BALI EXPRESS, TABANAN - Selain Taman Ayun, Pulau Bali juga masih memiliki salah stu tempat sebagai situs yang ditetapkan Unesco sebagai warisan budaya dunia, yakni Jatiluwih.
Jatiluwih adalah sebuah desa yang mempunyai daerah hamparan persawahan luas dengan panorama sawah bertingkat yang indah. Letaknya ada di wilayah Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan Bali.
Desa Jatiluwih ditetapkan sebagai salah satu situs warisan budaya dunia karena areal persawahan dengan luas mencapai 636 hektar sawah berbentuk terasering yang dimiliki Desa Jatiluwih ini masih mempertahankan struktur persawahan pada zaman dulu yakni struktur terasering dengan sistem pengairan subak.
Untuk menuju kawasan Jatiluwih yang terletak di lereng Pegunungan Batukaru ini wisatawan yang menginap di Denpasar bisa mencapainya dengan kendaraan bermotor. Waktu tempuhnya sekitar dua jam dari Denpasar.
Untuk memasuki kawasan Jatiluwih, wisatawan akan dikenanakan biaya retribusi sebesar Rp 20 ribu per orang untuk turis lokal dan Rp 50 ribu per orang untuk wisatawan asing.
Raka Aditya, salah seorang pengelola akomodasi pariwisata di kawasan Jatiluwih ketika ditemui beberapa waktu lalu mengatakan kawasan Jatiluwih ini memang cukup terkenal di kalangan wisatawan asing maupun wisatawan domestik yang berlibur ke Bali. “Bahkan Jatiluwih, menjadi salah satu agenda favorit untuk wisatawan asing,” jelasnya.
Dilanjutkan Raka, bagi wisatawan yang sedang berlibur, objek wisata sawah terasering Jatiluwih Bali ini bisa dijadikan pilihan untuk berlibur untuk menikmati keindahan panorama sawah pegunungan yang memikat hati.
Lantas apa yang menarik dan bisa dinikmati di Jatiluwih? Ketika ditanya demikian, Raka menyebutkan aktivitas wisata di Jatiluwih ini memang cukup banyak, seperti bersepeda dan beberapa jenis aktivitas wisata lainnya yang berkaitan dengan alam.
Selain aktivitas bersepeda, wisatawan yang datang ke kawasan Jatiluwih dikatakan Raka wisatawan juga bisa menikmati pemandangan sawah dari beberapa akomodasi wisata yang ada di areal Jatiluwih, “Karena saat ini sudah banyak sekali akomodasi pariwisata yang tersedia di sekitar kawasan wisata Jatiluwih,” lanjutnya.
Yang menarik untuk dinikmati di kawasan Jatiluwih ini selain panorama dan udara yang sejuk khas pegunungan, aktivitas pertanian juga menjadi hal yang bakal memberikan pengalaman baru bagi wisatawan.
Aktivitas pertanian di areal persawahan Jatiluwih masih menggunakan metode pertanian tradisional. Mulai dari proses penggemburan tanah dengan menggunakan bajak, hingga proses penanaman padi yang dilakukan secara gotong royong.
Selain itu yang menarik dari aktivitas pertanian ini dikatakan Raka adalah proses panen padi. Di areal persawahan ini proses panennya juga masih dilakukan secara tradisional. “Bahkan untuk padi Bali organik, proses panennya dilakukan dengan ani-ani,” paparnya.
Selain metode pengelolaan sawah yang menggunakan metode tradisional, Raka menyebutkan, proses pengairan sawah yang digunakan di areal persawahan Jatiluwih ini juga menggunakan sistem pengairan tradisional. Atau dikenal dengan nama subak. Sehingga sistem pembagian air di kawasan ini sangat berpatokan pada sistem musyawarah.
Dalam proses ini Raka menyebutkan aktivtias pengolahan sawah dan pembagian air ini tidak terlepas dengan filsafat Tri Hita Karana. Falsafah tersebut memiliki konsep yang dapat melestarikan keaneka ragaman budaya dan lingkungan yang saling berkaitan.
Sehingga seluruh rangkaian dalam proses pengolahan sawah ataupun proses kehidupan masyarakatnya, selalu berkaitan dengan sang pencipta salah satunya adalah dengan melakukan beberapa upacara yang merupakan bagian dari aktifitas petani seperti, mengolah sawah, menanam padi, memanen, dan sebagainya. “Sesuai dengan budaya dan agama Hindu yang dipeluk oleh sebagian besar petani di Jatiluwih,” terangnya.
Editor : I Putu Suyatra