Wakul yang berisi Tumbuhan Lateng (bhaga) sebagai simbol Perempuan. Sedangkan Wakul yang berisi buah Kolang-Kaling atau Beluluk (buah pelir) sebagai simbol laki-laki.
Wayan Sukrata menjelaskan,pohon lateng memang secara ilmiah memang membuat gatal karena mengandung racun .
Namun, filosofisnya, jika sudah gatal, maka sudah pasti mencari pasangan. “Kalau dicari dari sisi filsafat Pedawa, yang genit-genit itu ngalih gae” imbuhnya.
Begitu juga dengan Beluluk atau buah kolang-kalung yang dihasilkan dari Pohon Jaka (aren) atau Enau.
Bagi masyarakat Pedawa, Beluluk adalah simbol sumber kehidupan bagi masyarakat Pedawa.
Sebab, masyarakat Pedawa hidup dari hasil menyadap air nira atau aren untuk dijadikan tuak maupun gula aren.
Filosofisnya, kata Sukrata, bahwa laki-laki bertigas untuk mencari nafkah. Kalau Perempuan itu lateng, dimananpun ditaruh, dia akan tumbuh, dan menyimpan air. Ini sama dengan sifat Wanita yang harus meneduhkan keluarga.
Baca Juga: Unik!Tradisi Kawin ngemaling di Pedawa Simbol Kebebasan Wanita, Dilestarikan Lewat Awig-Awig
"Makanya dianalogikan kalau berani nepak Lateng itu kan bikin gatal dan menyakitkan. Makanya kalau berani dan nekat mengambil istri orang sudah pasti beresiko, kira-kira seperti itulah analoginya,” bebernya.
Meski sarana yang sangat sederhana saat proses pengesahan, namun makna Wakul yang berisi Lateng dan Beluluk serta Damar sebagai simbol sahnya sebuah perkawinan rupanya tak bisa dianggap remeh.
Bukan tanpa alasan, sebab menurut Wayan Sukrata, dulu banyak perkawinan di Pedawa yang tidak disahkan secara niskala dengan sarana Wakul dan Damar
Dampaknya, pasangan suami istri yang sudah lama meninggal akhirnya nyakitin pratisentananya secara niskala sampai saat ini.
Jumlahnya pun banyak. Tak pelak pratisentananya kembali membuatkan upacara pengesahan dengan menggunakan sarana adegan sebagai simbol suami istri yang telah meninggal.
“Dulu orang gampang kawin, tanpa pengesahan, itu akhirnya nyakitin. Mungkin inilah tertib administrasi secara niskala. Banyak kejadian seperti itu hingga saat ini kami masih menemukan pratisentananya membuatkan pengesahan para leluhurnya yang belum disahkan ulang” paparnya.
Fenomena atas kesakralana Wakul dan Damar juga pernah dialami Wayan Sukrata. Saat itu ia bersama prajuru adat menjadi saksi upacara perawinan warganya yang menikahi gadis dari wilayah Singaraja.
Baca Juga: Pj Sekda Badung Serahkan Penghargaan untuk PNS Berprestasi Tahun 2024
Karena pihak keluarga si Laki-laki lupa membawa wakul, akhirnya diganti dengan bantal alem seperti tradisi orang menikah di Bali pada umumnya.
Namun apa yang terjadi, saat berbicara di hadapan keluarga mempelai wanita, ia justru tak bisa bicara seperti biasanya.
“Ambar rasanya bicaranya. Maka dari itu, saya meminta agar masyarakat Pedawa tetap percaya diri dengan budayanya yang menggunakan wakul saat ngidih,Memang tergantung kesepakatan jika mempelai wanita dari luar Pedawa. Jadi kita harus percaya diri dengan budaya masing-masing, artinya tidak ada yang budayanya lebih tinggi atau lebih rendah,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika