BALIEXPRESS.- Gerakan Mahasiswa Front Demokrasi Perjuangan Rakyat (FRONTIER) Bali mengirimkan karangan bunga di depan Kantor Kementrian Keuangan Wilayah Bali.
Karangan bunga ini sebagai peringatan berkabung atas dipangkasnya anggaran Pendidikan oleh Pemerintah.
Kepala Divisi Agitasi Propaganda FRONTIER Bali, I Wayan Sathya Tirtayasa mengatakan, selain pengiriman karangan bunga juga dilakukan tabur bunga di depan Kantor Kemenkeu Bali.
Baca Juga: Tiga Pendeman Pelinggih di Gianyar Dibongkar Maling, Diduga Ini yang Diincar
Hal ini dilakukan sebagai bentuk simbolik berdukanya dunia pendidikan akibat dari pemangkasan anggaran Kemendiksaintek dan Kemendikdasmen yang tentu berdampak bagi kemerosotan dunia pendidikan.
“Pendidikan sedang berduka bukan tanpa sebab pemerintah memangkas anggaran pendidikan, harusnya anggaran pendidikan diprioritaskan bukan sebaliknya,” ujar Sathya Tirtayasa, Minggu (16/2).
Sekjen FRONTIER Bali, AA Gede Surya Sentana menyampaikan, pemerintah tidak serius menangani masalah pendidikan di Indonesia.
Hal ini dinilai peemrintah tidak menjadikan pendidikan sebagai program utama.
Bahkan menunjukkan abainya pemerintah akan pendidikan di negeri ini, terlebih masih tingginya keluhan masyarakat dengan biaya kuliah yang tinggi.
"Ini merupakan penghianatan dunia Pendidikan,” tegas Surya Sendata.
Baca Juga: Vonis Ringan Tiga Terdakwa Penganiayaan Taruna STIP, Keluarga Korban Ungkap Kekecewaan
Anggaran Kemendiksaintek awalnya dengan Pagu sebesar Rp 56,6 triliun.
Namun kini setelah dipangkas menjadi Rp 14,5 triliun.
Hal ini diketahui mengakibatkan pemotongan Beasiswa bagi mahasiswa antara lain Beasiswa program KIP dipangkas 9 persen dari pagu awal, Beasiswa BIP terkena pemangkasan 10 persen, Beasiswa ADIK dipotong 10 persen, Beasiswa KNB dipangkas 25 persen, dan pemotongan Bantuan Perguruan tinggi Negeri Berbadan Hukum (BPPTNBH), serta Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) diefisiensi 50 persen.
Tentunya hal ini akan menimbulkan dampak utamanya bagi Perguruan Tinggi dan mahasiswa di dalamnya.
“Jelas ini pemangkasan yang sangat tak masuk akal,” ungkapnya.
Pihaknya pun menyebutkan, pemangkasan beasiswa tentunya menyebabkan ribuan mahasiswa terancam diputus beasiswanya.
Kemudian untuk mahasiswa yang akan masuk Perguruan Tinggi di tahun 2025 kemungkinan besar tidak mendapatkan Beasiswa akibat pemangkasan APBN.
Selain itu adanya pemangkasan bantuan operasional Perguruan Tinggi berpotensi besar menjadikan Kampus kekurangan anggaran dan solusi yang tercepat pastinya menaikkan UKT mahasiswa.
"Ini berpotensi naiknya UKT, sehingga akses pendidikan murah di negeri ini menjadi angan-angan saja, selain itu hal ini menimbulkan potensi mahasiswa putus kuliah,” jelasnya.
Lebih lanjut Surya Sentana menuntut, agar Pemerintah Pusat yakni Presiden RI menjadikan Pendidikan pogram prioritas utama.
Kemudian pemangkasan anggaran pendidikan tidak dilakukan serta menjamin anak bangsa mendapatkan pendidikan gratis sesuai amanat konstitusi negara.
“Pemerintah harus menjamin pendidikan, bukanya fokus makan siang gratis,” tandasnya. (*)
Editor : Putu Resa Kertawedangga