Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Museum-museum Unik di Bali; Ada Museum Kehidupan hingga Rempah

Dian Suryantini • Senin, 14 Agustus 2023 | 13:26 WIB
Samsara Living Museum
Samsara Living Museum

BALI EXPRESS - Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 19 Tahun 1995, Museum adalah lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan dan pemanfaatan benda-benda bukti materiil hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa. (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/muspres/pengertian-museum/)

Di Bali terdapat museum-museum yang wajib dikunjungi bila ingin mengetahui perkembangan sastra serta pelestarian kekayaan bangsa.

  1. Museum Gedong Kirtya
Tempat penyimpanan lontar di Museum Gedong Kirtya, Singaraja
Tempat penyimpanan lontar di Museum Gedong Kirtya, Singaraja

Lokasinya di Kabupaten Buleleng, tepatnya di Jalan Veteran Singaraja bersebelahan dengan Lapas Kelas II B Singaraja, Bali.

Di museum ini terdapat ribuan lontar dengan berbagai ilmu pengetahuan yang tersirat.

Ide mengabadikan semua daun lontar yang berisikan tentang cerita dan ilmu pengetahuan itu muncul dari cendekiawan Belanda.

Mereka masing-masing F.A Lifrind dan Vander Took, keduanya merupakan penyelidik kebudayaan, adat istiadat dan bahasa Bali.

Ide ini kemudian disambut oleh residen Bali dan Lombok dan juga cendikiawan Belanda L.J.J Kalon, hingga terwujudlah pertemuan di desa Kintamani Kabupaten Bangli.

Dari pertemuan itu terwujud sebuah yayasan tempat penyimpanan lontar atau manuskrip. 

Hasil-hasil budaya terutama artefak-artefak yang berupa lontar, tutur-tutur dan sebagainya yang memang dijadikan pedoman hidup oleh orang Bali dikumpulkan di Gedong Kirtya terutama adalah lontar-lontar yang tersebar di daerah Bali dan Lombok.

Bali dalam artian umum baik Bali utara maupun Bali Selatan, di Lombok terutama yang banyak di Lombok Barat termasuk lontar-lontar yang tertulis dalam bahasa Sasak.

Jika diperhatikan pada bagian pintu gerbang (angkul-angkul) Gedong Kertya terlihat pahatan manusia menaiki gajah dengan busur panah di tangannya kemudian membunuh musuhnya, dan orang yang kena panah itu pun mati.

Gambar ini diperlihatkan dengan monogram atau Chandra Sengkala.

Adapun makna simbol gambar tersebut diantaranya manusia merupakan simbol angka 1, gajah simbol angka 8, panah simbol angka 5 dan orang mati nilainya 0.

Jadi kalau dibaca tahun Icakanya adalah Icaka 1850. Tapi sekarang pitu itu sudah tidak ada lagi dan diganti dengan pintu baru.

Gedong Kirtya yang telah berusia ratusan tahun menyimpan banyak guratan sejarah Buleleng,bahkan Bali. Dalam Gedong Kirtya tersimpan 5.200 salinan lontar dan terdapat koleksi lontar sebanyak 1.808 cakep.

Dari ribuan koleksi tersebut, diklasifikasikan menjadi tujuh yakni Lontar Weda, Agama, Wariga, Itihasa, Babad, Tantri dan Lelampahan.

  1. Museum Pustaka Lontar
Museum Pustaka Lontar
Museum Pustaka Lontar

Museum Pustaka Lontar di Desa Adat Dukuh Penaban, Karangasem, Bali.

Museum ini dibangun di Lingkungan Bukit Ngandang, Desa Dukuh Penaban, di lahan yang lebih tinggi dari kebun milik Kelompok Wanita Tani (KWT).

Dari lokasi itu nampak jelas pemandangan Gunung Agung dengan suasana hening dan udara yang segar.

Ketinggian Bukit Ngandang memperlihatkan secara jelas puncak Sang Hyang Toh Langkir.

Di sekeliling banyak ditumbuhi pepohonan. Di tengah-tengah terdapat pondok kecil menyerupai tempat tinggal warga.

Namun siapa sangka itulah tempat penyimpanan lontar milik Desa Dukuh Penaban yang disebut Museum Pustaka Lontar.

