BALIEXPRESS.ID- Cuaca ekstrem yang diprediksi terjadi pada akhir tahun 2025 hingga awal tahun depan mendapat perhatian serius dari anggota DPRD Bangli I Made Sudiasa.
Ia menilai langkah antisipasi harus dilakukan lebih awal oleh Pemkab Bangli untuk mencegah terulangnya bencana menelan banyak korban jiwa yang pernah menimpa Bangli.
Sudiasa mengatakan pemerintah tidak boleh menunggu bencana datang untuk bergerak.
Ia menegaskan bahwa berbagai kejadian di daerah lain harus dijadikan pelajaran bagi Bangli dalam melakukan antisipasi.
"Harus berkaca dari kejadian di Sumatera dan Aceh," pesan Sudiasa, Rabu (3/12/2025).
Politikus Partai Demokrat ini menyoroti pentingnya kesiapan SDM dan peralatan dalam menghadapi cuaca ekstrem.
Informasi cuaca yang cepat dan akurat disebutnya sangat penting untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat.
“Kesiapan SDM, alat, dan yang tidak kalah penting menyampaikan informasi cuaca kepada masyarakat agar siaga mengantisipasi bencana,” tegasnya.
Sudiasa mengingatkan agar kejadian di Songan tidak terulang kembali.
Pada 2017, Bangli dilanda bencana tanah longsor besar yang menewaskan 12 orang di tiga desa di Kecamatan Kintamani. Korban terbanyak berada di Songan.
Ia menyebut kondisi geografis Bangli membuat wilayah ini sangat rentan terhadap bencana tanah longsor.
Oleh karena itu, langkah mitigasi dan edukasi masyarakat harus menjadi agenda rutin pemerintah.
“Bangli ini dengan kulturnya termasuk rawan bencana seperti tanah longsor,” ujar anggota dewan asal Desa Undisan, Kecamatan Tembuku ini.
Sudiasa menilai simulasi bencana perlu dilakukan lebih sering terutama di daerah rawan untuk memastikan kesiapan masyarakat maupun aparat.
Ia menegaskan bahwa kelambanan sering muncul karena pihak terkait tidak siap menangani situasi mendadak.
Bahkan bencana ringan pun sering ditangani lambat. "Penanganan pohon rebah saja kadang berjam-jam, harus menunggu alat dan lainnya,” ungkapnya.
Sudiasa menegaskan bahwa seluruh sarana prasarana harus disiapkan sejak sebelum cuaca buruk terjadi.
Ia menilai kesiapan dini menjadi kunci untuk mengurangi dampak dan mempercepat respons bencana.
"Kesiapan SDM, alat dan lainnya harus sudah siap," tanda Sudiasa. (*)
Editor : I Made Mertawan