Calonarang tersebut akan dikemas seperti apa adanya di Bali, mulai properti hingga kostum dan akan berlangsung selama dua jam. Yang membuat pementasan ini semakin menarik adalah karena melibatkan sejumlah seniman yang telah malang melintang di dunia pencalonarangan dilibatkan mulai dari Jro Mangku Srongga, Cedil, Dek Capung, dan penabuh dari Yogananda. Disamping itu pementasan Calonarang tersebut diproduseri oleh Happy Salma bersama Nicholas Saputra dan Produser pendamping Tjokorde Gede Bayu Putra Sukawati.
"Membawa calonarang utuh itu sangat sulit dengan durasi waktu panjang, maka dari itu kami mengemasnya dengan epilog berfokus pada inti pementasannya," ujar Happy Salma, Kamis (1/9).
Lebih lanjut, aktris kenamaan tersebut menjelaskan bahwa pementasan ini berangkat dari pada masa pandemi. Ketika itu Bali saat itu sepi sunyi. Sehingga ia bersama Nicolas Saputra pub bekerja sama dengan Kemendikbud untuk membuat garapan Taksu Ubud. "Berikutnya muncul ide agar memboyong calonarang tradisi di Jakarta," sambungnya.
Namun hal ini bukan yang pertama kali, sebab calonarang sudah pernah dipentaskan Paris Expo dan sukses memukau para penonton. Dimana rombongan dipimpin oleh Almarhum pengelingsir Puri Ubud Tjokorde Gede Putra Sukawati. "Dan dari sanalah akhirnya semangat epilog ini bisa digarap," imbuhnya.
Ditambahkan oleh Tjokorda Gede Bayu Putra Sukawati yang menjadi Produser pendamping, Calonarang ini memang identik nuansa magis. Sehingga, pihaknya optimis nilai magis ini tetap menjadi magnet saat dipentaskan. Sebab segala bentuk pertunjukan mulai dari panggung dan segala propertinya sama dengan pertunjukkan di Bali. "Setidaknya dengan tampilan Barong, Rangda ditambah dengan keterlibatan Jero Mangku Serongga, tentunya nilai-nilai spirit Calonarang akan melekat," terangnya optimis.
Euforia penonton ini pun tidak terlepas dari pagelaran "Taksu Bali" yang digelar tahun lalu saat Ubud dalam kondisi sepi akibat pandemi. Namun pertunjukan tersebut mampu menyedot 20 ribu penonton secara online. "Saat itu juga kami perlihatkan katalog saat calonarang dipentaskan di Paris tahuan 1931. Ini jadi pemantiknya. Dan calonarang sebagai pertunjukan fleksibel di Bali tentunya akan adaptif di tengah penonton Jakarta," tandasnya.
Dalam garapan ini bertajuk Sudamala ini, meniti beratkan pada pesan keseimbangan kehidupan. Dimana Sudamala sebagai suatu ruwatan. Suda artinya menghilangkan atau menetralkan dan mala artinya wabah atau penyakit, relevansi dalam masa kini artinya manusia harus berdampingan menyesuaikan diri dalam pandemi.
Menceritakan kisah Walu Nateng Dirah, seorang perempuan yang memiliki kekuatan dan ilmu yang luar biasa besar serta ditakuti banyak orang termasuk membuat resah raja yang berkuasa saat itu, Airlangga.
Hal ini pula yang menyebabkan tak banyak pemuda yang berani mendekati putri semata wayangnya, yang bernama Ratna Manggali. Walu Nateng Dirah sangat kecewa dan mengekspresikan kepedihannya dengan menebar berbagai wabah. Luka hatinya itu akhirnya sementara terobati, setelah Ratna Manggali menikah dengan Mpu Bahula.
Kehidupan pernikahan ini ternyata dicederai Mpu Bahula. Ia yang ternyata adalah utusan pendeta kepercayaan Raja Airlangga, mengambil pustaka sakti milik Walu Nateng Dirah yang akhirnya jatuh ke tangan Mpu Bharada. Walu Nateng Dirah kecewa dan murka, kemurkaanya lalu menimbulkan wabah yang menyengsarakan banyak orang. Setelah Mpu Bharada mengenali ilmu yang dimiliki Walu Nateng Dirah, Ia lantas menantang Walu Nateng Dirah untuk beradu ilmu, agar dapat menuntaskan bencana dan wabah yang melanda. Editor : I Dewa Gede Rastana