Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pencipta Pompa Kincir Air Tanpa Listrik di Desa Bukian Berpulang

Nyoman Suarna • Sabtu, 21 Agustus 2021 | 03:07 WIB
Pencipta Pompa Kincir Air Tanpa Listrik di Desa Bukian Berpulang
Pencipta Pompa Kincir Air Tanpa Listrik di Desa Bukian Berpulang

GIANYAR, BALI EXPRESS - Warga Gianyar yang pernah meraih juara Lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) Nasional Tahun 2017, I Wayan Budiana, berpulang Rabu malam (18/8) sekitar pukul 22.00 WITA dalam perawatannya di RSUD Sanjiwani. 



Almarhum sendiri berjasa dalam merancang pompa kincir air tanpa listrik di Banjar Lebah A, Desa Bukian, Kecamatan Payangan, Gianyar. Meskipun berasal dari warga kurang mampu, namun kincir air buatannya sangat bermanfaat bagi 255 KK warga Banjar Bukian  untuk mengalirkan air sehingga kini warga dapat menikmati fasilitas air bersih. 



Berkat inovasinya tersebut, Budiana terpilih mewakili Bali dalam Lomba Teknologi Tepat Guna tahun 2017 lalu. Budiana pun mampu mengalahkan 34 delegasi se-Indonesia dalam ajang lomba yang diselenggarakan oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) serangkaian Gelar TTG Nasional XIX di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Rabu 27 September 2017. Namun kini Budiana telah pergi akibat penyakit komplikasi yang dideritanya. 



Istri almarhum Budiana, Ni Putu Ari Sapta Pratiwi, 30, menuturkan jika sang suami meninggal karena mengidap hipertensi atau tekanan darah tinggi. Meskipun berat melepas sang suami, namun Pratiwi mengaku ikhlas.  "Hampir setahun sudah bolak-balik rumah sakit," kenang Putu Ari. 



Bahkan, pernah selama satu bulan penuh Budiana harus dirawat di RSUD Sanjiwani. Namun akhirnya dirawat jalan. Disamping itu Budiana juga harus rutin melakukan cuci darah. Selain meninggalkan sang istri, almarhum juga meninggalkan putri semata wayang mereka, Ni Luh Putu Fitri, 12, yang masih SD. Kepada sang istri, Budiana berpesan agar sang anak bisa melanjutkan pendidikan hingga ke pergueuan tinggi. "Dia juga ingin membangun rumah, tapi belum bisa dia wujudkan sepenuhnya," imbuhnya.



Lebih lanjut dirinya menuturkan jika sebelum meninggal dunia, sang suami sempat berpesan agar jenazahnya diaben. "Jadi sekarnag masih menunggu hari baik, dan jenazah suami saya saat ini dititip di kamar jenazah RSUD Sanjiwani," sambungnya.



Budiana sendiri awalnya menciptakan meain pompa kincir air tanpa listrik ini untuk memudahkan warga desanya mendapatkan air bersih yang layak konsumsi. Sebab dulu, warga harus jalan jauh hingga turun jurang, untuk mencari air. Ide pembuatan pompa kincir air tanpa listrik ini muncul dibenak Budiana setelah menyimak tayangan di salah satu stasiun TV. Sayangnya keterbatasan ilmu pengetahuan membuatnya hanya bisa mencorat-coret rancangan seadanya. Hingga akhirnya di tahun 2008, Budoana mencoba pompa kincir airnya. Wayan Budiana bersama sekitar 10 orang rekannya yang menggabungkan diri dalam sebuah Kelompok Cipta Karya Desa Bukian mulai merakit sebuah pompa kincir air tanpa listrik. Pompa kincir air rancangannya pun mulai diujicobakan. Aliran sungai Wos dimanfaatkan sebagai daya dorong alami. Sementara air dari sumber mata air ‘Belahan Paras’ dialirkan secara gravitasi untuk selanjutnya dipompa ke saluran pipa vertikal dengan ketinggian sekitar 100 meter. Lanjut, air bersih yang sudah dipompa dialirkan sepanjang 1.148 meter menuju bak penampungan atau reservoar. Kekuatan pompa air ini mencapai 50 liter per menit atau hampir 1 liter per detik. 



Dari reservoar berkapasitas 40,32 kubik inilah air bersih dialirkan ke 262 rumah warga Desa Bukian. Proses itu pun dikerjakam secara gotong royong karena memerluka biaya yang cukup tinggi. 



Kini ada sekitar 4 pompa yang sudah terpasang. Diantaranya di Banjar Tihingan, Banjar Dasong, Desa Bukian dan salah satu banjar di luar Desa Bukian. 



Setelah beroprasinya alat ini, warga tak lagi harus turun jurang mengambil air. Sekarang di setiap rumah dipasang keran. Dan sebelum meninggal dunia, Budiana sempat mengaku masih menunggu kepastian Hak Paten maupun Hak Kekayaan Intelektual (HKI). 

Editor : Nyoman Suarna
#desa bukian #gianyar #sakit #meninggal dunia