Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

FBP Badung Usung Angajap Lango karena Budaya Modal Dasar Pembangunan

I Putu Suyatra • Sabtu, 15 Juli 2017 | 01:41 WIB
Photo
Photo



BALI EXPRESS, MANGUPURA - Festival Budaya Pertanian (FBP) Kabupaten Badung yang ke-6 akan dilaksanakan mulai Sabtu (15/7) hingga Selasa (18/7) di Jembatan Tukad Bangkung, Desa Pelaga, Petang, Badung. Festival yang mengeksplorasi hasil pertanian 'Gumi Keris' ini rencananya akan dibuka langsung oleh Bupati Badung, I Nyoman Giri Prasta, S.Sos bersama Wakil Bupati, Drs. I Ketut Suiasa, S.H pada pukul 10.00.


Bupati Giri Prasta, Jumat (14/7) kemarin menyatakan pihaknya betul-betul ingin mengajak masyarakat Badung untuk bangga menjadi petani melalui FBP yang digelar setiap tahun ini. "Dengan Festival Budaya Pertanian ini, kami akan wujudkan masyarakat benar-benar bangga menjadi petani," ungkapnya.


Berbagai program pro pertanian dan petani pun telah digulirkan oleh Giri Prasta melalui Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana (PPNSB) semenjak dirinya menjabat. Berbagai subsidi dan asuransi diberikan kepada petani. Termasuk baru-baru ini, pihaknya membebaskan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) bagi masyarakat Badung. Hal ini dilakukan tidak lepas dari harapannya menekan keinginan masyarakat Badung, khususnya petani untuk menjual tanahnya.


Selanjutnya, pihaknya juga sedang memetakan daerah yang cocok terhadap jenis tanaman pertanian tertentu. Sehingga nantinya, tanaman yang sesuai dengan jenis tanah dan iklim setempat akan menghasilkan produk pertanian yang optimal.


"Kami sedang berhitung soal konsep One Village One Product (OVOP). Nanti akan ada kawasan yang cocok untuk nanas misalnya, manggis, jeruk, dan sebagainya," terangnya.


Di samping itu, hari ini juga rencananya akan ada penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemerintah Kabupaten Badung dengan PT Pura Agro Mandiri dari Kudus terkait pengadaan Controlled Atmosphere Storage (CAS). "Kami juga akan bekerja sama dengan PT Pura, kaitannya dengan Controlled Atmosphere Storage sehingga nanti ada sarana prasarana yang bagus dalam bidang pertanian," paparnya. Gudang penyimpanan hasil pertanian ini dinilai sangat bermanfaat untuk menjaga stabilitas ketersediaan hasil pangan, karena bisa menyimpan berbagai hasil pertanian, baik sayur maupun buah hingga enam bulan. Biayanya pun diklaim murah, yakni per kg hasil pertanian per bulan, hanya Rp 1000. 


Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, IGAK Sudaratmaja selaku pelaksana acara, sebelumnya menyatakan FBP sangat berpengaruh terhadap penguatan ekonomi yang berbasis sektor pertanian. Dari MoU Kabupaten Badung tahun 2016, tercatat nilai riil transaksi mencapai lebih dari Rp 3 miliar untuk lima pengusaha. Sedangkan MoU yang melibatkan antar kabupaten, khususnya antara Badung, Tabanan dan Buleleng untuk komoditas beras dan kakao mencapai lebih dari Rp 9,1 miliar. 


Adapun nilai transaksi tersebut meliputi, Kopi Madu Made Petang  : Rp209.000.000, Jambu Merah Rp. 137.500.000, Jambu Kristal Rp44.000.000, Kopi Mekar Buana Rp465.000.000, Beras Organik dan Beras Sehat Rp398.277.200, Transaksi Sayur Rp 1.830.000.000, Beras Kabupaten Tabanan Rp8.550.000.000, dan Kakao (Buleleng, Tabanan dan Badung) Rp 576.000.000,.


FBP kali ini akan mengusung tema 'Angajap Lango' atau mendambakan seni. Tema tersebut, kata dia mengingat seni dan budaya adalah sebagai modal dasar pembangunan. “Sering kita dengar bahwa dalam membangun Badung (untuk semua aspek kehidupan), harus dilakukan dengan pendekatan budaya. Dengan demikian, pendekatan budaya merupakan tagline pembangunan Badung saat ini,” ujarnya.


Agenda FBP keenam tahun 2017 ini mencakup beberapa kegiatan seperti pawai budaya pertanian, pameran produk pertanian, lomba kuliner, lomba teknik dan materi penyuluhan pertanian, mengukir buah, menganyam topi kelangsah, merangkai bunga, membuat gebogan, lomba menggambar, lari gembira 3K (run fun 3 K), lomba hidroponik mini, pentas seni, lomba ogoh-ogoh, pasar rakyat dan sebagainya. Dari serangkaian lomba tersebut, katanya, terlihat kegiatan yang bernuansa tradisional bersanding dengan yang modern. (bea)

Editor : I Putu Suyatra
#badung