BALIEXPRESS.ID- Sejak 2020, Made Janur Yasa menggagas program Plastic Exchange, sebuah gerakan komunitas yang lahir dari kepeduliannya terhadap krisis lingkungan di Bali.
Program ini tidak sekadar menangani sampah, tetapi mendorong masyarakat untuk terlibat aktif dalam pengelolaan sampah secara bijak dan berkelanjutan, menjadikannya sebuah perubahan nyata yang tumbuh dari akar rumput.
Plastic Exchange lahir dari kesadaran bahwa limbah, terutama plastik, merupakan salah satu ancaman besar bagi ekosistem.
Dimulai dari Banjar Jangkahan, Desa Batuaji, Kerambitan, Tabanan, Bali, yang merupakan asal Janur Yasa, program ini kini telah meluas ke berbagai daerah lain di Bali, melampaui batas kampung halamannya.
“Dengan prinsip bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya, yaitu rumah tangga, Plastic Exchange mempromosikan metode, Teba Modern, yakni sebuah teknik pengolahan sampah yang bertujuan mengurangi limbah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA),” jelasnya.
Selain itu, Janur Yasa menegaskan bahwa sampah organik memiliki porsi terbesar dalam timbunan limbah di TPA, mencapai hampir 60 persen.
Sehingga pengolahan sampah organik ini bisa menjadi solusi penanganan sampah yang menumpuk di TPA.
“Karena hampir 60 persen sampah yang menjadi masalah adalah sampah organik. Selain bisa menimbulkan bau busuk, sampah organik yang tidak terfermentasi dengan benar karena tercampur sampah plastik bisa membahayakan,” paparnya.
Baca Juga: Jadi Lebih ‘Bali’, Kebijakan Koster Bikin Mal di Bali Punya Karakter Unik
Program Plastic Exchange bukan sekadar upaya mengurangi limbah plastik dan organik, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya memilah sampah dari rumah.
Dengan sistem pertukaran sampah plastik dengan beras, program ini tidak hanya berkontribusi pada lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga membantu masyarakat yang membutuhkan dengan memberikan bahan pangan sebagai bentuk insentif.
Melalui Plastic Exchange, Made Janur Yasa menunjukkan bahwa pengelolaan sampah bukanlah sekadar tanggung jawab pemerintah, tetapi merupakan kewajiban bersama, termasuk juga masyarakat di desa.
“Saya percaya bahwa jika setiap individu turut berpartisipasi, maka Indonesia akan memiliki masa depan lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan,” tambahnya. (*)
Editor : I Made Mertawan