BULELENG, BALI EXPRESS- Panen raya buah manggis di wilayah Kecamatan Busungbiu, Buleleng, Bali tak serta merta membuat petani semringah. Itu karena harga manggis anjlok.
Terbaru harga manggis di tingkat petani di wilayah Busungbiu hanya Rp5.000 per kilogram.
Anjloknya harga manggis bukan karena sedang bersaing dengan buah lain seperti mangga, durian dan rambutan.
Namun karena disebabkan oleh musim kemarau berkepanjangan akibat El Nino. Buah manggis menjadi kecil sehingga berdampak terhadap harganya.
Seperti dikeluhkan oleh Wayan Nika, 60. Petani sekaligus manggis ini merasakan dampaknya mersosotnya harga manggis tersebut.
Menurutnya, anjlok harga manggis seolah menjadi ‘nyanyian’ sedih bagi petani saat panen raya.
Manggis kulitas bagus akan lolos sortir dan layak untuk diekspor. Namun jumlahnya paling banyak hanya 10 persen dari hasil panen dengan harga tembus Rp 30 ribu per kilogramnya.
Selebihnya, sekitar 90 persen itu buah manggis bekas sortiran yang akan dijual ke pasar lokal.
Harganya di kisaran Rp5.000 sampai Rp10.000. “Ukurannya kecil, dan itu hanya bisa dijual di pasar lokal. Tentu anjlok harganya. Apalagi juga musim buah seperti ada mangga, durian, rambutan, juga berpengaruh,” keluhnya.
Nika menjelaskan, dari satu pohon manggis bisa menghasilkan satu kwintal manggis dalam sekali panen.
Setiap petani di Busungbiu rata-rata memiliki 10 hingga 15 pohon manggis di kebunnya yang ditanam dengan pola tumpang sari.
“Buah manggis sekarang kualitasnya lebih buruk, karena memang diakibatkan musim kemarau yang cukup panjang membuat kualitas manggis menjadi rusak dan ukuran buahnya menjadi lebih kecil dari pada tahun sebelumnnya,” imbuhnya.
Hal senada juga diakui Ketut Suratini, 55 selaku penjual manggis di pasar. Ia tak menampik para pembeli sepi peminat.
Selain itu, pembeli banyak yang kurang tertarik melihat ukuran buah manggis yang sangat kecil.
“Rasanya memang sangat manis, tetapi hanya kalah di ukurannya sangat kecil. Pasti kurang menarik. Mungkin ada yang membeli karena untuk kebutuhan upacara agama saja,” paparnya.
Atas kondisi ini, Suratini berharap pemerintah baik kabupaten maupun provinsi dapat mencarikan solusi untuk hal ini, seperti membuat tempat pengolahan manggis beserta produk- produk turunannya, sehingga harganya bisa lebih stabil.
Editor : I Made Mertawan