Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Galungan Kemenangan Dharma dan Kesadaran Teo-Ekologis di Tengah Tantangan Zaman

Putu Agus Adegrantika • Minggu, 14 Juni 2026 | 18:47 WIB
AKADEMISI :  Putu Eka Sura Adnyana Dosen Prodi Filsafat Hindu UHN IGB Sugriwa. 
AKADEMISI :  Putu Eka Sura Adnyana Dosen Prodi Filsafat Hindu UHN IGB Sugriwa. 

BALIEXPRESS. ID- Hari Raya Galungan merupakan salah satu hari suci dalam tradisi Hindu yang memiliki makna sangat mendalam bagi umat Hindu, khususnya di Bali. Dirayakan setiap Budha Kliwon Wuku Dungulan atau setiap 210 hari berdasarkan sistem Pawukon, Galungan tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga momentum refleksi spiritual tentang kemenangan Dharma atas Adharma. Hal itu diungkapkan oleh Putu Eka Sura Adnyana, Dosen Prodi Filsafat Hindu UHN IGB Sugriwa. 


Dalam tradisi masyarakat Hindu Bali, Galungan kerap dikaitkan dengan kisah kemenangan Dewa Indra atas Mayadenawa. Sosok Mayadenawa digambarkan sebagai raja sakti yang dikuasai oleh kesombongan dan angkara murka. Ia melarang rakyatnya memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan memaksa mereka memuja dirinya sendiri. Tindakan tersebut dianggap sebagai penyimpangan terhadap Dharma, sehingga Dewa Indra turun untuk mengembalikan keseimbangan dengan mengalahkan Mayadenawa.


Namun, di balik kisah mitologis tersebut tersimpan pesan filosofis yang sangat relevan hingga saat ini. Mayadenawa tidak sekadar dipahami sebagai tokoh sejarah atau legenda, melainkan simbol sifat-sifat negatif dalam diri manusia seperti keserakahan, egoisme, kemarahan, dan kesombongan. Sebaliknya, Dewa Indra melambangkan kebijaksanaan, kesadaran spiritual, dan kekuatan moral yang mampu menundukkan sifat-sifat tersebut.


"Dengan demikian, Galungan sejatinya mengajarkan bahwa peperangan terbesar dalam hidup manusia bukanlah melawan orang lain, melainkan melawan kelemahan dalam dirinya sendiri, " jelasnya. 


Selain kisah Mayadenawa, lontar Sri Jaya Kasunu juga mengisahkan asal-usul Galungan. Diceritakan Raja Jaya Kasunu yang baru dinobatkan merasa khawatir karena para pendahulunya berumur pendek. Dalam semadhinya di setra, ia memperoleh pawisik dari Dewi Durga agar melaksanakan upacara Galungan dan memasang penjor setiap enam bulan sekali. Setelah petunjuk itu dijalankan, kerajaan menjadi aman, rakyat hidup sejahtera, dan sang raja memperoleh umur panjang.

Baca Juga: Desa Darmasaba Terus Bebenah, Siapkan Wilayah Ramah Pariwisata


Kisah tersebut menunjukkan bahwa Galungan bukan hanya berkaitan dengan kemenangan spiritual, tetapi juga menjadi simbol terciptanya kesejahteraan, ketentraman, dan harmoni sosial ketika Dharma dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.


"Makna kemenangan Dharma juga ditegaskan dalam Bhagavadgita IV.7-8. Dalam sloka tersebut, Sri Krishna menyatakan bahwa setiap kali Dharma mengalami kemerosotan dan Adharma berkembang, Tuhan akan hadir untuk menegakkan kembali kebenaran, " beber dosen asli Gianyar ini. 


Pesan universal ini mengandung makna bahwa kemenangan Dharma merupakan hukum kosmis yang berlangsung sepanjang zaman. Kehadiran Tuhan tidak selalu dimaknai sebagai perwujudan fisik melalui avatara, tetapi juga dapat dipahami sebagai bangkitnya kesadaran manusia untuk kembali pada nilai-nilai kebenaran, kejujuran, dan kebajikan.


Dalam konteks kehidupan modern, ajaran tersebut menjadi sangat relevan. Kemenangan sejati bukanlah hasil kekuasaan, kekuatan fisik, atau dominasi terhadap orang lain, melainkan kemampuan mengendalikan diri dan menjalani hidup berdasarkan Dharma.


