,cendana atau cane. Kemudian diusapkan pada wajah terutama pada mata dan telinga.
Uleman juga diberikan bunga kamboja untk pebaktian. Setelah itu diberikan arak untuk Wajik petabuh.
Semuan uleman dikasi canang pemendak untuk mengundang ide bhatara bisa turun melalui pasutri Kerama desa,sekaa truna mulai bersorak sorak menyoraki para pasutri agar Ida Batara bisa cepat turun melalui pasutri.
Dasar dari pelaksanan tradisi Tata Linggih ini adalah memohon petunjuk niskala sebagai media evaluasi bersama untuk mengurangi dan menghindari kekeliruan dan kesalahan yang bisa menyebabkan musibah dan bencana.
Baca Juga: Penasaran! Begini Karakteristik Kelahiran Berdasarkan Gabungan Tri Wara dan Sad Wara
“Evaluasi yang dimaksud adalah dengan adanya petunjuk dari alam gaib mengenai pelaksanaan upacara Besar atau Piodalan Agung di pura Khyangan, termasuk di Pura Pemayun, maka umat akan mengetahui apa kekurangan dan kesalahan yang dilakukan yang berhubungan dengan kehidupan manusia dengan dewa, mannusia dengan sesama manusia dan manusia dengan alam,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika