Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Bikin Ogoh-ogoh Pengadangadang, ST. Tunas Muda Pakai Kuaci dan Wijen

I Putu Suyatra • Rabu, 18 Maret 2020 | 01:41 WIB
Bikin Ogoh-ogoh Pengadangadang, ST. Tunas Muda Pakai Kuaci dan Wijen
Bikin Ogoh-ogoh Pengadangadang, ST. Tunas Muda Pakai Kuaci dan Wijen


DENPASAR, BALI EXPRESS – Ide Kreatif dari pemuda-pemuda di Kota Denpasar memang tak pernah habis. Semua bahan yang ditemukan bisa disulap menjadi karya seni yang memukau. Konsep ramah lingkungan yang gelontorkan pemerintah dalam pembuatan ogoh-ogoh membuat pemuda-pemuda yang ada di Kota Denpasar berlomba-lomba membuat karya yang unik dan menarik. Salah satu karya yang unik dan menarik yakni ogoh-ogoh karya ST. Tunas Muda di Banjar Dukuh Mertajati. Seluruh bahan-bahan 90 % menggunakan bahan ramah lingkungan. Untuk dasar ogoh-ogoh figuran menggunakan kardus bekas ditambah lapisan koran untuk membuat bentuk otot-otot ataupun yang lainnya. Dan ogoh-ogoh utama, bahan dasarnya adalah ulat-ulatan yang sama dilapisi koran untuk pembentukan.


Uniknya bahan yang digunakan sebagai lapisan terakhir dari seluruh ogoh-ogoh figuran adalah biji wijen. Dan untuk menbuat tekstur bulu dari ogoh-ogoh utama menģunakan kuaci (biji bunga matahari).


Ketua ST. Tunas Muda I Putu Ade Widiantara mnjelaskan, pemilihan bahan seperti biji wijen dan kuaci dalam penggarapan ogoh-ogoh, sebab ingin mengaplikasikan ogoh-ogoh hanya dengan dua warna yaitu hitam dan putih. “Untuk pemilihan bahan wijen, warna dasar wijen adalah putih. Dan dipasaran juga terdapat warna wijen yang sudah diproses dengan warna hitam. Ditambah untuk tekstur wijen yang ramping tidak begitu besar. Kalau diaplikasikan tidak merusak bentuk dasar ogoh-ogoh. Pemilihan kuaci untuk membuat tekstur bulu,” jelasnya.


Ade Widiantara menambahkan, untuk pemasangan kuaci sempat menjadi kendala. Penggunaan media perekat atau lem yang tidak tepat. Ditambah kuaci itu berminyak dan lembab ketika terkena udara dan percikan air dan membuat kuaci lepas dari tempat pemasangannya. “Maka solusinya kami gunakan lem G supaya lebih erat dan tidak mudah copot,” imbuhnya.


Tak tanggung-tanggung Ade pun mengakui untuk pembuatan ogoh-ogoh itu menghabiskan sekitar 15 kilogram biji wijen dengan warna hitam putih dan 18 kiloram biji kuaci. “Ya kami habiskan sekitar 15 kilogram wijen dan 18 kilogram biji kuaci,” tegasnya.


Secara singkat ogoh-ogoh Pangadangadang karya ST. Tunas Muda, Banjar Dukuh Mertajati ini menceritakan tentang banten pangadangadang yang ada dalam pengabenan. Tingginya persentase negatif yang dibuat manusia saat hidup, akan di pudarkan ketika sang atma mampu menjawab dan melampaui rintangan dalam perjalanan menuju sang pencipta.  Rintangan dan hambatan ini disebut dengan "PENGADANGADANG", yang berupa bebutaan dalam wujud menyeramkan (Krura Rupa) dan kunci terahir hambatan atau rintangan di pegang oleh Garuda Ijo Pengadangadang.


Adapun tujuan pengambila Tema "PENGADANGADANG" dalam penggarapan ogoh2 kali ini  adalah untuk mengingatkan bahwa Hakekat kita terlahir dan Hidup di dunia ialah untuk Memperbaiki karma dimasa lalu dan menata kehidupan agar berpijak pada ajaran dharma dan norma kebenaran  guna tercapainya tujuan Hidup Moksatam Jagadhita ya Caitti Dharma.

Editor : I Putu Suyatra
#bali #ogoh-ogoh #denpasar