Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Festival Kuliner HUT Ke-47 PDIP, Tampilkan Jukut Kelor Khas Buleleng

Nyoman Suarna • Senin, 24 Februari 2020 | 03:24 WIB
Festival Kuliner HUT Ke-47 PDIP, Tampilkan Jukut Kelor Khas Buleleng
Festival Kuliner HUT Ke-47 PDIP, Tampilkan Jukut Kelor Khas Buleleng


SINGARAJA, BALI EXPRESS - HUT PDIP ke-47 dirayakan dengan Festival Kuliner Bali secara serentak di seluruh Kabupaten/Kota di Bali. Khusus di Buleleng, perayaan dipusatkan di Lapangan Ngurah Rai, Taman Kota Singaraja, Minggu (23/2) pagi. Ajang ini pun seolah menjadi etalase bagi makanan dan minuman tradisional khas Buleleng untuk diperkenalkan lebih luas.


Seluruh peserta diambil dari Pengurus Anak Cabang (PAC) Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP Buleleng. Dimana, setiap kecamatan diwakili oleh dua desa. Setiap desa mengirim 7 orang peserta sehingga ada 18 tim dari 18 desa yang ikut bertarung di ajang lomba Festival Kuliner mewakili sembilan kecamatan.


Setiap tim diperbolehkan menampilkan beragam menu masakan khas Buleleng sesuai daerah masing-masing. Dengan catatan, mereka dilarang menggunakan penyedap masakan yang mengandung MSG. Peserta juga diwajibkan menggunakan peralatan tradisional seperti piring, gelas non-plastik saat proses memasak hingga penyajian.


Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group), acara memasak dimulai pukul 09.30 Wita. Seluruh peserta terlihat sibuk mengolah bahan makanan menjadi beragam menu. Ada yang memasak olahan daging babi, ayam, kuwir, ikan, cumi, udang, kerang, telor hingga tahu dan tempe.


Sedangkan  sayuran lokal yang diolah pun beragam jenis, seperti daun kelor, pakis, terong, bayam, kangkung, taoge, buangit, belimbing wuluh, kacang tanah, undis, hingga kacang panjang. Menariknya, peserta juga tak lupa menyajikan beragam jenis loloh (jamu), bubur, jajanan tradisonal dan buah lokal.


Tepat pukul 12.00 Wita, seluruh peserta telah selesai memasak. Mereka menyajikan lengkap dengan beragam garnis atau hiasan. Terlihat ada puluhan jenis makanan yang disajikan, seperti lawar, serapah, plecing, jukut ares, jukut buangit, jukut kelor, pepes ikan laut,  sate lilit, palem, sudang lepet, jukut undis, ayam bakar, dan beragam jenis sambal. Setelah selesai disajikan, dilakukan penilaian oleh tim juri dari Indonesian Chef Association (ICA) Bali.


Seusai penjurian, masyarakat dan seluruh kader DPC PDIP Buleleng ikut serta mencicipi beragam menu yang disajikan. Bahkan, seluruh Musyawah Pimpinan Daerah (Muspida) Buleleng seperti Dandim 1609/Buleleng dan Kapolres Buleleng turut hadir. Sebelum santap siang, juga dilakukan demo minum satu sloki arak Bali secara bersama-sama sebagai bentuk dukungan atas diberlakukannya Pergub Bali Nomor 1 Tahun 2020 tentang minuman tradisional khas Bali.


Ketua DPC PDIP Bueleleng, yang juga Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana mengungkapkan, Festival Kuliner Bali ini sebagai implementasi dari ajaran Tri Sakti Bung Karno, khususnya berdaulat dalam bidang ekonomi yakni ketahanan pangan. Suradnyana menyebut, selama ini anak-anak milenial telah meninggalkan makanan tradisional.


Pihaknya pun merasa perlu untuk membangkitkan kembali kuliner tradisional khas Buleleng agar tetap lestari sehingga generasi milenial dapat lebih mencintai makanan lokal, dan hasil pertanian lokal bisa terserap.


“Misalnya jukut kelor, kan banyak anak-anak milenial yang tidak tahu. Begitu juga rempah-rempahnya yang digunakan sebagai bumbu masak, sangat bermanfaat untuk kesehatan. Ini yang perlu dilestarikan dan digali kembali,” ujar Suradnyana kepada awak media.


Menurutnya, acara festival kuliner bisa dilakukan secara kontinyu. Misalnya, bisa dilaksanakan di setiap desa maupun kecamatan dengan melibatkan tim penggerak PKK. “Sehingga bisa mengelaborasi masing-masing kekhasan kuliner di daerah masing-masing. Tentu saja kuliner di daerah dingin, berbeda dengan di wilayah pesisir. Ini yang kami mau elaborasi,” imbuhnya.


Di sisi lain, seiring terbitnya Pergub No. 1 Tahun 2020 tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan/atau Destilasi Khas Bali, Suradnyana berencana akan memanggil seluruh perajin arak di Buleleng. Pasalnya, arak Bali selama ini dihasilkan dari beragam bahan baku, seperti beras, ketan, dan bahan lainnya. “Nanti harus dicarikan standar baku mutunya. Lebelnya juga harus ada. Kalau beli arak, tentu harus konsisten rasanya,” pungkasnya.


Ketua Panitia Festval Kuliner Bali, Ketut Ngurah Arya mengatakan, panitia menyiapkan hadiah total Rp 13,5 juta untuk para juara dalam lomba festival kuliner kali ini. Ngurah Arya pun menyebut, masyarakat bisa ikut mencicipi seluruh masakan yang disajikan dari lomba kuliner kali ini.


Sementara itu, koordinator juri lomba festival kuliner, Ketut Tangkas Adnyana menyebut, ada sejumlah kriteria dalam penilaian masakan kali ini, yakni kebersihan, proses kerjasama, rasa, tekstur, dan penyajian.


“Nanti juaranya sesuai bidang masing-masing. Ada yang ahli di bidang penyajian, rasa. Semua penilaian secara independent dan tidak boleh dipengaruhi, karena kami menggali produk lokal Buleleng,” jelasnya.


Selain memberikan penilaian, ICA sebut Tangkas, juga berencana akan mengangkat resep-resep masakan khas Buleleng untuk menjadi masakan nusantara. “Nanti kami ajukan ke Jakarta, melalui provinsi,” pungkasnya.


Dari hasil penilaian tim juri, kategori the best diraih oleh peserta nomor undi lima dari Kecamatan Banjar satu. Sedangkan kategori rasa terbaik diraih oleh peserta nomor undi enam dari Kecamatan Banjar dua. Selanjutnya kategori penyajian terbaik diraih oleh peserta nomor urut tujuh dari Kecamatan Buleleng satu. Kemudian kategori pelayanan terbaik diraih oleh nomor undi Kecamatan Buleleng dua.

Editor : Nyoman Suarna
#singaraja