BALI EXPRESS, DENPASAR - Pengembangan Kota Hijau (P2KH) merupakan program Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang bekerjasama dengan 31 Pemerintah Kabupaten/Kota di Indonesia. Dalam mendukung progran tersebut, Forum Komunitas Hijau Denpasar, Kotaku Bali, Seniman Pojok dan PPLH Bali menggelar kegiatan clean up sungai dan workshop dengan Tema “Menuju Denpasar Kota Hijau” di Sungai Taman Pancing, Desa Pemogan, Denpasar kemarin (22/12).
Pada acara yang dirangkaikan dengan Deklarasi Bersama Menuju Kota Hijau ini turut dihadiri Wakil Walikota Denpasar IGN Jaya Negara didampingi Kadisbud Denpasar IGN Bagus Mataram, serta masyarakat dari berbagai komunitas pecinta lingkungan. Dalam acara tersebut juga turut digelar pameran mural oleh komunitas Pojok.
Ketua Forum Kota Hijau (FKH) Kota Denpasar, Catur Yudha Hariani mengatakan, FKH ini merupakan suatu wadah yang beranggotakan kelompok masyarakat penggiat dan peduli lingkungan, instansi pemerintah, LSM, swasta dan sekolah. FKH diperlukan sebagai upaya untuk menciptakan sebuah kota hijau yang berkelanjutan dalam segi lingkungan, ekonomi, dan sosial budaya.
Dijelaskan pula, kota hijau merupakan salah satu alternatif solusi terkait dengan dampak perubahan iklim. Konsep menuju rencana aksi merupakan program rintisan dari Kementerian Pekerjaan Umum bekerja sama dengan Pemprov dan Pemkab/Pemkot. “Tahapan awal perwujudan kota hijau ini terfokus pada tiga atribut, yakni perencanaan dan desain hijau, ruang terbuka hijau dan komunitas hijau,” kata Catur
Menurutnya, upaya perwujudan kota hijau dapat dilakukan dengan tercapainya delapan atribut, yang memerlukan peran, dukungan dan komitmen seluruh stakeholder, yaitu masyarakat, Pemda/Pemkot, swasta, dan sektor lain. Adapun kegiatan ini meliputi clean up sungai, pameran mural terkait isu lingkungan, dan workshop dengan tema Menuju Denpasar Kota Hijau.
“Kami berharap dengan adanya kegiatan ini, masyarakat bisa lebih tergugah untuk ikut melakukan pelestarian air sungai, serta melakukan aksi bersih lingkungan, dan yang terpenting masyarakat ikut berpartisipasi di dalamnya,” kata Catur.
Terkait dengan kegiatan tersebut, Wakil Walikota Denpasar IGN Jaya Negara pun menyatakan dukungannya. Terlebih program pengembangan kota hijau ini dimaksudkan sebagai upaya mendorong terwujudnya Kota Denpasar yang hijau, khususnya melalui peningkatan peran masyarakat. Sekaligus untuk membangun kesadaran masyarakat dalam aksi, dan implementasi gerakan-gerakan yang dapat mendorong terwujudnya kota hijau.
Jaya Negara mengatakan, adapun delapan atribut untuk mewujudkan kota hijau meliputi, perencanaan dan perancangan kota yang ramah lingkungan, ketersediaan ruang terbuka hijau kota, dan konsumsi energi yang efisien. Lalu ada juga pengelolaan air yang efektif, pengelolaan limbah padat dengan system 3R, bangunan hemat energi atau green building, penerapan sistem transportasi yang berkelanjutan, dan peningkatan peran masyarakat sebagai komunitas hijau.
Guna memenuhi delapan atribut tersebut, serta mewujudkan ruang terbuka hijau kota yang berkelanjutan, Kota Denpasar telah mengembangkan ekowisata Subak Sembung, ekowisata Pedungan hijau, program kampung iklim dan juga taman keanekaragaman hayati yang kedepannya akan dapat memenuhi rancangan delapan atribut menuju Denpasar Green City. “Kami menyambut baik program pengembangan kota hijau ini, program ini dapat didukung sepenuhnya oleh semua lapisan masyarakat dan dapat menuai keberhasilan serta manfaat kesejahteraan bagi masyarakat Kota Denpasar,” pungkas Jaya Negara
Salah seoarang seniman mural, Ketut Jesna Winaya mengaku sangat mengapresiasi adanya kegiatan yang positif ini. Dimana, selain melalui aksi bersih-bersih, menciptakan Denpasar sebagai kota jijau tentu dapat dilakukan dengan berbagai hal, salah satunya mural. Dengan mural seorang seniman dapat membuat selogan sehingga mampu merangsang kesadaran masyarakat. “Kegiatanya bagus, apalagi ada ruang untuk mural. Sehingga masyarakat akan lebih mudah membangkitkan kesadaran masyarakat melalui seni,” pungkasnya.
Editor : I Putu Suyatra