Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tidak di Kayu, Batu Atau Tanah, Tuhan Ada di Bhakti

I Komang Gede Doktrinaya • Jumat, 23 April 2021 | 13:39 WIB
Tidak di Kayu, Batu Atau Tanah, Tuhan Ada di Bhakti
Tidak di Kayu, Batu Atau Tanah, Tuhan Ada di Bhakti

DENPASAR, BALI EXPRESS-Umat Hindu menggunakan simbol dalam pemujaan kepada Tuhan. Simbol-simbol ini dapat berupa benda maupun aksara. 


Simbol berupa benda, misalnya berbentuk patung atau pratima. Sementara aksara, biasanya dalam bentuk aksara suci yang dianggap memiliki energi tertentu yang membantu khusuknya konsentrasi.


Nah, penggunaan benda sebagai simbol ini terkadang membuat orang yang tak paham menjadi salah kaprah. Muncul anggapan bahwa umat Hindu memuja patung atau berhala.


Ketua Umum Aliansi Pemuda Hindu Bali (APHB) I Wayan Suartika, S.Ag., M.Ag menjelaskan, anggapan umat Hindu menyembah patung adalah hal keliru. Dikatakan, patung yang dimaksud hanya simbol dari kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. 


“Orang yang tidak memahami cara kita sembahyang kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa memang kadang-kadang (beranggapan) begitu. Karena pada intinya itu adalah simbol untuk memudahkan kita memusatkan konsentrasi. Pada umumnya, ketika kita manusia berusaha menitikfokuskan sesuatu, perlu bantuan alat,” ungkapnya, kemarin,


menanggapi penyampaian mualaf Desak Made Darmawati yang mengatakan umat Hindu menyembah patung, berhala, bahkan pohon beringin.


Menurut Magister Brahma Widya lulusan IHDN Denpasar (kini UHN I Gusti Bagus Sugriwa) tersebut, benda-benda yang digunakan sebagai simbol dalam pemujaan ibaratnya seperti jembatan yang mengantarkan konsentrasi umat saat sembahyang. 


Dengan benda-benda tersebut, lanjutnya, umat bisa mencurahkan pikirannya kepada Tuhan. Sebab, dalam Hindu ada konsep Nirguna dan Saguna Brahman. Nirguna Brahman adalah Tuhan yang tak terbayangkan oleh alam pikir manusia atau transenden. 


Sementara Saguna Brahman adalah Tuhan yang berusaha digambarkan oleh manusia dengan berbagai bentuk atau imanen.


Terkait hal itu, dibuatlah benda dengan bentuk tertentu yang dianggap menggambarkan kekuasaan Tuhan. Ada pula yang berbentuk patung dewa maupun dewi. Dibuat juga palinggih sebagai simbol stana Tuhan. Sehingga tak heran kadang palinggih dibuat sedemikian menarik, karena kecintaan umat terhadap Tuhan. “Jadi ada palinggih,” katanya.


Soal penggunaan simbol berupa benda disinggung dalam Canakya Niti Sastra. Dalam Niti Sastra VIII.11 dinyatakan, na devo vidyate kasthe na pasane na mrnmaye, bhave hi vidyate devastasmadbhavo hi karanam. Artinya, adalah Tuhan tidak di dalam kayu, batu atau tanah. Tuhan ada di dalam bhakti. Oleh karena itu, bhakti adalah sebab dari segalanya.


Berdasarkan sloka tersebut, benda yang dibuat manusia sebagai simbol, baik berbahan kayu, batu, tanah dan sebagainya akan percuma, jika manusia yang memanfaatkkannya untuk pemujaan tak punya rasa bhakti kepada Tuhan. Sehingga rasa bhakti kepada Tuhan adalah inti dari pemujaan dengan dibantu simbol-simbol tersebut.


Hal ini ditegaskan sloka 12 yang menyatakan, kasthapasanadhatunam krtva bhavena sevanam, sraddhaya ca tatha siddhistasya visnoh prasadatah. Artinya, yakni Tuhan bisa disembah lewat murti-Nya dari kayu, batu dan benda lain, asal disertai dengan rasa bhakti dan sraddha atau keyakinan yang tidak berubah. Akibat pelayanan yang dilakukan dengan penuh bhakti dan sraddha, sembahyang kepada-Nya berhasil.


Suartika tak memasalahkan jika ada orang di luar umat Hindu yang tak mengerti hal itu. Hal tersebut menurutnya wajar. Namun umat Hindu, khususnya generasi muda diharapkan memahami hal ini. 


“Jadi, terkadang kita perlu alat untuk memusatkan konsentrasi. Seperti generasi muda, yang kadang pikiran kita buyar. Nah, alat ini diperlukan agar kita lebih mudah memusatkan pikiran,” ujarnya.


Di samping itu, ada pula yang menganggap umat Hindu memuja pohon. Sebab di pohon tertentu terkadang diletakkan sesajen. Selain itu, pohon tersebut juga dibalut dengan kain layaknya manusia. 


Suartika menegaskan, perlakuan tersebut tak lepas dari wujud terima kasih umat Hindu kepada alam. Salah satunya pohon yang sangat berjasa. Mulai dari menghasilkan oksigen, sebagai tempat berteduh, menjaga kekuatan tanah, dan sebagainya. 


“Jadi ini adalah wujud rasa terima kasih kita kepada pepohonan itu. Karena umat Hindu diajarkan untuk mewujudkan harmonisasi dengan alam lewat ajaran Tri Hita Karana,” tandas pria asal Besakih, Karangasem tersebut.


Dengan demikian, keberadaan pohon tersebut sangat dihormati umat Hindu. Jadilah diberikan kain agar tak diperlakukan sembarangan oleh manusia. “ Para leluhur kita, walaupun tak secara ilmiah mengajarkan cara merawat alam dan lingkungan, namun secara langsung memberikan contoh dengan tindakan nyata,” pungkas alumni KMHDI ini.





Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#hindu #tradisi