Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Rumah Bandung Rangki di Desa Pedawa Mirip Rumah Adat Suku Kei

Nyoman Suarna • Selasa, 7 Juli 2020 | 00:42 WIB
Rumah Bandung Rangki di Desa Pedawa Mirip Rumah Adat Suku Kei
Rumah Bandung Rangki di Desa Pedawa Mirip Rumah Adat Suku Kei


Rumah adat Desa Pedawa yang disebut Bandung Rangki secara arsitektur memang terlihat begitu sederhana. Tetapi memiliki banyak makna filosofis yang terdapat di dalamnya sebagai representasi kebudayaan orang Pedawa. Dari sisi struktur dan fungsi, Bandung Rangki juga memiliki kemiripan dengan Rumah Adat Suku Kei, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku.



 



ROMBONGAN Bupati Maluku Tenggara begitu terharu ketika melihat rumah adat Bandung Rangki milik Wayan Sukrata, 66. Pria pensiunan guru itu menceritakan, orang-orang Kei menyebut, rumah adat Bandung Rangki dan rumah adat Suku Kei memiliki kesamaan dari sisi bentuk dan fungsi.



Sukrata menjelaskan, di dalam rumah Bandung Rangki terdapat bija ratus yang berisi jali, jagung gembal (sorgum), jagung dan pangan lokal lainnya yang dipasang di dinding rumah. Sebab, pangan tersebut kerap dijadikan sarana upacara oleh masyarakat Pedawa saat mecaru.



“Nah ternyata di dalam rumah adat Suku Kei juga begitu katanya. Sehingga mereka begitu terharu melihat banyaknya kesamaan. Dapur juga di dalam rumah, aktivitas bersembahyang juga di dalam rumah,” ujar Sukrata.



Dikatakan Sukrata, rumah Adat Bandung Rangki memiliki konsep Ulu Teben, bukan konsep Tri Mandala. Pun dengan di areal pekarangan, yang hanya ada ulun teben. “Dari tata ruang, konsep rumah adat Bandung Rangki itu Ulu-Teben artinya tidak konsep Tri Mandala. Jadi ulun teras dan ulen batis. Begitu juga di pekarangan ada ulun dan teben. Sangat sederhana,” tuturnya.



Secara struktur rumah ini ditopang oleh delapan belas tiang atau saka yang berbahan kayu. Dindingnya berbahan anyaman bambu atau lazim disebut bedeg. Sedangkan atapnya juga berbahan bambu yang dianyam. Kemudian lantainya hanya dibuat dari tanah liat dan susunan bebatuan.



“Seluruh bahan dari alam. Bahan baku, utamanya adalah kayu, bambu dan ilalang serta pohon pinang. Kayu utama seperti kayu base, kayu kwangitan, kayu cempaka. Lantainya tanah batu dan paras,” jelasnya.



Sukrata menyebut rumah adat Bandung Rangki ini memiliki fungsi-fungsi tersendiri yang sangat unik dan sangat dipengaruhi oleh kepercayaan masyarakat setempat dan juga pola kehidupan mereka.



“Rumah adat Pedawa hanya satu kamar. Namun ada dua tempat tidur. Yaitu, tempat tidur orang dewasa dan anak-anak. Tapi dalam satu ruangan. Termasuk dapurnya di sana, tempat makan di sana, memasak, orang melahirkan, dan orang meninggal mayatnya juga dimandikan di dalam rumah,” bebernya.



Fungsi-fungsi yang ada pada rumah meliputi fungsi-fungsi dasar pada rumah tinggal namun semuanya menyatu dalam sebuah bangunan rumah tradisional Pedawa. Sebagai tempat istirahat, di dalam rumah adat ini terdapat dua buah tempat tidur yang menyatu dengan tiang yang menyangga bangunan.



Bale Gede atau Pedeman Gede yang berfungsi untuk tempat tidur orang tua dan juga sebagai Bale Banten pada saat ada upacara keagamaan maupun untuk tempat menidurkan mayat jika ada kematian. Sedangkan Bale Cenik atau Pedeman Alit yang berfungsi sebagai tempat tidur anak.



Kedua jenis tempat tidur ini memiliki perbedaan ukuran, Pedeman Gede memiliki ukuran yang lebih besar dari Pedeman Alit di Bandung Rangki. Pedeman Gede memiliki pelangkiran di atas bale. Pelangkiran ini berfungsi untuk memuja leluhur masing-masing.



