SINGARAJA, BALI EXPRESS - Gunung dan laut sangat disucikan umat Hindu di Bali. Tidak berlebihan, gunung dan laut sebagai bagian dari unsur Sad Kerti senantiasa erat dengan kehidupan ritual. Sejumlah pustaka suci Hindu pun memaparkan beragam konsep penyucian gunung dan laut.
Dosen Penerangan Agama Hindu, STAHN Mpu Kuturan Singaraja Nyoman Ariyoga mengatakan, dalam konsep Hindu disebutkan bahwa gunung merupakan lingga-acala atau lingga yang tidak bergerak. Lingga stana dari Dewa Siwa saat dilaksanakan pemujaan. Dalam perkembangannya, bentuk lingga kini menjadi padmasana. Sedangkan samudra (segara) adalah simbol yoni (alas dari lingga). Dengan demikian gunung (giri) dan laut (segara) merupakan simbol dari lingga yoni (purusa-pradana). “Itulah sebabnya dalam kehidupan masyarakat Bali khususnya yang beragama Hindu, gunung dan laut adalah tempat yang disucikan untuk penyelenggaraan upacara-upacara suci keagamaan,” jelas Ariyoga kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Akademisi asal Desa Bakbakan, Kecamatan/Kabupaten Gianyar ini menerangkan, dalam Teks Siwagama mitologi mengenai gunung dan laut dikisahkan jika dahulu keadaan Bhuwana Agung atau alam semesta beserta isinya dalam keadaan rusak berat. Tidak ada air mengalir, tanah kering kerontang, tumbuh-tumbuhan tidak ada yang hidup, udara sangat kotor, penuh dengan polusi. Kerusakan alam itu menimbulkan penderitaan yang sangat parah bagi kehidupan umat manusia beserta makhluk lainnya.
Kondisi ini membuat Bhagawan Manu memohon ke hadapan Sang Hyang Widhi agar berkenan menyelamatkan kehidupan di bumi. Permohonan Bhagawan Manu itu dikabulkan oleh Sang Hyang Widhi. Dengan segera Dewa Dewa Brahma, Dewa Wisnu, Dewa Siwa turun ke dunia untuk mengatasi kerusakan alam beserta isinya. Dewa Brahma turun ke dunia menjelma menjadi Naga Ananta Bhoga masuk ke dalam tanah memperbaiki struktur keadaan tanah yang sudah rusak. Akhirnya tanah kembali menjadi subur, tempat tumbuhnya sarwa tumuwuh atau aneka tumbuh-tumbuhan yang menjadi sumber makanan yang tiada habisnya bagi keperluan makhluk hidup.
Kemudian Dewa Wisnu turun ke dunia menjelma menjadi Naga Bhasuki. Mulut naga itu masuk ke bumi menjadi laut (samudra) dan ekornya menjadi gunung beserta hutannya. Apabila kepalanya digerakkan air laut akan menguap, akhirnya sampai di gunung menjadi mendung dan turun hujan, yang ditampung oleh hutan. Air yang ditampung di hutan itulah yang menjadi danau dan sungai. Dari air itu umat manusia dapat mengembangkan pertanian, perkebunan, dan berbagai sarana yang membutuhkan air. Sehingga manusia mendapatkan kemakmuran dan kesejahteraan.
Sedangkan Dewa Iswara turun ke dunia menjelma menjadi Naga Taksaka yaitu naga bersayap. Naga Taksaka terbang ke angkasa membersihkan udara karena polusi. “Dengan turunnya Dewa Tri Murti ke dunia, maka selamatlah alam ini,” ungkapnya.
Keberadaan gunung dan laut, dalam Teks Siwagama ini mencerminkan sumber kemakmuran bagi manusia. Hal inilah kian menumbuhkan sikap hormat manusia untuk melestarikan sumber alam tersebut, dengan jalan tidak mencemari laut dan merusak kelestariaan gunung beserta hutannya. “Jadi kalau kita mencemari laut, berarti kita mengotori mulut Naga Bhasuki penjelmaan Dewa Wisnu. Demikian pula kalau kita merusak gunung dan hutannya berarti kita merusak ekor naga tersebut,” paparnya.
Editor : I Putu Suyatra