Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Wisata Danau Yeh Malet; Airnya Disucikan, Bisa Langsung Diminum

I Putu Suyatra • Rabu, 28 Februari 2018 | 15:44 WIB
Wisata Danau Yeh Malet; Airnya Disucikan, Bisa Langsung Diminum
Wisata Danau Yeh Malet; Airnya Disucikan, Bisa Langsung Diminum

BALI EXPRESS, AMLAPURA - Danau Yeh Malet  di Dusun Yeh Malet, Desa Antiga Klod, Kecamatan Manggis, Karangasem mulai menjadi daya tarik wisata. Pengunjung menjadikan objek tersebut sebagai tempat selfie atau sekadar melihat keindahan alamnya.


Penuturan sejumlah warga Yeh Malet, danau tersebut sebenarnya sudah ada sejak kerajaan. Namun lama tak terawat. Eceng gondok dan tumbuhan lainnya pun tumbuh subur di sana. Danau itu terus mengalami pendangkalan. Saat ini kedalamannya  sekitar 1,5 meter. Warga Yeh Malet yang tergabung ke dalam Kelompok Peduli Lingkungan Pembersih Eceng Gondok Danau Yeh Malet, kewalahan membersihkan eceng gondok karena terlalu banyak, dan danau itu terbilang luas, yakni sekitar 7 hektare.


Salah satu anggota kelompok, I Wayan Sudana mengatakan, danau itu menjadi objek wisata berawal dari kepedulian warga yang membentuk kelompok, secara sukarela membersihkan eceng gondok dan tumbuhan lainnya di danau tersebut. Awalnya tidak ada niat menjadikan tempat itu sebagai objek wisata. Mereka hanya sekadar ingin  melestarikan keberadaan danau itu. Kelompok ini biasanya gotong royong membersihkan  eceng gondok tiap Minggu. Setelah eceng gondok mulai dibersihkan, pengunjung pun mulai datang sejak sekitar 1,5 bulan lalu.  Mereka sekadar selfie atau mengabadikan keidahan alamnya. Pengunjung  biasanya ramai saat hari libur.


Keberdaan danau tersebut dikelilingi  tiga bukit. Bukit Catu di sebelah timur laut, Bukit Ceeng di utara dan di sebelah barat, namanya Bukit Tengah. Ketiga bukit tersebut menambah keindahan alamnya.


Kini, untuk menarik kunjungan, kelompok peduli lingkungan mempunyai ide membuat perahu rakit dengan bahan bambu, disewakan untuk pengunjung yang ingin menyusuri danau tersebut. Bayarnya murah, yakni Rp 10 ribu per orang, bisa disewa sepuasnya. Saat ini ada tiga rakit di sana. Ditambah sebuah jembatan menjorok ke danau tempat selfie yang dibuat kelompok lain.


“Kalau sekadar menikmati pemandangan, tidak naik rakit, ya gratis,” tutur Sudana dibenarkan warga lainnya, I Nyoman “Kocong” Sarianta.


Sudana mengaku tak tahu pasti sejarah danau tersebut. Berdasarkan cerita leluhurnya, PNS di Pemkab Karangasem itu menuturkan, danau tersebut sudah ada sejak zaman kerajaan. Dulunya, air danau dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari warga sekitarnya. Termasuk untuk mengairi sawah petani. Pria berusia 45 tahun ini juga mengakui waktu kecil sering mandi di sana. Danau tersebut mulai tak terurus sejak sekitar tahun 80-an.  Secara perlahan, warga tak memanfaatkan airnya untuk mengairi sawah lantaran cost-nya terlalu tinggi karena posisi danau dengan sawah hampir sejajar.  


“Lahan yang dulunya sawah sekarang  sudah jadi tegalan,” imbuh Sudana.


Dari mana sumber air danau ini? Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), baik Sudana maupun Kocong menegaskan  ada sumber air klebutan di sebelah timur laut danau itu. Begitu pula di sebelah danau yang saat ini berdiri Pura Subak Abian Sri juga ada sumber mata air.


“Saya memperkirakan lebih banyak lagi sumber mata airnya tapi mungkin ada di tengah danau,” jelas Sudana.


Meskipun memperkirakan banyak mata air, danau itu juga biasa surut.  Terutama saat musim kemarau, bisa sampai kering. Musim hujan, ada lagi airnya. Air danau juga disucikan warga setempat. Saat piodalan di pura paibon, sejumlah warga Yeh Malet nunas tirta di sana. Yakni di bagian timur laut yang diyakini sumber mata air danau itu. “Sampai sekarang keluarga saya kalau ada piodalan di rumah, nunas tirta di sana,” aku Sudana sambil menunjuk ke arah timur laut.


Makanya, ketika nanti danau itu dikelola  Pemkab Karangasem, dijadikan objek wisata, maka wilayah yang diyakini sebagai sumber mata air, tempat nunas tirta itu bakal diberikan  tanda sehingga tak sembarang orang masuk ke areal tersebut.


Pengunjung yang datang juga diwanti-wanti mentaati aturan. Di antaranya, dilarang mengucapkan kata-kata tidak sopan, terutama saat berada di tengah danau.  Wanita yang sedang datang bulan tidak diperkenankan naik perahu rakit menyusuri danau tersebut.


“Karena airnya disucikan. Lihat ni, kami biasa minum langsung airnya,” ungkap Sudana seraya minum langsung air danau itu.


“Hampir setiap tamu yang datang, saya sampaikan bahwa air ini disucikan dan bisa langsung diminum.  Ada pengunjung langsung ikut minum juga,” pungkasnya. 

Editor : I Putu Suyatra
#karangasem