BALI EXPRESS, DENPASAR - Berbagai kesenian turut ditampilkan pada gelaran Bali Mandara Mahalango ke-4. Salah satunya adalah Sanggar Manik Bang Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo, Jembrana yang menampilkan Jegog Tempo Dulu Kamis (13/7) kemarin di Kalangan Madya Mandala, Taman Budaya Art Center, Denpasar.
Kordinator Sanggar Manik Bang, I Putu Natih Sutardi, S.Skar menjelaskan, dalam sajiannya di pentas Bali Mandara Mahalango ini menmpilkan Jegog Tepo Dulu, namun tetap dikolaborasikan dengan kesenian modern. Kolaborasi itu terlihat dalam musik yang menghasilkan alunan yang menggugah dan diwujudkan melalui lagu-lagu yang dibawakan selama jalanya pementasan.
Natih Sutardu mengatakan, total terdapat tujuh lagu yang dipentaskan, ketujuh materi penampilan itu meliputi tabuh Teruntungan yang merupakan tabuh pembuka wajib setiap dilaksanakanya pementasan Jegog khas Jembrana. Setelah itu dilanjutkanj dengan Tari Cempaka Putih yang menceritakan keindahan dan pesona Bunga Cempaka. Berikutnnya dilanjutkan dengan Tabuh Pembuka Murti Suara. Tabuh ini memiliki tempo yang mampu memicu semangat keagungan nada yang menyengat keheningan untuk merenungi indahnya kedamaian.
Menyusul kemudian Tari Luwihning Paksi dimana menggambarkan keindahan dan kelincahan burung Jalak Putih yang merupakan burung khas Taman Nasional Bali Barat. Setelah tari, kembali ke tabuh, yakni tabuh Ajeg Bali. Usai tabuh Ajeg Bali langsung menyusul tari Jejogedan. Tari ini sering disebut tari ibing-ibingan dan sebagai tari pergaulan. Hanya saja jejogedan Jembraana agak berbeda dengan joged yang umumnya di Bali. “Jejogedan dalam Jegog terasa lebih energik dan cepat karena menyesuaikan denga irama jegog yang semangat dan energik,” terangnya.
Adapun penampilan pamungkas sekaa Jegog asli jembrana ini adalah dengan memainkan lagu kebangsaan, Lagu Maju Tak Gentar. “Konsep pementasan ini sebenarnya seperti jegog biasanya, hanya saja saya sesuaikan dengan tempat pementasan. Maksudnya saya mengambil dari kearifan lokal dimana kami pentas,” terang Natih Sutardi Misalnya ketika, Sanggar Manik Bang tampil di Jawa maka kearifan local di Jawa yang diadopsi dalam materi pementasan. Termasuk ketika tampil di luar negeri seperti Jepang. Mereka menyesuaikan deng kondisi Jepang. Berdasarkan catatan Natih Sutardi, sudah lebih dari 14 kali mereka pentas di negeri sakura.
Pengamat seni, Kadek Wahyudita,S.Sn mengapresiasi upayua kreatif yang ditampilkan dalam pementasan Jegog khas Jembrana ini. Dimana upaya kreatif yang dimaksud Wahyudita meliputi upaya mengkolaborasikan antara jegog dan gamelan, mengadaptasi lagu dan musik diatonik ke musik pentatonik. Upaya-upaya itulah yang menurut Wahyudita memang perlu mendapat apreasiasi.
Apreasiasi lainnya datang dari kurator Bali Mandara Mahalango, Dr. I Nyoman Astita, M.A. Seniman asal Kaliungu ini lebih menyoroti soal peremajaan penabuh jegog pada Sanggar Manik Bang. “Bagus dari sisi peremajaan. Kita jadi tidak takut kehilangan penabuh jegog,” ulas Astita saat ditemui usai pementasan jegog.
Selain itu, bentuk pengembangan dari yang klasik kemudian dikolaborasikan dengan ciptaan-ciptaan baru seperti tari kreasi baru juga perlu mendapat apresiasi. Hal ini dikarenakan jarang ada Jegog yang mempersembahkan tari kreasi apalagi dipadukan dengan musik modern. “Demikian pula soal nada jegognya yang empat nada mereka kolaborasikan dengan gamelan yang termasuk pentatonic. Jadi hasilnya saling melengkapi,” jelas Astita.
Walau begitu tidak ada yang sempurna di dunia ini. Termasuk pementasan Sanggar Manik Bang. Kedepan ada beberapa catatan yang mendapat sorotan dari Astita dan Wahyudita. “Dari segi teknik masih perlu ditingkatkan. Tata panggung seperti lampu warna karpet, warna pajeng yang dominasi warna merah dan kostum pemain yang warna kuning terasa kurang pas,” sebut Wahyudita. Sementara Astita menggarisbawahi beberapa hal ke depan untuk diperbaiki. “Diantaranya sense of pentas (dari penabuh dan penari) yang perlu diperbaiki agar lebih professional,” saran Astita.
Editor : I Putu Suyatra