Bernama panggung DJ Ratezy, Disc Jockey (DJ) berusia 28 tahun ini mengaku melakukan DJ on the bike lantaran terinspirasi seorang DJ on the bike asal London, Inggris, Dom Whiting.
Aksinya viral, setelah sejumlah akun instagram mengunggah video dirinya dan rombongannya melakukan tur DJ on the bike saat mengisi acara PICA Fest beberapa waktu lalu.
Bayu menceritakan, awal mula ia menggarap DJ on the bike ini lantaran di saat pandemi, ia dan rekannya memutuskan merambah youtube untuk mencari pendapatan lain. Dirinya dan timnya, membuka channel youtube bernama KHE! Entertainment dengan konten-konten seperti podcast, musik, masak-masak hingga games.
Ide-ide menarik terus digalinya, hingga bertemu dengan konten DJ on the bike, Dom Whiting. “Mulanya saya memang seorang DJ dari tahun 2014. Project ini tahun lalu, bermula dari event kami, Party Anak Banjar. Tapi karena ada pembatasan lantaran Covid-19, DJ on the bike ini mangkrak,” kata pria asli Singaraja ini saat ditemui Kamis (18/8).
Kemudian pada 2022 ini, DJ on the bike kembali aktif. Bahkan, ia diundang untuk mengisi acara di PICA Fest. “Event pertama rute kami start dari Jalan Sumatera ke Puputan Badung, Renon, lalu muter balik lagi ke Jalan Sumatera,” terangnya.
Bentuk dari DJ on the bike ini, nyaris seperti becak dengan tiga roda. Papan DJ-nya terletak di atas sepeda gayung. Untuk merakit DJ on the bike ini, Bayu mengaku menghabiskan waktu kurang dari dua minggu. Biayanya pun tidak main-main, ia harus merogoh kocek Rp 50 juta sampai Rp 60 juta.
“Alat-alatnya kami terinspirasi dari DJ on the bike itu, Dom Withing. Kebetulan kami ada tim engineering, kami serahin foto, dibuatkan, lalu jadi,” ungkap laki-laki yang menjabat sebagai Wakil Direktur di KHE! Entertainment ini.
Menjalankan DJ on the bike ini, diakui Bayu, tidak terlalu kesulitan. Namun ia menilai, bagi orang yang belum terbiasa, mungkin terganggu pada keseimbangannya. Sebab sepedanya memiliki berat 50 kilogram, dan ia harus bermain musik sambil mengayuh sepedanya.
“Lumayan ngos-ngosan kalau jalannya ada naikan sedikit, kalau datar tidak sih. Kalau ada naikan itu biasanya dibantu dorong. Jadi keseruannya itu di situ,” katanya.
Diakuinya, DJ on the bike ini pertama kali di Indonesia. Dalam permainannya, ia mengangkat genre drum and bass. Biasanya dalam turnya, ia ditemani komunitas sepeda Bali Twenty Sixth Paradise dan studio sepeda Fiet Culture dengan total sekitar 30 pesepeda.
Tur DJ on the bike rutin digelarnya setiap dua minggu sekali di hari Minggu. “Biasanya rute kami menghabiskan waktu sejam, itu ada sekitar 20 sampai 30 lagu dimainkan, kami mainkan lagu dari DJ lain,” jelasnya.
Soal tarif sebagai DJ on the bike untuk mengisi acara dikatakannya masih terbilang rendah, mulai dari Rp 2,5 juta. “Ini tergantung durasi, tapi kalau sambil sepedaan tergantung rute. Saya lebih suka yang main DJ sambil sepedaan, sih,” katanya.
Menariknya, ia justru baru mulai menyukai bersepeda sejak bermain sebagai DJ on the bike ini. Ditambah pula, ia latah lantaran saat pandemi, hobi sepeda kian hits.