GIANYAR - Posisi Ubud sebagai destinasi terbaik dunia mengalami penurunan. Sebab, berdasarkan survei Travel & Leisure posisi Ubud turun dari peringkat tiga dunia menjadi posisi kesembilan tahun ini. Salah satu penyebabnya adalah macet.
Kekhawatiran beberapa pihak terhadap kondisi Ubud yang sudah mengalami macet parah di hampir semua ruas jalan utamanya, plus kondisi infrastruktur trotoar yang hancur, serta masalah kebersihan akhirnya benar-benar berimbas pada citra tempat ini. Pasalnya rangking Ubud dalam peringkat destinasi terbaik dunia versi Travel & Leisure tahun ini anjlok. Jika tahun lalu Ubud disebut menempati posisi ketiga dunia sebagai the best destination, tahun ini turun jauh ke peringkat sembilan dunia. Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pariwisata Gianyar AA Bagus Ari Brahmanta kemarin (18/8).
“Masalah yang dihadapi Ubud saat ini memang harus benar-benar segera mendapatkan penanganan. Karena dari informasi yang saya dapatkan, dalam jajaran the best destination dunia, posisi Ubud yang tahun lalu ada di peringkat ketiga, sekarang berada di peringkat sembilan, jauh mengalami penurunan,” ucapnya.
Dikatakan olehnya hasil survei tersebut berdasarkan skor yang diperoleh Ubud dari hasil jajak pendapat yang dilakukan kepada para pelancong dan wisatawan yang mengunjungi Ubud. Pertanyaan kepada wisatawan itu pun tak hanya kepada mereka yang baru merencanakan liburan, tapi juga pada wisatawan yang sudah berlibur di destinasi tersebut.
Mengenai apa saja yang menjadi keluhan para traveler yang membuat peringkat Ubud terjun bebas, pria yang juga pengusaha wisata di Ubud, ini menyebut, ada beberapa faktor.
“Tapi yang paling krusial dan sangat mempengaruhi wisatawan itu ada tiga hal. Pertama masalah kemacetan, kemudian masalah infrastruktur khususnya trotoar untuk pejalan kaki, dan saluran drainase. Terakhir itu masalah kebersihan. Ketiga itu yang paling banyak mendapat sorotan traveler,“ bebernya.
Dengan kondisi itu, diakui olehnya pada Senin (21/8) nanti Dinas Pariwisata bersama para pihak lainnya seperti PHRI, Asita, dan lainnya bakal menggelar rapat khusus membahas masalah yang dihadapi Ubud.
Disinggung mengenai langkah yang harus dilakukan terhadap Ubud, menurut pria ini, ada dua tahap penataan dan perbaikan yang harus Ubud lakukan. Untuk jangka panjang yakni masalah infrastruktur, khususnya pemenuhi central-central parkir, dan dilanjutkan dengan penyediaan shutle bus free transportation. Sehingga bus-bus yang mengangkut wisatawan tak sampai masuk ke kawasan Ubud.
“Jadi solusi jangka panjangnya memang harus memperbanyak kantong parkir. Caranya harus mempergunakan fasilitas umum yang dibangun pemerintah. Jadi pemerintah harus berani investasi dana pembuatan parkir, selain itu penggunaan parkir milik swasta. Kemudian dengan penyediaan shuttle bus free transportasion, sehingga bus dan angkutan wisata dilarang masuk Ubud,” paparnya.
“Tapi itu jelas butuh waktu yang panjang untuk membangunnya, setidaknya tiga sampai lima tahun ke depan. Sehingga perlu penanganan jangka pendek. Karena dalam waktu singkat, Ubud terancam macet total,” imbuhnya.
Jangka pendek tersebut seperti membenahi manajemen traffic. Kemudian pelarangan parkir di badan jalan, khususnya roda empat. Lantaran roda empat, ketika hendak masuk dan keluar dari areal parkir di badan jalan memerlukan waktu lama yang mengakibatkan macet panjang. Kemudian perlunya pengaturan waktu angkutan masuk ke Ubud, termasuk angkutan barang.
“Langkah itu, untuk jangka pendek sedikit tidaknya mengurangi beban jalan. Karena perlu diketahui, untuk satu restoran atau hotel, berapa jenis kendaraan angkutan barang yang datang memenuhi kebutuhannya. Tapi dengan cara ini, semua pihak harus terlibat, mau tidak mau harus dilaksanakan. Kalau tidak seperti itu, ya dalam waktu dekat, Ubud akan macet total,” pungkasnya.
Seperti diketahui, dengan kondisi Ubud yang terus berkembang, seiring status sebagai salah satu kawasan wisata dunia, membuat minat wisatawan untuk berkunjung terus meningkat. Hal itu berdampak pada jumlah objek wisata di kawasan itu yang terus bertambah. Tak hanya objek wisata, sarana akomodasi dan sarana pariwisata lainnya pun ikut menjamur, salah satunya yang kini kian banyak berdiri yakni tempat-tempat kuliner. Kondisi itu turut membuat jumlah angkutan dan kendaraan yang menuju ke Ubud meningkat, termasuk jumlah karyawan yang kian berjubel menuju ke kawasan kampung turis itu. Sayangnya perkembangan itu tak dibarengi dengan manajemen dan penataan kawasan, terlebih sarana infrastruktur seperti jalan dan trotoar yang hanya berjalan di tempat.
Editor : I Putu Suyatra