“Orang melahirkan juga di dalam rumah. Ritual ketika anak baru lahir, kepala bayi itu diayun untuk dibenturkan secara perlahan-lahan di kayu waton tempat tidur. Mengapa? Karena bayi itu dianggap sebagai titisan seorang prajurit. Yen mati-mati kau jani, yen hidup-hidup makelantas (jika mati – matilah sekarang, kalau hidup, hidup seterusnya). Makna filosofisnya adalah agar orang Pedawa kuat dalam menjalani hidup,” tuturnya.



Selain dijadikan sebagai tempat istirahat, di dalam rumah juga difungsikan sebagai dapur untuk memasak dan membuat gula aren. Dikatakan Sukrata, dapur yang dikenal dengan paon terdiri tiga bagian penting, yaitu Paon Tuak yang berukuran paling besar, Paon Jakan yang berukuran sedang dan Irun yang berukuran sedikit lebih kecil dari Paon Jakan.



Di atas Paon terdapat rak-rak yang terbuat dari kayu bernama Lancat dan Penapi. Kelengkapan dapur lainnya adalah Penukub (loteng) yang berada pada plafond dekat dengan dapur yang berfungsi sebagai tempat menyimpan makanan yang sudah dimasak.



Sedangkan dari fungsi sosial, sambungnya, ruang dalam yang merupakan ruang kosong yang berada di tengah-tengah rumah tradisional, di samping sebagai area sirkulasi dalam rumah, juga merupakan area bersama yang dapat dipergunakan untuk bercengkrama dengan sesama penghuni rumah atau menerima sanak saudara yang datang.



Kemudian, ruang tambahan yang befungsi sebagai area penerima tamu ataupun ruang bersantai sambil mengerjakan pekerjaan rumah disebut dengan terempang atau teras depan. “Tata ruangnya itu sangat kekeluargaan. Sebab rumah adat yang dibangun dalam satu keluarga akan menentukan rumah adat yang lain,” imbuhnya.



Di dalam rumah mungil ini juga wajib terdapat Pelangkiran yang berfungsi untuk memuja leluhur masing-masing keluarga, yang terdapat di dalam rumah di atas Pedeman Gede. Sedangkan kegiatan keagamaaan yang diwadahi di luar rumah yang masih satu natah atau di halaman rumah tradisional ini adalah adanya sebuah merajan kecil yang terbuat dari bambu yang disebut dengan Sanggah Kemulan Nganten. Setiap warga yang sudah berumah tangga wajib membuat Kemulan Nganten.



“Pelangkiran orang Pedawa juga tidak sembarangan. Sebab, ketika mendirikan pelangkiran ada hubungannya dengan sanggah kemulan. Sebelum membuat sanggah kemulan nganten, tidak boleh membuat pelangkiran. Karena perlu membuat upacara yang sarananya adalah isin gunung maupun isin segara. Seperti daging kidang yang sulit dicari,” akunya lagi.



Di dalam rumah juga terdapat ruang penyimpanan. Ruang ini merupakan area tambahan yang letaknya di sebelah teras depan atau Terempang. Ruangan ini disebut dengan Sepen. Biasanya berfungsi untuk tempat menyimpan alat-alat persembahyangan dan juga beberapa barang yang sekiranya perlu untuk disimpan.



Terdapat juga bangunan yang disebut dengan Jineng (lumbung) yang posisinya berada di depan rumah yang befungsi untuk menyimpan hasil panen padi bagi penduduk yang berprofesi sebagai petani.



“Jadi rumah itu bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga sebagai tempat upacara. Hari Raya Galungan, Kuningan, nyerimpen juga dilakukan di dalam rumah. Tidak ada leteh. Setelah saya tanya kepada orang tua, katanya karena di dalam rumah sudah ada api sebagai sarana pembersihan, ada air yang juga sebagai sarana pembersihan sehingga tidak lagi leteh,” aku pensiunan guru Agama Hindu ini.



 Lalu menapa hanya ada satu ruangan? Menurutnya, kalau orang mau berkeluarga, maka diisyaratkan lagi untuk membuat rumah adat sehingga rumah adat tetap lestari. Terlebih, membangun satu unit rumah adat Bandung Rangki membutuhkan biaya tak sedikit.



“Rumah adat saya ini terwujud atas adanya donatur dari seseorang yang peduli terhadap budaya Pedawa. Hingga kini jumlah rumah adat yang ada di Pedawa sebanyak 27 buah. Kesulitan di bagian atap,” jelasnya.



“Sebab selain rumit, biayanya juga lumayan besar bahkan hampir Rp 18 juta bikin atap saja. Karena jasa pembuat genteng kini langka. Kalau satu unit rumah adat bisa menelan biaya Rp 125 juta,” pungkasnya.



Editor : Nyoman Suarna
#singaraja