Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Menyaksikan Keseruan Makepung Lampit di Jembrana

I Komang Gede Doktrinaya • Senin, 12 September 2022 | 12:47 WIB
TRADISI : Aksi Makepung Lampit yang diselenggarakan di Banjar Peh, Desa Kaliakah, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Minggu (11/9). Gde Riantory/Bali Express
TRADISI : Aksi Makepung Lampit yang diselenggarakan di Banjar Peh, Desa Kaliakah, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Minggu (11/9). Gde Riantory/Bali Express
JEMBRANA, BALI EXPRESS - Tradisi memacu kerbau atau yang dikenal sebagai Makepung merupakan tradisi leluhur di Kabupaten Jembrana. Selain Makepung di darat atau tanah kering, kini Makepung berkembang hingga di tanah basah atau di persawahan yang dikenal dengan Makepung Lampit.

Keseruan adu kecepatan tersebut juga memiliki keunikan mulai dari persiapan hingga pelaksanaan perlombaan. Salah satu keunikannya yaitu dalam kesiapan kerbau jelang dipacu. Biasanya kerbau diberikan jamu tradisional berupa telor ayam kampung yang dicampur dengan kunyit serta madu murni.

Bahkan, perlakuan khusus terhadap kerbau dilakukan seperti memandikan kerbau tiga kali sehari, dan paginya menggunakan air hangat.

Kesulitan dalam Makepung Lampit ini saat mengendalikam laju kerbau lantaran berlari di lintasan basah berlumpur. Tidak sedikit peserta saat perlombaan berlangsung, banyak yang tidak bisa mengendalikan laju kerbaunya, sehingga berlari miring, atau sang joki bahkan terjatuh dan berlumuran lumpur.

Salah seorang joki wanita Ni Putu Resti Wulandari, 26, ditemui usai perlombaan Makepung Lampit, Minggu (11/9) mengatakan, sebelum perlombaan memang ada beberapa persiapan, dan yang terpenting adalah mengenal karakteristik dari kerbau itu sendiri.

"Kita itu seperti memiliki ikatan dengan kerbau pacu ini, perlakuannya pasti berbeda dengan kerbau pada umumnya. Ramuan tradisional juga rutin diberikan seminggu 2-3 kali, dan dua hari sebelum lomba kita rutin berikan jamu setiap sore harinya,” ujarnya.

Selain itu, kandang kerbau disebutnya juga harus tanah yang kering, bahkan kerbau miliknya dimandikan tiga kali dalam sehari. “Khusus untuk pagi hari menggunakan air hangat,” imbuhnya.

Wanita yang sudah menjadi joki Makepung saat duduk di bangku kelas 5 SD ini juga mengungkapkan, kecintaannya dengan tradisi Makepung ini tidak dapat dihilangkan.

Sementara kordinator Makepung Kabupaten Jembrana Made Mara, 58, mengatakan, pelaksanaan Makepung Lampit ini sejatinya acara penutupan Makepung tanah kering. “Ini memang acara tambahan, namun kami tetap mendukung sebagai hiburan masyarakat," ujarnya.

Disinggung mengenai aturan perlombaan, Made Mare menjelaskan, sangat berbeda jauh dengan Makepung tanah kering. Adu kecepatan ini hanya dilakukan di lintasan yang berjarak kurang lebih 50 meter. "Sepasang kerbau pacuan akan menarik lampit atau alat bajak sawah, dan ditunggangi oleh seorang joki. Sepasang kerbau yang dinyatakan menang lomba adalah yang tercepat sampai garis finish, dan harus berlari lurus," terangnya.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#petani jembrana #tradisi #Pacuan kerbau #Makepung Lampit #Tabah basah