Ajaran Hindu mengenal konsep Ṣaḍripu, yaitu enam musuh dalam diri manusia yang terdiri dari kama (nafsu), krodha (kemarahan), lobha (keserakahan), moha (kebingungan atau keterikatan), mada (kesombongan), dan matsarya (iri hati). Keenam sifat ini menjadi sumber berbagai bentuk Adharma dalam kehidupan manusia.
Karena itu, Galungan sesungguhnya merupakan momentum kemenangan manusia atas Ṣaḍripu. Ketika seseorang mampu mengendalikan keenam musuh batin tersebut, maka ia telah memenangkan peperangan yang paling mendasar dalam kehidupannya.


Menariknya, rangkaian Galungan juga sarat dengan pesan ekologis. Perayaan diawali dengan Tumpek Wariga, yaitu hari penghormatan kepada Sang Hyang Sangkara sebagai manifestasi Tuhan yang menganugerahkan kesuburan kepada tumbuh-tumbuhan. Pada hari ini, umat Hindu menghaturkan persembahan kepada berbagai tanaman sebagai ungkapan rasa syukur atas anugerah alam.


Tradisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Hindu Bali sejak lama memiliki kesadaran ekologis yang kuat. Alam tidak dipandang sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai bagian dari ciptaan Tuhan yang harus dihormati dan dijaga. Nilai ini selaras dengan ajaran Atharva Veda yang menyatakan bahwa bumi adalah ibu dan manusia adalah anaknya.


Tahapan berikutnya, yakni Sugihan Jawa dan Sugihan Bali, mengandung makna penyucian Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit. Sugihan Jawa menekankan pembersihan lingkungan dan alam semesta, sedangkan Sugihan Bali menitikberatkan pada penyucian diri melalui pengendalian pikiran, perkataan, dan perbuatan.


Kedua tahapan tersebut mengajarkan bahwa keharmonisan hidup hanya dapat tercapai apabila manusia mampu menjaga keseimbangan antara dirinya dengan lingkungan. Penyucian alam tanpa penyucian batin tidak akan menghasilkan kehidupan yang harmonis, begitu pula sebaliknya.


Selanjutnya terdapat tahapan Penyekeban, Penyajaan, dan Penampahan Galungan yang mengandung makna simbolik pengendalian diri. Penyekeban dimaknai sebagai usaha menahan dorongan negatif, Penyajaan sebagai pemantapan keyakinan terhadap Dharma, sedangkan Penampahan Galungan melambangkan upaya membunuh sifat-sifat kebinatangan dalam diri manusia.


Puncak perayaan terjadi pada Hari Raya Galungan yang dimaknai sebagai momentum menyatukan kekuatan rohani untuk memperoleh kejernihan pikiran dan menghilangkan berbagai kekacauan batin. Umat Hindu melaksanakan persembahyangan di sanggah, merajan, maupun pura sebagai bentuk bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta penghormatan kepada leluhur.


Salah satu simbol paling khas dalam Galungan adalah penjor. Selain menjadi simbol Gunung Mahameru yang melambangkan keseimbangan alam semesta, penjor juga mencerminkan rasa syukur atas kemakmuran yang diberikan Tuhan. Seluruh unsur penjor berasal dari alam, sehingga menjadi pengingat bahwa seluruh sumber kehidupan merupakan anugerah yang harus dijaga dan dilestarikan.


"Di tengah tantangan zaman modern yang ditandai oleh materialisme, individualisme, krisis moral, hingga kerusakan lingkungan, nilai-nilai Galungan justru semakin relevan. Hari suci ini tidak hanya mengingatkan umat Hindu untuk memenangkan Dharma dalam dirinya, tetapi juga membangun kesadaran teo-ekologis bahwa menjaga alam merupakan bagian integral dari pengamalan agama, " tegas Eka. 


Galungan pada akhirnya bukan sekadar perayaan ritual tahunan, melainkan ajakan untuk terus menegakkan Dharma, mengendalikan diri, menghormati leluhur, serta menjaga harmoni antara manusia, Tuhan, dan alam semesta demi terciptanya kehidupan yang damai, sejahtera, dan berkelanjutan.*

Editor : Putu Agus Adegrantika
#Uhn bagus sugriwa