Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Stok Melimpah Penjualan Lesu, Pengrajin Bata Tulikup 'Gigit Jari'

I Dewa Gede Rastana • Senin, 21 Februari 2022 | 22:49 WIB
GIGIT JARI : Salah satu pengrajin bata di Desa Tulikup, Gianyar. (ISTIMEWA)
GIGIT JARI : Salah satu pengrajin bata di Desa Tulikup, Gianyar. (ISTIMEWA)
GIANYAR, BALI EXPRESS - Sejumlah pengrajin batu bata merah di Desa Tulikup, Kecamatan/Kabupaten Gianyar, menyayangkan ditengah gencarnya pembanguan oleh pemerintah, namun tidak ada yang menggunakan bata Tulikup. Hal itu pun membuat para pengrajin mengeluh, sebab terjadi penurunan penjualan, sedangkan stok batu merah mereka banyak.

Salah seorang pengrajin bata Tulikup I Nyoman Sukara, mengatakan bahwa dirinya sangat menyayangkan minimnya minat pemerintah untuk menggunakan bata Tulikup. Padahal saat ini pemerintah yang sedang gencar-gencarnya membangun.

"Tapi justru sama sekali tidak ada yang menggunakan bata tulikup. Padahal stok bata kami sangat banyak," ujarnya Senin (21/2).

Stok yang banyak bahkan membuat bata miliknya berlumut. Disamping itu, di masa pandemi banyak warga Tulikup yang kehilangan pekerjaan dan beralih menjadi pengerajin batu bata. Sehingga stok bata pun semakin berlimpah. "Semakin banyak yang beralih menjadi pengerajin bata, sehingga stok bata semakin banyak dan menumpuk. Sementara, penjualan saat ini sangat minim," ujar pria yang juga Bendesa Adat Tulikup tersebut.

Padahal menurutnya, kualitas bata Tulikup tidak kalah dengan bata dari luar Bali. Sehingga bata Tulikup semestinya dapat digunakan untuk pembangunan di Gianyar yang sangat gencar.
"Pembangunan saat ini gencar, tapi tidak menggunakan bahan lokal. Bagaimana bisa dikatakan ikut memperdayakan produk lokal, kalau material yang digunakan justru dari daerah lain, ini sangat disayangkan," tandasnya.

Hal itu pun diamini oleh pengrajin bata lainnya, I Gusti Ngurah Winata. Selain penjualan sepi, justru muncul isu bata Tulikup cepat senawanan. Padahal hal itu tidak benar. "Isunya bata Tulikup senawanan, sehingga banyak yang beralih ke material lain. Padahal tidak. Yang membuat cepat senawanan itu karena saat pemasangan banyak menggunakan semen," bebernya.

Terkait hal tersebut, Perbekel Tulikup, I Made Ardika, pun berharap kepada Gubernur dan Bupati untuk mengimbau masyarakat menggunakan bata Tulikup, terutama untuk proyek-proyek milik pemerintah. Sebab secara ekonomi, warganya sangat terdampak. Padahal bata Tulikup untuk bangunan Bali mempunyai nilai magis. "Saya berharap pemerintah agar tergugah, dengan kondisi masyarakat Tulikup 65 persen merupakan pengerajin batu bata," tegasnya.

Imbauan itu juga muncul dari Ketua DPRD Gianyar, I Wayan Tagel byWinarta. Dimana dirinya berharap pemerintah maupun masyarakat umum, agar menggunakan bata Tulikup, terutama untuk pembuatan bangunan stil Bali. "Apalagi sekarang kualitasnya jauh lebih baik dari sebelumnya," ujarnya.

Menurutnya proses pembuatannta sudah lebih bagus dari dulu. Dari proses tanah sampai bisa dicetak itu memerlukan waktu 3 hingga 4 hari. Setelah dicetak, lalu dijemur 1 bulan dan selanjutnya dilakukan pembakaran 3 hari 3 malam. Karena pembakaran menggunakan kayu bakar, sehingga harus ditunggu.

"Karena prosesnya itu, saya yakin kualitas bata Tulikup sangat bagus, terutama untuk pembangunan kantor dan rumah tinggal yang menggunakan ornamen Bali, apalagi untuk pembangunan tempat suci," tandasnya.

 

  Editor : I Dewa Gede Rastana
#pengrajin #pembangunan #gigit jari #penjualan lesu #Bata tulikup