BALIEXPRESS.ID - Pada awal bulan Mei 2024 lalu, publik dibuat heboh dengan berita seorang taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta yang menjadi korban senioritas dari seniornya.
Putu Satria Ananta Rustika atau yang akrab disapa Rio berpulang setelah dipukul di bagian dada sebanyak 5 kali oleh seniornya Tegar Rafi Sanjaya.
Meskipun telah berlalu satu bulan, namun kepedihan akan kehilangan orang yang begitu dicintai masih dirasakan oleh keluarga taruna asal Banjar Bandung, Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan, Klungkung, Bali tersebut.
Terutama sang ibu, Ni Nengah Rusmini. Menurutnya keluarga masih belum bisa mengikhlaskan kepergian putra sulungnya tersebut.
"Kami belum bisa ikhlas, masih sangat terpukul. Masih seperti mimpi," ujarnya saat dihubungi Selasa (18/6).
Bahkan setelah prosesi Ngaben usai, Rusmini mengaku lebih sedih lagi karena rasa kehilangan semakin ia rasakan.
"Setelah selesai Ngaben kehilangan Rio sangat terasa," lanjutnya.
Ayah dari Rio, I Ketut Suastika bahkan baru saja usai membuat tatto wajah Rio di lengan kirinya untuk meluapkan kesedihannya ditinggal anaknya yang baik dan berprestasi itu.
"Bapaknya suka seni tatto, cara bapaknya mengekspresikan rasa sedih ya lewat tatto itu. Biar Rio selalu ada bersama bapaknya," jelasnya ririh.
Untuk mengobati rasa rindunya, Rusmini juga kerap mengunggah kenangan Rio di media sosial miliknya.
Ditambahkannya jika perkembangan terkini yang ia peroleh dari pihak kepolisian per tanggal 30 Mei 2024 yakni saat ini penyidik masih melengkapi berkas perkara. Dimana masa penahanan tersangka pun diperpanjang.
Adapun total tersangka sebanyak 4 orang yakni Tegar Rafi Sanjaya, Wiliam Jones Panjaitan, Farhan Abubakar dan I Kadek Andrian. Para tersangka disangkakan pasal 338/353 KUHP dan SP2HP akan segera dikirim setelah gelar perkara.
"Waktu itu disampaikan akan segera digelar rekontruksi. Kanit disana menjelaskan tadi bahwa perkara ini masih on the track dan tidak ada kendala berarti," imbuhnya.
Saat ditanya mengenai salah satu pelaku yang diduga kuat sesama orang Bali, Rusmini mengaku tidak tahu pasti. "Saya tidak tahu pasti," sebutnya.
Kendatipun demikian pihaknya berharap agar pihak kepolisian dapat menuntaskan kasus ini dengan terang benderang sehingga kematian putra kebanggaannya itu tak sia-sia. (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana