SINGARAJA, BALI EXPRESS – Di tengah wajah-wajah serius politik, hadir sosok yang mencuri perhatian bukan hanya karena jabatannya, tapi juga karena pesonanya di media sosial. Luh Gede Herryani, atau yang akrab disapa Luh De, adalah Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Buleleng yang karismanya tak hanya terasa di panggung politik, tapi juga di layar Instagram.
Perempuan asal Desa Penarukan, Kecamatan Buleleng ini punya keseharian yang sangat relate dengan banyak orang. Meski memegang posisi penting sebagai pimpinan partai dan dikenal juga sebagai notaris ternama di kawasan Kuta, Badung, Luh De tetap tampil apa adanya—ramah, murah senyum, dan gampang akrab dengan siapa saja.
Di media sosial, terutama Instagram, Luh De aktif membagikan potret kesehariannya. Ia kerap berbagi momen kebersamaan dengan keluarga, sahabat, rekan kerja hingga momen seru bersama artis-artis ibu kota.
“Saya suka membagikan hal-hal yang menyenangkan. Kalau ada yang lihat ikut senang, saya ikut bahagia. Buat apa posting kesedihan?” kata Luh De, sembari tersenyum.
Baca Juga: Empat Kali Terpilih jadi Anggota DPRD Buleleng, Ini Profil Kadek Turkini Srikandi PDIP Buleleng
Dengan lebih dari 24 ribu pengikut, tak heran jika akun Instagram-nya dilirik untuk endorsement. Tapi menariknya, Luh De tak sembarangan menerima tawaran. Ia lebih memilih mempromosikan pelaku UMKM ketimbang brand besar. Bukan soal bayaran, tapi karena kepeduliannya pada usaha kecil yang sedang tumbuh.
“Saya lebih senang bantu UMKM, seperti tenun atau kuliner. Bahkan banyak yang saya bantu tanpa minta bayaran,” ungkapnya.
Meski terkesan “happy-happy” di media sosial, bukan berarti Luh De abai terhadap tanggung jawabnya. Di balik senyuman dan gaya santainya, ia dikenal sebagai pemimpin yang tegas dan bertanggung jawab.
“Saya bukan galak, saya cuma ingin bekerja profesional dan menunaikan amanah,” jelasnya.
Luh De sering pulang kampung untuk menjenguk sang ibu. Momen itu pun tak luput dibagikannya dengan hangat ke pengikut setianya.
Luh De menunjukkan bahwa pemimpin masa kini tak harus kaku dan formal. Ia ingin merangkul generasi digital tanpa kehilangan esensi pengabdian. Tetap profesional, tapi tetap asyik. “Tetap serius, tapi tetap menyenangkan,” ujarnya. ***
Editor : Dian Suryantini