Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Menguak Pembuatan Replika Ferari Formula 1 (F1) di Desa Bulian

Chairul Amri Simabur • Senin, 15 Februari 2021 | 02:50 WIB
Menguak Pembuatan Replika Ferari Formula 1 (F1) di Desa Bulian
Menguak Pembuatan Replika Ferari Formula 1 (F1) di Desa Bulian


Kreatifitas  Made Sandi Anom, 42, warga Banjar Banua, Desa Bulian, Kecamatan Kubutambahan layak diapresiasi. Ia membuat replika layaknya tunggangan sang pembalap idolanya, Micahel Schumacher dengan menggunakan mesin ATV. Bahkan, pria yang sempat bekerja di Kapal Pesiar ini rela merogoh kocek hingga Rp 30 juta untuk mewujudkan mobil idamannya ini. Seperti apa?



 



I PUTU MARDIKA, Kubutambahan



 



KONDISI pandemi Covid-19 tak membuat Made Sandi Anom berpangku tangan. Demi mengusir jenuh saat dirumahkan akibat pandemic, ia justru berkreasi membuat replika Ferari Formula 1. Mobil buatannya inipun persis menyerupai kendaraan sang pembalap idolanya, Micahel Schumacher.



 



Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group) Minggu (14/2) siang, jika mobil replika F1 ini tengah terpakir rapi di depan rumahnya. Body mobil didominasi warna merah menyala serta dilengkapi berbagai sticker layaknya Tim Ferari.



 



Jika ditelisik, mobil ini menggunakan mesin ATV bertenaga 125 CC. Bahan bakarnya menggunakan pertalite dengan kapasitas 2,5 liter. Suspensi yang digunakan berasal dari Suspensi Sepeda Motor Honda Vario.



 



Body mobil berbahan plat 1,25 mm ini juga menggunakan Gardan milik mobil Suzuki Carry. Jika dihitung, mobil ini memiliki dimensi panjang sekitar 3,5 meter dan lebar 1,4 meter serta tinggi tidak lebih dari 0,75 meter.



 



Sandi menceritakan, ide pembuatan mobil replika F1 ini berawal dari hobbynya yang suka menonton balap Formula 1 sejak tahun 2000-an. Ia lantas mewujudkan mimpinya dengan membuat mobil replika F1 pasca dirumahkan sementara sebagai pekerja kapal pesiar akibat Pandemi Covid-19.



 



Sebagian besar spare partnya ia dapatkan secara online. Baik dari Bukalapak maupun Tokopedia.”Mesin ATV kapasitas 125 CC ini saya beli online seharga Rp 3 juta. Platnya untuk body butuh lima buah. Per plat Rp 400 ribu. Ngerakit sendiri, tetai ada juga dibantu teman yang kebetulan tukang las,” ujarnya saat ditemui seusai menjajal mobil tersebut di Lapangan Desa Bulian.



 



Pembuatan dimulai sejak Bulan Agustus 2020 lalu. Namun, prosesnya diakuinya tidak kontinyu alias bertahap. “Sempat istirahat juga. Kalau tiap hari nonstop dikerjakan paling butuh waktu 2,5 bulan saja sudah tuntas dikerjakan.



 



Pria kelahiran 1 Januari 1978 ini tak menampik ada sejumlah kesulitan yang dialami saat mengerjakan mobil replika ini. Pasalnya, karena mobil tersebut dikerjakan secara manual, sehingga lumayan sulit untuk mencari titik kestabilan antara ban depan dengan kemudi.



 



“Karena kan desainnya sederhana. Apalagi tidak pakai power steering, jadi saat berbelok stir kemudi harus dikembalikan lagi. Beda kalau pakai power steering. Stir berbalik dengan sendirinya ketika berbelok,” imbuh ayah dua anak ini.



 



Begitu tuntas dirakit pada Januari, ia kemudian memutuskan untuk melakukan uji coba. Mobil ini mampu melaju dengan kecepatan 40 km/jam. Setiap satu liter bahan bakar, mampu menempuh jarak hingga 30 kilometer.



 



Lagi-lagi ada sejumlah kendala yang dialaminya. Beberapa kali kawat seling sepeda motor yang digunakan di perseneleng putus. Solusinya, ia pun mengganti kawat seling motor dengan seling mobil sehingga lebih kuat saat digunakan.



 



“Uji cobanya sering dibawa ke wilayah Tajun, seputaran Kubutambahan. Cari jalan yang datar. Paling jauh sampai ke Penarukan, Singaraja. Memang tidak punya surat-surat. Karena kan mesin ATV,” kata anak keempat pasutri Ketut Kayun dan Nyoman Sijin ini.



 



Disinggung terkait perawatan, mobil ini cukup diservis tiap bulannya. Seperti ganti oli dan servis mesin di bengkel sepeda motor. Kendati demikian, Sandi mengaku tidak akan menjual mobil replikanya ini.



 



Bahkan, dalam waktu dekat, ia akan mencoba mengembangkan mesin mobil ini dengan menggunakan mesin Carry sehingga lebih bertenaga. Selain itu, bisa digunakan jarak jauh karena akan disiapkan surat-surat.



 



Saat ini, ayah Luh Indri inipun masih punya mimpi untuk menonton balap F1 secara langsung di Monaco. Terlebih, bekerja di Kapal Pesiar kerap membuat dirinya bisa berkunjung ke negara yang menyelenggarakan balap mobil Formula 1 ini.



 



“Cita-cita sih ingin menonton balap di Monaco. Apalagi sirkuitnya seperti di jalan raya. Bisa nonton dari atas kapal,” pungkasnya.



 



Editor : Chairul Amri Simabur
#bali #f1 #buleleng