Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dobrak Keterbatasan, Putri Koster Apresiasi Karya Pelukis Difabel

Nyoman Suarna • Kamis, 6 Agustus 2020 | 03:27 WIB
Dobrak Keterbatasan, Putri Koster Apresiasi Karya Pelukis Difabel
Dobrak Keterbatasan, Putri Koster Apresiasi Karya Pelukis Difabel

DENPASAR, BALI EXPRESS – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, Putri Suastini Koster, mengapresiasi dan menyampaikan rasa bangganya terhadap Gede Agus Mertayasa, 22.


Apresiasi dan rasa bangga Putri Koster itu tidak lepas dari keberanian Agus Mertayasa mendobrak keterbatasan yang dimilikinya dengan imajinasi dan kreativitasnya di bidang seni lukis.


Rasa salutnya itu disampaikan Putri Koster saat menghadiri pameran virtual Agus Mertayasa, putra kedua Ketut Sudana, di Jayasabha, Rabu (5/8). Pemeran ini terselenggara atas kerja sama Dekranasda Provinsi Bali dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali.


Pada saat yang sama, Putri Koster berharap sosok Agus Mertayasa bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak difabel lainnya untuk berani mendobrak keterbatasan yang dimiliki.


“Tidak menyerah dengan keadaan. Harus tetap semangat dan bangkit menjadi pribadi yang tekun dan penuh ide. Serta mampu berkreativitas menumbuhkan keahlian yang dimiliki secara lugas,” ujarnya.


Dia berharap para orang tua dapat memanfaatkan situasi pandemi Covid-19 dengan lebih meluangkan waktu dan memberikan perhatian kepada putra-putrinya di rumah. Sehingga peran sebagai guru rupaka tidak semakin terkikis oleh kemajuan informasi dan teknologi.


Menurutnya, penguasaan terhadap teknologi memang sangat penting pada zaman sekarang. Mengingat persaingan untuk menguasai pasar dan dunia ada pada kecekatan dan kecepatan memfungsikan IT tersebut. Namun dia menegaskan, situasi itu tidak lantas menjadi alasan untuk berhenti memberikan sentuhan perhatian, kasih sayang, mengayomi dan dukungan terhadap anak-anak kita.


“Tentu tidak dengan cara memanjakan. Jangan sesekali memberikan mereka ikan yang siap disantap, namun berikan mereka kail untuk berusaha mendapatkan ikan yang sesungguhnya agar kemandirian untuk mendapatkan sesuatu yang berharga dapat dirasakan. Dengan demikian, nantinya akan dapat memberikan dampak positif untuk anak-anak kita, yakni akan ada usaha dalam menggapai masa depannya secara pasti dan mandiri,” kata Putri Koster.


Dalam momen itu, Putri Koster mengaku bahagia karena dapat memenuhi janjinya untuk melaksanakan pameran lukisan yang sebelumnya direncanakan pameran tunggal. Namun terhambat kondisi yang diakibatkan wabah Covid-19 yang belum kunjung usai sehingga dicetuskanlah ide untuk melakukan pameran virtual.


"Di balik fisik yang diharuskan tetap di rumah, kreativitas harus tetap aktif di tengah plafon digitalisasi. Saat pandemi kami berinisiatif melaksanakan kegiatan pameran virtual. Ini sebagai wahana digitalisasi untuk melibatkan instansi pemerintah, para dermawan, swasta dan donatur agar ikut serta dalam situasi era baru yang kembali produktif dan berkreativitas dengan tidak melanggar protokol kesehatan di tengah pandemik, sehingga digitalisasi virtual adalah jawaban saat ini,” sebutnya.


Lewat kegiatan pameran virtual itu, dia mengajak semua pihak memberi ruang kreativitas dan berkegiatan yang sehat bagi anak-anak bertalenta. “Pengembangan mental harus terus digali," kata seniman multitalenta itu.


Sementara itu, Agus Mertayasa diketahui mulai melukis sejak tahun 2017 atau sekitar tiga tahun silam. Dalam pamerannya di Jayasabha, dia mendisplai 45 karyanya yang hampir keseluruhan mengangkat tema maut atau tentang pralina.


Dua tema itu diramunya ke dalam lukisan di atas kanvas dengan eksplorasi garis. Ritme goresan Agus Mertayasa layaknya orang yang sedang meditasi. Ini bisa dirasakan lewat ketekunannya mengolah tiap garis yang dia goreskan. Kemampuannya untuk fokus tersebut memberi kesan tersendiri yang cenderung beraura magis dalam tema visual yang disajikannya.


Tema ini menjadi pilihan, karena Agus Mertayasa memiliki kepekaan kuat terhadap semesta dan kehidupan untuk menjawab kemungkinan maut yang ada. Baginya, manusia adalah bagian dari maut itu sendiri.

Editor : Nyoman Suarna
#denpasar #pameran lukisan