Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tim Sepak Takraw Buleleng, 'Sarang' Atlet dari Desa Pakisan

Dian Suryantini • Rabu, 3 September 2025 | 23:59 WIB

Pertandingan sepak takraw kontingen Buleleng pada Porprov Bali.
Pertandingan sepak takraw kontingen Buleleng pada Porprov Bali.

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS — Di tengah gemuruh sorak-sorai Porprov XVI Bali 2025, ada kisah unik. Di Lapangan Bulutangkis Praja, Dalung-Badung, hingga 6 September 2025, pertandingan Sepak Takraw berlangsung. Para atlet dengan penuh kesadaran dan semangat bertanding. Tentu saja, yang dikejar adalah prestasi. Medali di tangan, maka jawaralah targetnya.

Dari 25 anggota tim sepak takraw Kontingen Buleleng, 90 persen berasal dari Desa Pakisan, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng—termasuk atlet, pelatih, dan ofisial.

Sebuah fenomena yang oleh warga Bali disebut “sebunan”, atau kelompok yang berasal dari satu tempat dan berkembang turun-temurun. Di Pakisan sendiri, sepak takraw telah berkembang selama 38 tahun. Atlet-atlet berpotensi dominan berasal dari wilayah desa itu.

Kisah ini berawal pada 1987, ketika seorang guru Pendidikan Moral Pancasila (PMP) bernama Made Wijana memperkenalkan olahraga ini di SD N 1 Pakisan. Dari seorang guru yang mengajar murid-muridnya, sepak takraw tumbuh menjadi denyut nadi desa.

“Saya salah satu murid beliau, dulu jadi atlet sampai sekarang jadi pengurus,” kata I Gede Sudarmika, pelatih tim sepak takraw Buleleng.

Dari SD N 1 Pakisan, virus sepak takraw menyebar ke seluruh desa—mulai dari SD, SMP, hingga tingkat umum. Bahkan, ketika Made Wijana pindah tugas ke Desa Bila, olahraga ini ikut berkembang di sana, menyebarkan akarnya lebih luas.

Kini, Desa Pakisan benar-benar menjadi pusat pembibitan atlet takraw. Di sana, lebih dari seratus orang mahir bermain sepak takraw, dan sebagian besar dari mereka adalah mantan atlet. Proses regenerasi pun terjamin, dimulai sejak dini. SD N 4 Pakisan memiliki ekstrakurikuler khusus sepak takraw, sementara anak-anak lainnya berlatih bersama di GOR Desa. Untuk jenjang SMP, ada SMP N 4 Kubutambahan yang juga berlokasi di Desa Pakisan.

Baca Juga: Woodball Sumbang Emas Perdana untuk Buleleng di Porprov Bali 2025

Saking banyaknya pemain, Desa Pakisan bisa menggelar turnamen internal dengan lebih dari sepuluh regu. “Bahkan bisa diklasifikasikan pertandingannya, untuk umum, dewasa, remaja dan pemula,” ujar Sudarmika.

Porprov kali ini menjadi panggung bagi para atlet muda Buleleng. Sekitar 50 persen dari 12 atlet putra adalah wajah-wajah baru, sementara di tim putri, 70 persen dari 8 atlet masih berusia 15-20 tahun. Mereka baru pertama kali mencicipi ketatnya persaingan di level Porprov Bali.

Salah satu yang mencuri perhatian adalah Ni Kadek Keisi Kusuma,16, atlet putri yang duduk di bangku kelas 10 SMK Negeri 1 Singaraja. Meskipun debutan, penampilannya di lapangan sangat memukau. Dengan gaya selebrasi yang ceria dan energik, ia seolah menari di atas lapangan. Pelatihnya terkadang sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Keisi.

Pada pertandingan hari pertama, Keisi berpasangan dengan Luh Purnama Asih, yang juga masih kelas 10. Duet muda ini berkali-kali membuat lawan kewalahan. Saat ditanya apakah mereka satu banjar (lingkungan), Keisi menjawab sambil tertawa, “Semua ini dari satu Desa Pakisan,” kata dia.

Jawaban tersebut seakan menegaskan bahwa bagi warga Pakisan, sepak takraw adalah takdir yang mengalir dalam darah mereka. Seperti candaan Keisi, “Kami dari baru dilahirkan sudah pasangkan jadi atlet takraw, bahkan dari dalam kandungan,” disambut tawa oleh semua atlet yang berkumpul. 

Perjuangan tim sepak takraw Buleleng di Porprov XVI Bali 2025 membuahkan hasil. Tim Beregu Putra berhasil meraih medali perunggu setelah berjuang keras hingga semifinal. Sementara itu, Tim Double Putri harus melanjutkan perjuangan di hari berikutnya.

Namun, di balik kegemilangan ini, ada kekhawatiran yang disampaikan oleh Ketua Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI) Kabupaten Buleleng, Made Tresna Wijaya. Sebagai salah satu generasi pertama yang mengembangkan olahraga ini di Bali, ia melihat adanya krisis.

“Takraw di Bali sedang krisis. Porprov sekarang, hanya diikuti oleh 6 kabupaten. Tabanan, Klungkung dan Karangasem absen. Olahraga lama tapi belum bisa berkembang baik. Dan  di Buleleng hanya di Desa Pakisan sekitarnya, ya Kubutambahan yang lain tidak ada,” ujarnya.

Kekhawatiran ini ternyata dirasakan juga oleh Ketua Umum KONI Buleleng, Ketut Wiratmaja. Ia telah lama mengamati perkembangan cabang olahraga ini. Selama tiga kali kepengurusan, cabang olahraga sepak takraw hanya berkembang di Buleleng Timur, tepatnya di Desa Pakisan dan sekitarnya.

“Saya berharap cabor ini bisa dikembangkan hingga ke kota dan Buleleng Barat, karena saya melihat ada potensinya,” kata Wiratmaja.

Saat ini cabor sepak takraw sedikit demi sedikit bergeser ke Desa Sambangan. Siswa di SDN 2 Sambangan mulai diajarkan teknik permainan sepak takraw. Hal ini diharapkan bisa menjadi pendorong perkembangan takraw di wilayah kota Singaraja.

“Di sekolah ini sudah mulai berkembang. Tapi yang saya lihat belum seperti di Desa Pakisan. Tapi tidak masalah. Ini sebagai awalan untuk perkembangan selanjutnya,” tutupnya. ***

Editor : Dian Suryantini
#medali #pakisan #koni buleleng #kubutambahan #sepak takraw #porprov bali 2025 #buleleng