Pasalnya, pendidikan ini tidak hanya menekankan pada penguasaan kognitif semata, pendekatan ini mendorong pengajar dan siswa untuk membangun koneksi makna, berpikir reflektif, dan terlibat secara aktif dalam proses belajar.
Hal ini menjadi perhatian TEFLIN Wilayah Bali menjadi pelopor dalam membawa pendekatan ini ke ruang-ruang kelas di Pulau Dewata.
Demi melakukan pengembangan kompetensi abad ke-21, TEFLIN Wilayah Bali berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Bali serta sejumlah perguruan tinggi ternama seperti Universitas Udayana (Unud), Universitas Mahasaraswati Denpasar (Unmas), dan Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha).
Pelatihan dan lokakarya yang mereka selenggarakan menyasar para pendidik Bahasa Inggris dari tingkat SMP hingga perguruan tinggi.
Kegiatan bertajuk Deep Learning dalam Pengajaran Bahasa Inggris ini bertujuan mengenalkan prinsip-prinsip utama pembelajaran mendalam.
Selain meningkatkan kemampuan pedagogis, peserta dibekali strategi aplikatif untuk mengintegrasikan deep learning ke dalam pembelajaran keterampilan menyimak, membaca, berbicara, dan menulis secara berimbang.
Sesi pertama berlangsung pada Jumat, 23 Mei 2025 di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana.
Fokus utama sesi ini adalah keterampilan menyimak dan berbicara. Dihadiri oleh 26 peserta dari berbagai jenjang pendidikan, sesi ini dipandu oleh dua pakar terkemuka, Prof. Dr. Ni Luh Nyoman Seri Malini, S.S., M.Hum. dan Ni Ketut Santi Indriani, S.S., M.Hum.
Beragam aktivitas interaktif diterapkan dalam sesi ini, mulai dari simulasi berbicara, permainan peran, hingga latihan kolaboratif.
Pendekatan tersebut dirancang untuk memfasilitasi pembelajaran yang lebih reflektif, bermakna, dan menyenangkan, sejalan dengan esensi deep learning sebagai pendekatan yang membangun kesadaran dan pemahaman mendalam.
Sesi kedua dilaksanakan pada Jumat, 13 Juni lalu di Ruang Kelas Program Magister Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP Universitas Mahasaraswati Denpasar.
Kali ini, fokus pelatihan mengarah pada keterampilan membaca dan menulis serta integrasi strategi scaffolding dan literasi kritis dalam praktik pembelajaran.
Dalam sesi kedua ini, pelatihan dipandu oleh Dr. Anak Agung Putri Maharani, S.Pd., M.Pd. dan Made Hery Santosa, Ph.D., dengan pendampingan dari dua fasilitator sesi pertama. Peserta diajak menyelami strategi pengembangan tulisan, membaca kritis, dan refleksi melalui simulasi microteaching.
Melalui diskusi kelompok dan perencanaan pembelajaran bersama, para pendidik dilatih untuk menjadi fasilitator yang adaptif dan reflektif.
Peserta juga berkesempatan bertukar praktik baik yang telah mereka terapkan di sekolah masing-masing, memperkaya perspektif mereka dalam mendesain pembelajaran Bahasa Inggris.
Putu Tuty Ariyani, S.Pd., guru SMK Negeri 2 Denpasar sekaligus Ketua MGMP Bahasa Inggris SMK Kota Denpasar, menyampaikan apresiasinya terhadap pelatihan ini. Ia mengaku mendapatkan pemahaman baru yang aplikatif setelah hampir tiga dekade mengajar.
“Setelah 29 tahun menjadi guru, baru kali ini saya merasa benar-benar mendapat ilmu yang langsung bisa saya terapkan. Banyak hal yang dulu terasa sulit, ternyata bisa diajarkan dengan pendekatan yang lebih efektif dan menyenangkan,” ungkapnya antusias. (dik)
Editor : I Putu Mardika