SINGARAJA, BALI EXPRESS – Isu bandara Bali Utara kembali berhembus. Setelah kunjungan ketua DPD RI ke Desa Kubutambahan beberapa waktu lalu, kini giliran Kepala Staf Kepresidenan RI, Moeldoko bertandang ke Kubutambahan. Pertemuannya dengan beberapa tokoh penting di Bali Utara bersifat tertutup. Dalam pertemuan Kamis (27/7), dia menegaskan bahwa proyek bandara di Bali Utara tidak pernah hilang.
Moeldoko mengakui proyek Bandara Bali Utara dihapus dalam Proyek Strategis Nasional (PSN). Meski dicoret dari PSN pada Juli 2022 lalu, proyek ini masih terus dibahas. Di antaranya dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional maupun Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional. “Kalau dilihat dari kajian memang bandara ini sangat dibutuhkan. Saat ini proyeknya juga sedang dibahas dalam RPJMN 2024-2045. Jadi sabar dulu, tidak hilang,” kata dia.
Proyek bandara di Bali Utara disebut-sebut sebagai proyek strategis karena dampaknya akan sangat signifikan, terutama di sektor pariwisata dan ekonomi. Selama ini perkembangan Bali baru terlihat di Bali Selatan. Untuk itu ia meminta pemerintah agar berkomitmen mengembangkan wilayah di Buleleng. “Dalam pembangunan itu kan ada persoalannya. Tidak hanya politik, tetapi banyak, ada ekonomi, sosial dan budaya. Dari sisi kajian sangat menarik. Persoalannya bukan keinginan tapi kebutuhan. Yang pasti menjadi sebuah pertimbangan. Ada persoalan lapangan yang kadang sulit dipahami,” sebutnya.
Di sisi lain, Direktur Utama PT BIBU Panji Sakti, Iwan Erwanto Sad Adiatmoko Hariwibowo menegaskan, pihaknya tidak pernah mundur untuk menyuarakan proyek tersebut agar terealisasi. Menurutnya, keberadaan bandara di Bali Utara bukanlah semata-mata hanya keinginan belaka, tetapi lebih kepada kebutuhan. “Kami tidak pernah mundur setapak pun. Harus jadi. Ini kebutuhan. Kami yakin presiden akan mendengarkan aspirasi masyarakat Kubutambahan. Program ini masih masuk. Semuanya sudah lengkap dari menteri-menteri, jadi tidak ada alasan untuk menunda,” terangnya, Jumat (28/7) siang.
Keberadaan bandara di Buleleng diklaim dapat menjadi penyeimbang perekonomian masyarakat antara Bali Utara dan Bali Selatan. Pihaknya juga mengklaim pembangunan bandara itu akan menggunakan energi terbarukan. “Tentu akan sangat ramah. Ramah lingkungan, ramah teknologi, ramah budaya juga,” imbuhnya.
Bila terealisasi, bandara Bali Utara disebut-sebut akan dibangun di atas laut. Bandara ini juga akan memiliki runway terpanjang sekitar 3.600 meter. Runway itu juga akan terbentang di atas permukaan laut.
Editor : Nyoman Suarna