SINGARAJA, BALI EXPRESS-Daun Kelor tak hanya bisa dijadikan sayur untuk dikonsumsi sebagai pemenuhan gizi. Selain diyakini memiliki khasiat magis untuk mengusir roh jahat, daun Kelor juga bermanfaat menjaga kesehatan mata, sepeeti diungkap dalam Lontar Taru Pramana.
Akademisi Usada Bali, Gede Sutana, S.Kes, M.Si mengatakan, kondisi pandemi saat ini membuat masyarakat harus bekerja dari rumah. Tidak sedikit pula harus mencari nafkah dengan menggunakan piranti lain seperti smartphone hingga laptop.
Tak pelak, kondisi ini memicu otot mata menjadi lelah dan kaku. Akibatnya, bisa menjadi pemicu timbulnya gangguan pada indera penglihatan seperti mata minus, plus, silinder, ataupun penyakit lainnya yang berhubungan dengan indera penglihatan.
Pengobatan alternatif secara tradisional untuk pengobatan indera penglihatan, lanjutnya, bisa diperoleh lewat Lontar Taru Pramana. Salah satu tanaman yang disebutkan dalam Lontar Taru Pramana dan mempunyai khasiat sebagai obat adalah tanaman Kelor.
“Kelor sering dianggap sebagai tanaman yang sakti. Banyak mitos yang berkembang di masyarakat Indonesia bahwa daun Kelor bisa mengalahkan makhluk halus,” ujar Sutana, kemarin.
Banyak mitos menyebutkan, kesaktian seseorang akan punah jika berhadapan dengan daun Kelor. Selain itu, dalam mitos yang berkembang dikatakan juga, daun Kelor dapat digunakan untuk melepaskan kekuatan magis, ilmu hitam atau sihir kepada orang yang sedang sekarat.
Daun Kelor juga diyakini masyarakat dapat berguna untuk melindungi manusia yang masih hidup dari serangan sihir berupa santet, ilmu gendam, ilmu pelet, atau ilmu sihir dan gaib lainnya yang bisa membahayakan jiwa.
Terlepas dari mitos yang melekat dalam daun Kelor tersebut, dalam kaitannya untuk mengatasi dan memelihara kesehatan indera penglihatan, dalam Lontar Taru Pramana disebutkan percakapan Mpu Kuturan dengan pohon Kelor, yakni : Malih rawuh I taru, titiang I taru len rupan ipun, titiang mewasta I taru kelor, daging titiang tis, engket nyem, akah panas, dawun titiang dening dados, anggen tamba mata sakit, ragi, yeh juhuk lengis, uyah areng, cakcak sari degdegang, raris ketelin netrania.
Artinya, saya bernama pohon Kelor, tubuh saya sejuk, getah saya dingin, akar saya panas dan daun saya sejuk. Saya dapat dipakai mengobati sakit mata. Ambil daun saya dicampur dengan jeruk nipis ditambah sedikit garam ireng, kemudian disaring dan diendapkan, setelah itu baru diteteskan pada mata.
“Dari percakapan antara Mpu Kuturan dengan pohon Kelor dapat kita ketahui bahwa polon Kelor ini, terutama bagian daunnya memiliki khasiat untuk mengatasi dan memelihara kesehatan indera penglihatan,” jelas Sutana.
Akademisi STAHN Mpu Kuturan Sngaraja ini menyebut, ada sejumlah cara mengolah daun Kelor dalam Lontar Taru Pramana, sehingga dapat digunakan sebagai obat mengatasi ganguan pada indera penglihatan dan memelihara indera penglihatan.
Agar memiliki khasiat obat, Kelor bisa dikombinasikan dengan satu buah juwuk lengis (jeruk nipis), tasik areng (garam dan arang dapur/tungku api) secukupnya, dan segenggam daun kelor segar.
Cara mengolahnya, daun Kelor digerus halus untuk dicari airnya. Kemudian dicampurkan perasan jeruk lengis dan tasik areng, diaduk sampai rata. Diamkan beberapa menit (degdegang), kemudian ambil airnya yang bening untuk tetes mata pada pagi dan sore hari. “Diyakini mampu mengatasi keluhan terkait masalah indera penglihatan,” imbuhnya.
Secara ilmiah berdasarkan dari berbagai penelitian, didapatkan fakta yang sungguh mencengangkan. Di dalam daun Kelor ternyata terkandung Potasium, tiga kali lebih banyak dibanding pisang. Vitamin A, empat kali lebih banyak dibandingkan wortel. Vitamin C, tujuh kali lebih banyak dari jeruk. Kemudian Kalsium empat kali lebih banyak dari susu.
Selain itu, juga terdapat kandungan seperti Vitamin B1 (tiamin) Vitamin B2 (riboflavin) Vitamin B3 (niacin), B-6 Folat Kalium Besi Magnesium Fosfor Seng. Di samping itu, daun Kelor juga mengandung berbagai jenis asam amino essensial, berbagai senyawa antioksidan, seperti Lutein dan Zeaxanthin yang manfaatnya tentu sudah diakui para ilmuwan.
Lutein dan Zeaxanthin merupakan nutrisi penting yang ditemukan dalam daun Kelor serta sayuran berdaun hijau, serta makanan lain, seperti telur. Banyak penelitian telah menunjukkan, Lutein dan Zeaxanthin mengurangi risiko penyakit mata kronis, termasuk degenerasi makula terkait usia dan katarak.
Sedangkan Vitamin C pada Kelor mampu menurunkan risiko pengembangan katarak, dan ketika dikonsumsi bersamaan dengan nutrisi penting lainnya, vitamin C dapat mengurangi kemungkinan mengalami degenerasi makula terkait usia dan hilangnya ketajaman visual.
“Mineral yang dikatakan sebagai molekul penolong ini memainkan peran penting dalam membawa vitamin A dari hati ke retina untuk menghasilkan melanin, pigmen pelindung di mata. Seng sangat terkonsentrasi di mata, sebagian besar di retina dan koroid, lapisan jaringan pembuluh darah yang terletak di bawah retina,” pungkasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya