Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Patung Panji Landung Diplaspas, Jadi Ikon Batas Kota Singaraja - Mengwitani

I Dewa Gede Rastana • Selasa, 21 Februari 2023 | 03:02 WIB
MLASPAS  : Mlaspas Patung Panji Landung di shortcut titik 5 dan 6 wilayah desa Gitgit Kecamatan Sukasada, Buleleng. (istimewa)
MLASPAS : Mlaspas Patung Panji Landung di shortcut titik 5 dan 6 wilayah desa Gitgit Kecamatan Sukasada, Buleleng. (istimewa)
SINGARAJA, BALI EXPRESS - Patung Panji Landung yang berdiri tegak di areal shortcut titik 5 dan 6, Senin (20/2) pagi diupacarai secara Hindu. Turut hadir dalam pemlaspas tersebut Gubernur Bali, Wayan Koster didampingi  Manggala Utama Pasemetonan Puri Agung Buleleng, Anak Agung Wiranata Kusuma.

 

Patung yang digarap oleh seniman asal Sengguan, Singapadu-Gianyar itu diselesaikan dalam waktu 4 bulan. Pengerjaannya dilakukan hingga 14 November 2022 lalu. Selanjutnya dalam waktu singkat pihak rekanan yakni PT. Sinar Bali rampung melengkapi areal tersebut. Mulai dari pertamanan hingga narasi.

 

Saat ini rest area patung tersebut telah dilengkapi dengan narasi yang menceritakan sosok patung tersebut. Singkatnya, patung Panji Landung yang memikul sosok Raja Buleleng Pertama, Ki Barak Panji Sakti mengisahkan, Ki Barak Panji Sakti saat beristirahat di kawasan Pura Yeh Ketipat.

 

Saat itu ia sedang mencari air minum dan bertemu dengan sosok besar. Dialah Ki Panji Landung. Panji Sakti dipikul di atas pundaknya dan menunjuk ke wilayah Utara. Saat itu pandangan Panji Sakti menjangkau hingga ke wilayah Blambangan, Jawa Timur dan untuk bagian timur sampai ke perbatasan desa Tajun - Karangasem. "Pada saat melihat wilayah tersebut ia dilihat oleh ibunya Si Luh Pasek. Jadi saat turun, wilayah selatan itu gelap dan tidak sempat dilihat. Jadi kemungkinan Panji Sakti saat itu tidak diperkenankan wilayah kekuasaan Ayahnya," jelas Manggala Utama Pasemetonan Puri Agung Buleleng, Anak Agung Wiranata Kusuma.

 

Patung setinggi 6 meter itu pun kini dpat dimanfaatkan sebagai rest area. Lokasinya tinggi serta nyaman. Terlebih terdapat wantilan. Pengerjaan patung yang tergolong cepat membuat pekerjaan lainnya mengikuti alur. Seniman yang diketahui bernama Komang Agus Parinata itu bekerja menyelesaikan patung bersama 7 orang rekan. Alhasil, patung yang berbahan dasar fiber ini pun selesai tepat waktu. "Kendalanya hanya di cuaca. Kalau tidak hujan ya terhalang kabut. Waktu kerja kami jadi tidak efisien. Tapi kami berusaha menyelesaikan sesuai batas waktu yang diberikan," kata dia.

 

Bagian-bagian patung dibuat secara bertahap dengan memperhatikan detail patung. Sebelum mulai mengerjakan, Agus bersama rekannya juga mencari refrensi ke Puri Gede Buleleng. Disamping itu ia juga membandingkan gambar yang ia peroleh dari puri dengan gambar yang dikeluarkan oleh pemerintah. Setelah itu barulah ia mulai mengerjakan. "Hasilnya nanti fiber. Dan itu sesai dengan hasil refrensi di puri," tegasnya.

 

Patung tersebut diklaim dapat bertahan sampai 50 tahun. "Mungkin bisa lebih. Sama halnya dengan membuat perahu, dibuat dengan bahan yang sama dihempas ombak tidak mudah rusak," terangnya.

 

Diberitakan koran Bali Express sebelumnya, sosok seniman patung Agus Parinata ini adalah pematung yang cukup handal. Pengalamannya membuat patung tak perlu diragukan lagi. Sebelum terlibat dalam pembuatan patung Panji Landung di Buleleng, ia juga terlibat dalam pembuatan patung Garuda Wisnu di Kabupaten Tabanan. Karya patungnya juga sudah menghiasi salah satu kapal phinisi di Laboan Bajo. Patung-patung untuk bahan display juga kerap ia buat. Hasil karya dari Agus Parinata terbilang apik. "Ini prosesyang kedua. Yang pertama di Tabanan, di depan Gedung Mario, itu patung Garuda Wisnu," kata dia.

 

Sebagai seniman patung, Agus terinspirasi dari I Nyoman Nuarta. Pematung fenomenal yang dikenal dengan karyanya patung Garuda Wisnu Kencana menjadi motivasi Agus menjalani profesi seniman patung. Ia pun memiliki cita-cita menjadi seorang pematung yang melahirkan karya-karya besar, unik dan otentik. "Saya belum pernah ketemu bersama beliau. Saya ingin ketemu sama beliau dan belajar dari beliau. Saya ingin juga bisa membuat karya seperti beliau," tandasnya.
Photo
Photo
Editor : I Dewa Gede Rastana
#Diplaspas #Jadi Ikon Jalan Baru Batas #patung panji landung #Kota Singaraja - Mengwitani