KARANGANYAR, BALI EXPRESS - Candi Cetho yang terletak di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah merupakan candi bercorak Hindu yang dijadikan sebagai tempat pemujaan.
Candi yang berada di lereng Gunung Lawu ini ramai dikunjungi pada hari-hari Raya Umat Hindu, seperti Galungan-Kuningan dan Nyepi.
Untuk menjangkaunya memang bisa diakses dengan kendaraan roda dua dan roda empat. Namun, disarankan agar kendaraan roda empat bukan jenis bus, sebab medan yang terjal serta jalan yang sempit menjadi pertimbangannya.
Bali Express (Jawa Pos Group) yang berkunjung, butuh waktu sekitar 45 menit dari Kota Karanganyar agar bisa sampai di Candi Cetho. Namun, pengunjung bisa menikmati perjalanan. Pasalnya, sepanjang perjalanan disuguhkan pemandangan pegunungan yang indah.
Hamparan hijaunya kebun teh yang berbukit menjadi pemandangan yang menyejukkan mata. Ditambah dengan perkebunan sayur mayur seperti bawang yang sangat tertata kian membuat perjalanan semakin mengasyikkan.
Saat sampai di lokasi, pemandangan kedua candi bentar berbahan batu yang berfungsi sebagai pintu gerbang seolah menjadi ikon kompleks Candi Cetho ini. Pengunjung terlebih dulu membeli tiket sembari menggunakan kamben sebagai syarat memasuki areal ini, karena sebagai tempat suci.
Dari areal parkir sampai ke pusat candi induk, pengunjung harus berjalan menapaki anak tangga berbahan batu andesit. Persis di depan candi bentar, terdapat sebuah patung yang posisinya di tengah-tengah.
Memasuki tingkat kedua, pengunjung dapat melihat petilasan Ki Ageng Krincing Wesi Wayang yaitu leluhur penduduk Cetho. Pada tingkat ketiga terdapat relief yang menyerupai phallus (alat kelamin laki-laki) dengan panjang lebih dari 2 meter.
Pada tingkat berikutnya, kita bisa melihat relief pendek yang menceritakan kisah Sudhamala, yaitu mengenai usaha seseorang untuk melepaskan diri dari bahaya. Lalu, dua tingkat di atasnya terdapat pendopo-pendopo.
Pendopo tersebut digunakan untuk upacara keagamaan. Pada tingkat selanjutnya terdapat dua buah arca, yaitu arca Sabdopalon dan Nayagenggong, mereka adalah abdi kinasih dan penasihat spiritual Prabu Brawijaya.
Arca phallus (Kuntobimo) dan arca Sang Prabu Brawijaya yang digambarkan sebagai 'Mahadewa'. Arca phallus adalah simbol ucapan syukur karena memberikan kesuburan di bumi Cetho, dan merupakan harapan kepada sang pencipta agar selalu diberikan kesuburan yang tidak ada hentinya.
Selain itu, ada pula relief Kura-Kura berbahan batu Andesit yang menempel di areal tanah. Tingkat yang paling akhir adalah tingkatan paling utama yang berada di teras ke tiga belas. Areal utama ini digunakan untuk tempat bersembahyang.
Jika ditelisik, untuk sampai di candi induk, pengunjung melewati sekitar 13 teras atau halaman. Setiap halamannya selalu ditandai dengan candi bentar sebagai pintu gerbang yang difungsikan pembatas areal.
Priyanto, 38, selaku Juru Pelihara Candi Cetho menjelaskan Candi Cetho diperkirakan berdiri sekitar abad XV pada zaman Kerajaan Majapahit, pada masa pemerintahan Prabu Brawiyaya V. Saat itu, Prabu Brawijaya lengser dari tahtanya karena diserang oleh putranya sendiri, yaitu Raden Patah. Lalu, Candi Cetho menjadi pilihan Prabu Brawijaya V untuk melakukan peribadatan dan mensucikan diri.
Candi ini diperkirakan selesai dibangun pada tahun (1397 Saka / 1475 Masehi). Hal ini didasarkan adanya sengkalan angka tahun yang terpahat pada gapura teras VII yang berbunyi 'Goh wiku hanahut iku' yang berarti 1397 Saka atau 1476.
“Candi Cetho untuk pertama kalinya ditemukan oleh seorang warga negara belanda bernama Van der Vllis, tepatnya pada tahun 1842 dengan jumlah 13 teras,” jelasnya.
Dikatakan Priyanto, areal Candi Cetho ini memiliki panjang sekitar 280 meter dan lebar 30 meter. Dibangunnya Candi Cetho pada awalnya bertujuan untuk tempat beribadah dan tempat peruwatan.
Namun, kini menjadi tempat bersembahyang bagi umat Hindu dari seluruh Nusantara. Tidak jarang juga masyarakat datang untuk melakukan meditasi di areal ini. Pasalnya, suasana yang hening dan tenang menjadi alasan utama.
Editor : I Putu Suyatra