SINGARAJA, BALI EXPRESS – Perkembangan teknologi Virtual Reality (VR) kian meluas ke berbagai bidang, termasuk dunia kesehatan dan pertanian. Salah satunya datang dari seorang mahasiswa Teknik Informatika semester 7, Undiksha, Bramanda, asal Bayuning. Bramanda tengah mengembangkan sejumlah game edukasi berbasis VR.
Tidak sekadar permainan, proyek ini menyasar fungsi yang lebih luas, yakni menjadi media simulasi untuk membantu pembelajaran di bidang medis dan pertanian. Hingga saat ini, ada tiga game yang berhasil dikembangkan. Pertama, simulasi persalinan normal. Kedua, simulasi pertanian berupa bertanam hingga panen kedelai. Ketiga, simulasi pengenalan organ paru-paru. Sementara itu, satu game lain tentang pengenalan otak masih dalam tahap pengembangan dan dijadikan sebagai bahan skripsi Bramanda.
“Kalau yang persalinan itu idenya muncul karena keterbatasan media praktek untuk mahasiswa kebidanan. Dengan teknologi VR, mereka bisa berlatih simulasi persalinan lebih nyata, tapi tetap aman,” ujar Bramanda saat ditemui di stand Creative Hub Buleleng Festival 2025, Selasa (19/8).
Untuk game pertanian, Bramanda dan timnya menargetkan petani. Melalui simulasi tanam dan panen kedelai, petani bisa mendapat gambaran proses kerja yang lebih efisien, meski disajikan dalam bentuk digital.
“Tujuannya membantu petani memahami langkah-langkah pertanian secara visual. Harapannya bisa menambah pengetahuan sebelum diterapkan langsung di lapangan,” tambahnya.
Baca Juga: Tari Magrumbungan, Tarian Buleleng yang Hidupkan Suasana Sawah di Atas Panggung
Sedangkan untuk game kesehatan lainnya, pengenalan organ paru-paru, fokusnya adalah memberi pengalaman visual dan interaktif bagi mahasiswa kedokteran. Dengan simulasi ini, mereka tidak hanya membaca teori dari buku, tapi bisa melihat dan berinteraksi langsung dalam bentuk 3D.
Bramanda menuturkan, ketiga game yang sudah selesai tersebut dikembangkan bersama tim. Sementara satu game khusus, yakni simulasi pengenalan neuroanatomy atau otak, merupakan karya yang ia garap sendiri untuk tugas akhir.
“Kalau yang otak ini memang skripsi saya. Jadi saya fokus ke bagaimana otak bisa divisualisasikan dalam simulasi VR,” jelasnya.
Proses pengembangan tidaklah singkat. Untuk satu game simulasi pertanian misalnya, membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga bulan. Waktu itu digunakan untuk membuat aset digital, menata ulang, hingga memastikan simulasi berjalan mulus.
Meski tergolong proyek mahasiswa, Bramanda mengaku mendapat dukungan dari kampus, terutama dari sisi fasilitas. Beberapa perangkat VR yang dibutuhkan memang sudah tersedia, meski untuk proses rendering ia masih sering mengerjakannya dari rumah.
Menariknya, pilihan untuk mengembangkan game VR di bidang kesehatan bukan tanpa alasan. Menurut Bramanda, membuat game hiburan biasa justru lebih sulit dari sisi pemasaran dan target pengguna. Sementara jika menyasar bidang medis dan pendidikan, pasar serta mitra kerjanya lebih jelas.
“Kalau bikin game hiburan enggak tahu pasarnya siapa, dan enggak ada mitranya. Tapi kalau di kesehatan, sudah jelas ada mahasiswa kedokteran atau kebidanan yang bisa menggunakan,” ucapnya.
Ia menambahkan, manfaat terbesar dari game VR ini adalah memberi pengalaman belajar visual yang lebih interaktif. Mahasiswa kedokteran, misalnya, bisa memahami teori sekaligus melihat langsung secara 3D bagaimana organ tubuh bekerja.
Namun, ada batasan dalam penggunaan. Karena sifat VR yang cukup intens, pengguna umumnya disarankan tidak lebih dari 50 menit agar tidak mengalami pusing.
“Kalau yang sudah terbiasa mungkin bisa satu jam. Tapi untuk pemula, idealnya maksimal 50 menit,” jelasnya.
Proyek yang dikerjakan Bramanda ini menjadi bukti bahwa inovasi mahasiswa bisa menjawab kebutuhan masyarakat. Mulai dari dunia pertanian hingga kedokteran, simulasi berbasis VR ini menghadirkan pengalaman belajar yang lebih kaya, aman, dan efisien.
“Harapan saya, karya ini bisa terus dikembangkan, tidak hanya sebatas skripsi, tapi benar-benar bisa dimanfaatkan lebih luas oleh mahasiswa maupun praktisi di bidang kesehatan dan pertanian,” kata Bramanda. ***
Editor : Dian Suryantini