Tradisi ini telah berlangsung selama ratusan tahun. Sebagai gantinya, mereka memakai alat bernama Penyungsung dalam prosesi muput upacara.
Kelian Adat Les, Made Adiarta, menjelaskan bahwa ada beberapa versi sejarah mengenai larangan penggunaan genta di Les.
Berdasarkan cerita turun-temurun, konon dahulu ada seorang sulinggih yang mengubah aturan adat (dresta) di desa tersebut.
"Sulinggih itu memiliki kemampuan luar biasa, mampu menyembuhkan penyakit, serta mengajarkan agama Hindu dan mengatur kehidupan masyarakat," ujarnya.
Penduduk Les sangat menghormati sang sulinggih karena selain ilmunya, ia juga melindungi mereka, khususnya dalam hal keagamaan.
Suatu hari, sang sulinggih bertanya kepada para tetua desa mengenai adat istiadat yang berlaku, termasuk tata cara muput upacara yadnya oleh Pemangku.
Para tetua menjelaskan bahwa Pemangku di Les hanya menggunakan "see" atau sesapan dalam bahasa Bali untuk menyampaikan tujuan dan doa saat upacara.
Ida Pedanda menyarankan agar Pemangku di Les menggunakan bajra sesuai ajaran Hindu. Karena Ida Pedanda sangat dihormati, masyarakat mengikuti sarannya.
Sebagai bentuk penghormatan, Ida Pedanda memberikan bajra dan Siwakarana, yang kemudian disimpan di Gedong Pura Geria sebagai benda suci.
Namun, suatu ketika Betara Ratu Gede, yang berstana di Pura Sanggah Desa, meminta agar tradisi lama di Les tidak diubah.
Sayangnya, tradisi tersebut sudah terlanjur berubah, yang menyebabkan banyak warga sakit dan meninggal.
Desa pun memutuskan untuk kembali ke adat kuno melalui upacara Guru Piduka.
Sejak saat itu, bajra disimpan di empat pura utama desa, dan Pemangku di Les hingga kini tidak lagi menggunakan genta atau bajra saat memimpin upacara, sebagai penghormatan kepada tradisi lama yang telah dipulihkan.
Editor : I Putu Mardika