Wujud petirtaan Jolotundo ini kolam yang luas terbuat dari batu-batu andesit dengan ukuran denah segi empat berukuran 18 x 12 meter.
Ada tiga kolam dikelilingi pancuran-pancuran sumber air dari dinding-dinding candi Jolotundo yang terdapat wujud relief. Sumber air yang keluar dari dinding-dinding yang masih kokoh tersebut ditampung pada teras-teras sehingga terdapat kolam bagian tengah.
Dari sisi kiri sampai sisi kanan dipenuhi dengan pancuran dan menjadi satu pada kolam sebagai air yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.
Petirtaan Jolotundo menjadi tinggalan dari Raja Udayana dan Prabu Airlangga yang tertulis di dinding candi pada tahun 899 Saka yang berarti 977 Masehi. Sehingga dapat diketahui adanya petirtaan Jolotundo ini sudah sejak zaman Hindu.
Menariknya, terdapat tulisan relief lain yang ditemukan pada tembok dinding petirtaan Jolotundo adalah bertuliskan “gempeng” memiliki arti melebur atau menghilangkan dosa-dosa. Petirtaan Jolotundo yang diwujudkan dengan keluar sumber air yang melimpah/
Hal ini bermakna bahwa melebur dosa-dosa dalam raga dan jiwa melalui mandi menggunakan air suci yang keluar tersebut. Sehingga para masyarakat terdahulu menerapkan apa yang tertulis dan apa yang dipercayai.
Mbah Jari, selaku Juru Kunci Petirtan Jolotundo menjelaskan, ada sejumlah sarana yang bisa dibawa jika hendak melaksanakan penyucian diri di tempat ini. Diantaranya dupa atau kemenyan, sesajen, kembang telon atau bunga 3 warna.
“Dupa diyakini menjadisarana meminta izin dan restu supaya ritual yang akan dilaksanakan bisa bermanfaat dan lancar. Wangi harum yang dihasilkan sebagai sarana penjaga dari bahaya dan gangguan dari sekitar,” paparnya.
Sarana berikutnya adalah sesajen. Sesajen atau sesaji diyakini sebagai persembahan yang tulus. Serta sesajen ini menjadi sarana penghormatan kepada leluhur yang bertempat di pertirtaan Jolotundo.
Mbah Jari menyebut, Sesajen yang dipersembahkan bisa buah pisang dan buah kelapa. Buah pisang memiliki makna untuk kebaikan dalam kehidupan. Pisang yang sebagai pohon menghasilkan buah dengan berbagai manfaat dan mempunyai sifat setia.
“Setia untuk memiliki keinginan hidup, tidak mudah putus asa dalam bertahan hidup. Dan terdapat buah kelapa yang mewujudkan simbol bermanfaat juga untuk kehidupan, diibaratkan manusia yang harus mempunyai perlakuan yang bermanfaat bagi manusia lainnya,” paparnya.
Terdapat juga kopi dan gula, dipercayai masyarakat untuk menggambarkan kehidupan manusia ketika dijalani pasti menemui jalan yang pahit seperti kopi dan ada jalan yang manis seperti gula
Sarana selanjutnya adalah Bunga tiga warna. Sarana ini mewujudkan bunga dengan tiga macam jenis yang berbeda yaitu mawar, melati, kenanga.
Jenis bunga tersebut sering digunakan masyarakat Jawa ketika melakukan suatu tradisi. Dan jenis ketiga bunga tersebut sangat mudah ditemukan.
“Kembang telon atau bunga tiga warna ini menjadi campuran dalam sesuci diri dimana masing-masing jenis bunga memiliki makna tersendiri,” sebutnya.
Ada sejumlah hal yang harus diperhatikan jika hendak melaksanakan penyucian diri di Petirtan Jolotundo. Mereka yang datang wajib memperhatikan hari, perlengkapan dan hal lainnya.
Mbah Jari selaku juru kunci di Petirtaan Jolotundo menyebutkan penyucian bisa dipilih sesuai dengan hari weton atau hari kelahiran. Ada juga yang memilih penyucian pada hari Jum’at Legi, Jum’at Kliwon, malam Selasa Kliwon.
Hari-hari yang telah disebutkan dapat dipilih oleh masyarakat yang ingin melaksanakan Penyucian. Hari-hari baik tersebut telah berpatokan dengan perhitungan jawa sehingga tercipta hari baik yang dipercayai masyarakat jawa sampai sekarang.
Ia menambahkan, di lokasi ini ada dua tempat yang berbeda di petirtaan Jolotundo dibedakan menurut jenis kelamin. Kolam yang ada disebelah utara atau sisi sebelah kiri adalah kolam untuk masyarakat yang berjenis kelamin perempuan.
Untuk masyarakat yang berjenis laki-laki terdapat kolam di sisi sebelah kanan atau selatan. Dan ditengah-tengahnya terdapat kolam cukup besar sebagai kolam utama untuk masyarakat yang sekedar ingin mengambil air atau merendam kaki.
Setelah menyiapkan keperluan dan menyiapkan tempat yang telah dipilih sesui dnegan jenis kelamin, belum langsung masuk ke kolam tetapi harus ke tempat yang bernama Siti Hinggil.
“Siti Hinggil ini merupakan tempat untuk “ngaturi meninga” yang memiliki arti menghaturkan doa dan menghaturkan izin terhadap para leluhur,” ungkapnya.
Seperti tempat yang sering disebut tempat untuk menyembah sungkem sebelum melakukan sesuatu harus meminta izin dan mengatakan terima kasih terhadap yang punya tempat. Hal tersebut menjadi kebiasaan atau tradisi masyarakat di sekitar petirtaan Jolotundo untuk meminta izin dan mendoakan para leluhur sebelum melakukan sesuci diri.
Setelah meminta izin dan menghaturkan sembah sungkem ke Siti Hinggil, dilanjutkan turun ke tempat yang telah dipilih yaitu disesuaikan dengan jenis kelamin. Kemudian masuk ke kolam yang dituju dengan membawa ubarampe atau perlengkapan yaitu bunga tiga warna.
Bunga tiga warna yang telah dibawa tersebut ditaburkan ke sekitar kolam tempat mandi yang digunakan membersihkan diri
Bagian terakhir dalam pelaksanaan penyucian diri ini adalah mandi berendam dan mengheningkan diri. “Secara nyata mandi memiliki tujuan untuk membersihkan raga luar, kotor atau tidak kotor tetap mandi,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika