Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Titik 9–10 Dikebut, Koster Pacu Penyelesaian Shortcut Singaraja–Mengwitani

Dian Suryantini • Rabu, 7 Januari 2026 | 13:50 WIB

Pengerjaan titik 9-10 proyek jalan Singaraja-Mengwitani di Desa Gitgit, Buleleng.
Pengerjaan titik 9-10 proyek jalan Singaraja-Mengwitani di Desa Gitgit, Buleleng.

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Pembangunan Jalan Shortcut Singaraja–Mengwitani kembali bergerak. Setelah bertahun-tahun menjadi proyek strategis yang ditunggu masyarakat Bali Utara, lanjutan pembangunan di Titik 9 dan 10 resmi dimulai. Gubernur Bali Wayan Koster menandai dimulainya pekerjaan itu melalui Upacara Adat Ngeruak dan Ground Breaking di Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Rabu (7/1).

Ruas jalan sepanjang 61,37 kilometer ini menjadi urat nadi pergerakan orang dan barang dari Bali Utara menuju pusat-pusat ekonomi dan pariwisata di Bali Selatan. Namun kondisi eksistingnya menyimpan risiko tinggi. Kelandaian jalan mencapai 27 persen, tikungan tajam berlapis, serta catatan kecelakaan rata-rata sekitar 140 kejadian per tahun dengan 16 korban meninggal dunia.

Gubernur Wayan Koster menegaskan bahwa percepatan penuntasan shortcut menjadi prioritas utama sejak dirinya kembali dilantik untuk periode kedua pada 20 Februari 2025. Tak lama setelah pelantikan, ia langsung berkoordinasi dengan Menteri Pekerjaan Umum untuk memastikan keberlanjutan proyek yang dirancang dari Titik 1 hingga Titik 12.

“Shortcut ini bukan proyek biasa. Ini soal keselamatan, efisiensi, dan keadilan pembangunan antara Bali Utara dan Selatan. Karena itu saya dorong agar Titik 9 dan 10 bisa segera dilanjutkan,” ujar Koster.

Ia menegaskan, proyek ini tetap berjalan sesuai mekanisme. Tender, kontrak, hingga kesiapan teknis dikawal agar tidak berlarut-larut. Pemerintah Provinsi Bali, kata Koster, mengambil peran krusial melalui percepatan pembebasan lahan agar proyek tidak tersendat di lapangan.

“Bukan mengintervensi, tapi memastikan semua tahapan berjalan. Setelah siap, saya carikan hari baik. Dan hari ini kita mulai,” katanya.

Gubernur Bali Wayan Koster melakukan peletakan batu pertama di area proyek shortcut.
Gubernur Bali Wayan Koster melakukan peletakan batu pertama di area proyek shortcut.

Pekerjaan Titik 9 dan 10 dibagi ke dalam dua paket besar. Paket 1 memiliki nilai kontrak Rp290,84 miliar dengan masa pelaksanaan 750 hari kalender. Paket ini ditangani oleh Waskita–Sinarbali KSO, dengan konsultan supervisi PY. Wesitan Konsultasi Pembangunan KSO bersama PT Perentjana Djaya dan PT Narada Karya.

Total panjang penanganan Paket 1 mencapai 1,525 kilometer, meliputi pembangunan jalan sepanjang 0,93 kilometer serta tiga jembatan dengan total panjang 593 meter. Seluruh pendanaan bersumber dari Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) Tahun Anggaran 2025–2027.

Sementara itu, Paket 2 memiliki nilai kontrak Rp187 miliar, juga dengan masa pelaksanaan 750 hari kalender. Pekerjaan ini dikerjakan oleh Nindya–TJS KSO, dengan konsultan supervisi yang sama. Total panjang penanganan Paket 2 mencapai 1,100 kilometer, mencakup pembangunan jalan sepanjang 0,88 kilometer dan dua jembatan dengan panjang total 220 meter.

Direktur Pembangunan Jalan Direktorat Jenderal Bina Marga, Asep Syarif Hidayat, menjelaskan bahwa perbaikan geometrik jalan ini membawa dampak signifikan. Waktu tempuh yang sebelumnya mencapai 21,22 menit dipangkas menjadi 8,61 menit. Jumlah tikungan berkurang dari 58 titik menjadi 21 titik. Kelandaian jalan diturunkan hingga maksimal 10 persen.

“Yang paling penting adalah keselamatan. Dari kondisi sangat berbahaya, diturunkan menjadi kategori aman. Ini akan menyelamatkan banyak nyawa,” ujar Asep.

Tak hanya itu, perbaikan ini juga berdampak pada efisiensi energi dan lingkungan. Dengan alur jalan yang lebih landai dan lurus, emisi karbon kendaraan diperkirakan turun hingga 10 persen.

Sejak 2018, penanganan shortcut Singaraja–Mengwitani telah dimulai melalui sejumlah paket pekerjaan dengan total nilai sekitar Rp486 miliar. Pemerintah Provinsi Bali sendiri telah membebaskan 316 bidang tanah senilai Rp193 miliar untuk mendukung berbagai titik, mulai dari Paket 3, 4, 5–6, hingga 7 dan 9–10.

Gubernur Bali Wayan Koster menyimak pemaparan proyek dari Direktur Pembangunan Jalan, Asep Syarip Hidayat.
Gubernur Bali Wayan Koster menyimak pemaparan proyek dari Direktur Pembangunan Jalan, Asep Syarip Hidayat.

Namun pekerjaan belum sepenuhnya selesai. Untuk menuntaskan seluruh ruas, masih dibutuhkan pembangunan lanjutan di Titik 1–2, Paket 3 Titik 9–10, serta Titik 11–12 dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp512 miliar. Medan tersulit berada di Titik 11 dan 12, yang direncanakan mulai tahap pembebasan lahannya pada 2026, dengan target konstruksi akhir 2027 atau awal 2028.

Gubernur Koster kembali menegaskan targetnya shortcut Singaraja–Mengwitani harus tuntas hingga Titik 12 sebelum masa jabatannya berakhir pada 20 Februari 2030.

Di sisi lain, Koster mengaitkan pembangunan infrastruktur ini dengan keberlanjutan Bali sebagai destinasi wisata kelas dunia. Ia menyebut sektor pariwisata menyumbang sekitar 66 persen perekonomian Bali. Hingga akhir 2025, jumlah kunjungan wisatawan mencapai 7,05 juta orang, tertinggi sepanjang sejarah.

“Kalau ada yang bilang Bali sepi, itu tidak tepat. Justru aktivitasnya sangat tinggi. Tantangannya sekarang adalah kemacetan dan tekanan lingkungan,” ujarnya.

Gubernur Bali Wayan Koster, resmikan pembangunan jalan batas kota Singaraja-Mengwitani (SC titik 9 dan 10) di Desa Gitgit, Buleleng.
Gubernur Bali Wayan Koster, resmikan pembangunan jalan batas kota Singaraja-Mengwitani (SC titik 9 dan 10) di Desa Gitgit, Buleleng.

Menurutnya, kemacetan tidak bisa diselesaikan dengan wacana semata. Infrastruktur jalan dan konektivitas antar wilayah menjadi kunci. Shortcut Singaraja–Mengwitani adalah bagian dari upaya besar menghubungkan Bali Utara, Selatan, Timur, Barat, dan Tengah secara lebih adil dan efisien.

“Kualitas nomor satu dan harus tepat waktu. Jangan molor. Saya pantau langsung,” katanya.

Jika berjalan sesuai rencana, shortcut Singaraja–Mengwitani bukan hanya akan memangkas jarak dan waktu, tetapi juga menutup jurang ketimpangan pembangunan Bali Utara–Selatan, sekaligus menjawab kebutuhan keselamatan dan keberlanjutan Bali ke depan. ***

Editor : Dian Suryantini
#bali utara #pariwisata #gitgit #shortcut #singaraja #jalan