Sebelum tutup usia, Gede Marayana sempat keluar masuk rumah sakit berkali-kali. Diagnosa dokter saat itu mengatakan ia terkena demam berdarah. Kemudian pihak keluarganya pun melakukan kontrol kesehatan ke dokter. Gede Marayana pun diberikan obat. Selama mengkonsumsi obat itu kesehatannya sempat stabil. Maka control terus dilakukan.
Namun pada pekan sebelumnya kondisi Gede Marayana menurun drastis. Nafsu makannya buruk. Lantas ia dirujuk ke Rumah Sakit Kertha Usada Singaraja. Setibanya di rumah sakit diagnosa dokter tetap sama, DB. Ia sempat menjalani rawat inap selama sehari. Keesokan harinya Marayana diijinkan pulang ke rumahnya di Lingkungan Tegal Mawar, Kelurahan Banjar Bali, Singaraja. Sayangnya saat di rumah sakitnya kambuh lagi. Pihak keluarga terpaksa merujuk kembali ke Kerta Usada lanjut ke Rumah Sakit Balimed Singaraja. “Bapak nafsu makannya memang sedikit-sedikit. Setelah minum obat terakhir langsung mencret dan lemas. Akhirnya kami rujuk lagi. Cuma 2 jam saja dapat di rumah sudah ke rumah sakit lagi,” ujar Sri dengan nada bergetar.
Selain diagnose DB saat di RS Kerta Usada, diagnose lain juga muncul saat pemeriksaan di RS Balimed Singaraja. Ia divonis mengidap Pnemunia yakni sakit infeksi paru-paru akut. “Bapak memang punya riwayat dekah (sesak),” tambahnya.
Semasa hidupnya, Gede Marayana dikenal sebagai penyusun kalender Bali. Belum lama ini ia juga menerima penghargaan khusus sebagai pencetus diagram pengalantaka. Pangalantaka dalam sistem penanggalan Bali merupakan dasar penentu hari Purnama-Tilem yang merupakan upacara umat hindu di Bali.
Ilmu pengalantaka itu pun dapat menghitung jatuhnya hari Purnama-Tilem dalam kurun waktu seratus tahun. Diagram tersebut dapat dilihat dibalik salah satu lembar kalender yang ia susun. Diagram itu menyerupai lingkaran urutan tata surya yang padat dengan garis dan titik. Tak lupa dibawahnya disertai keterangan dari garis dan titik yang dibuatnya. Ilmu pengalantaka yang dikembangkan Gede Marayana itu pun diakui menjadi Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2019 lalu. Dari ilmu yang didalaminya sejak tahun 1973 itu, Marayana menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahotama sebagai Maestro Budaya Bali bidang Wariga dari Provinsi Bali.
Disiplin ilmu yang didalami Marayana sebenarnya adalah ilmu Poligon saat ia bekerja di Dinas Pekerjaan Umum . Dalam kesehariannya menghitung tugas proyek bangunan Marayana memakai rumus matematis. Saat itu ia yang juga mendalami ilmu pengalantaka juga memakai rumus matematis dalam menentukan perhitungan Purnama-Tilem selain berdasarkan sasih, wuku dan wewaran. Selama 10 tahun ia mempelajari rumus matematis itu.