BALI EXPRESS, DENPASAR - Banyak isu dan mitos mengenai kesehatan yang sudah dipercaya oleh masyarakat baik tua maupun muda. Salah satunya mengenai mitos seks. Mitos itu sendiri merupakan hal yang masih keliru namun sudah diyakini oleh masyarakat kebenarannya.
“Mitos adalah informasi yang sebenarnya salah tetapi masih saja sering dianggap benar, yang telah diyakini, beredar dan populer dimasyarakat. Mitos cepat sekali berkembang di masyarakat, karena sering kali memang sangat menarik dibahas, padahal tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya. Masyarakat masih percaya kepada mitos karena mereka sulit mendapatkan informasi yang benar sehingga mereka dengan mudahnya menerima informasi seks yang keliru,” ungkap salah satu dosen Universitas Udayana, dr Oka Negara, FIAS, Senin (23/4).
Menurut salah satu ahli kesehatan dan reproduksi tersebut, mitos yang berhubungan dengan seksual itu masih menjadi praktik. Salah satu contohnya banyak sekali mitos mengenai penis. Entah itu di luar negeri maupun di Indonesia. Salah satunya yang paling populer yaitu mitos yang berkaitan tentang praktik-praktik memperbesar alat vital.
“Banyak praktik untuk memperbesar penis, dengan menggunakan pijatan, minyak-minyakan, darah kobra, dan lainya. Sempat beberapa masyarakat yang sempat bertanya mengenai cara memperbesar dengan menggunakan rendaman teh basi. Nah, hal ini merupakan salah, karena ketidaktahuan dari masyarakat,” tegasnya.
Faktanya, penis tersusun dari jaringat ikat dan pembuluh darah sedangkan untuk jaringan ototnya sedikit. Jadi, setelah laki-laki pubertas tidak ada istilah penis yang bisa memperbesar. Dalam hal ini Oka mengungkapkan, jika nantinya dioleskan, direndam atau disuntikkan sesuatu hal tersebut tidak akan memperbesar, namun hal itu bisa mengoptimalisasi pembuluh darah dan saraf.
“Di sini kalau pembuluh darah dan sarafnya bagus, otomatis fungsi seksualnya bagus. Sementara ukurannya tetap segitu, memang tidak bisa menggunakan obat-obatan, minyak dan yang lainya. Kecuali menggunakan teknik pembedahan, jika menggunakan teknik tersebut bisa saja memperbesar namun fungsi kerja sesualnya tidak maksimal,” paparnya saat ditemui di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Udayana.
Fungsi yang dialami tidak maksimal saat dilakukannya pembedahan dikarenakan pembuluh darah dan saraf yang kena potong, hal itulah yang menyebabkan kaum laki-laki akan lebih memilih untuk mencari dan mempercayai mitos seksual tersebut.
Menurut Oka, penis yang ukuran kecil itu memang ada, itu dapat dilihat dari kecil. Penting juga bagi orangtua untuk memperhatikan kesehatan anak dari kecil. Jika dilihat ukurannya lebih kecil dari anak sebayanya. “Banyak anak kecil yang mengalami riwayat hormon esterogen karena mengkonsumsi makanan ayam boiler, makan junk food, dan lainnya. Hal itu lah yang menyebabkan kegemukan hingga membuat kelamin si anak menjadi lebih kecil. Hal itu dapat diperbaiki selama umur masih di bawah 12 tahun," paparnya.
Editor : I Putu Suyatra