Museum ini konon adalah tempat tinggal seorang pemangku atau pemuka agama dalam hindu.

Setelah difungsikan sebagai museum lontar, masyarakat mulai menitipkan lontar-lontar mereka untuk disimpan di tempat tersebut.

Kepemilikan lontar pun tidak berubah. Tetap menjadi milik masyarakat.

Hanya saja museum Pusaka Lontar membantu dalam hal penyimpanan, pemeliharaan agar lontar-lontar tersebut tidak rusak.

Terdapat 100 cakep lebih lontar yang disimpan di Museum Pusaka Lontar ini.

Paling banyak adalah lontar usada yang berasal dari masyarakat desa Dukuh Penaban.

Uniknya, terdapat lontar Bhuwana Kosa yang memuat tentang terjadinya alam semesta.

Namun lontar tersebut tidak tersimpan di museum. Lontar tersebut masih berada di tangan masyarakat. Konon, lontar itu berusia 391 masehi pada tahun ini.

  1. Samsara Living Museum
Samsara Living Museum
Samsara Living Museum

Lokasinya di Jalan Telaga Tista, Desa Jungutan, Kecamatan Bebandem, Karangasem.

Di museum ini terdapat tiga bangunan utama. Yang pertama adalah tempat penyimpanan atau pameran 14 ritual yadnya dalam umat Hindu, dari masa kehamilan hingga meninggal.

Satu persatu dijelaskan dan dipamerkan dalam museum itu lengkap dengan lontar rujukan serta sarana prasarana yang digunakan pada setiap upacara.

Runtutan ritual yang dilalui manusia semasa hidup hingga meninggal ini diambil dari rujukan lontar Rare Angon dan lontar Gama Dewa Pati Urip.

Selain itu juga dari berbagai sumber seperti para peranda dan narasumber yang ahli dibidang sastra.

Di sebelah bangunan utama ada wantilan. Disinilah pengunjung dapat beristirahat.

Di wantilan ini pula tempat pertemuan sebuah acara yang dilaksanakan di Samsara Living Museum.

Di sampingnya terdapat bangunan dapur. Di tempat ini terkadang dilakukan penyulingan arak. Tentu arak yang berasal dari tuak ental serta proses penyulingan menggunakan bambu dan metode tradisional.

Bila masuk lebih dalam akan menjumpai kebun bambu. Di kebun ini pengunjung juga bisa bersantai sembari mendengarkan nyanyian batang bambu.

Selain itu ada trek mengelilingi kebun di museum. Di sepanjang trek terdapat 14 titik pemberhentian.

Di masing-masing titik itu pengunjung juga bisa membaca 14 ritual yadnya yang tertera dalam museum.

Jadi bila enggan masuk ruang museum, pengunjung bisa berjalan-jalan pada trek sembari membaca siklus kehidupan dari masa kehamilan hingga meninggal.

  1. Sang Natha Spice Museum
Sang Natha Spice Museum
Sang Natha Spice Museum

Lokasinya di Desa Mengening, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng-Bali. Museum ini berbeda dengan yang lainnya.

Jika museum pada umumnya mengabadikan benda bersejarah maka di museum ini tempatnya mengabadikan rempah Nusantara.  

Museum ini dibuka dengan tujuan edukasi.

Hal ini justru menjadi poin penting untuk menjaga kelangsungan museum rempah sehingga tetap berimbang mengusung semangat edukasi dan pariwisata.

Jika di museum-museum rempah di luar negeri hanya melihat koleksi produk dan sejarah rempahnya, di Museum Rempah Sang Natha titik berat justru diletakkan pada keberadaan tanaman-tanaman rempah tersebut sehingga para pengunjung bisa langsung berkenalan dengan vegetasinya, melihat buah atau umbi atau bijinya, serta melihat bagaimana ketika rempah tersebut sudah menjadi bubuk.

Ada sekitar 130 jenis tanaman rempah yang ditanam di lahan seluas 1,2 ha.

Tanaman rempah yang ditanam pada museum ini tidak saja tanaman rempah yang berasal dari Indonesia saja.

Namun ada juga yang didatangkan dari India seperti tanaman Kapulaga yang banyak tersebar di tanah India.

Editor : I Putu Suyatra
#bali #museum