Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Beratha Yasa Melukis Pura setelah Mendapat Pawisik

I Putu Suyatra • Jumat, 28 Juli 2017 | 15:05 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, KAPAL - Seni lukis adalah salah satu seni yang mengasyikkan. Berbagai hal bisa dituangkan dalam lukisan. Bahkan tak jarang sebuah lukisan menyimpan rahasia yang sengaja disimpan sang pelukis lewat kuas.


Bagi salah satu pelukis I Wayan Beratha Yasa, melukis tak hanya sekedar memberikan warna pada kanvas, melainkan ada pesan yang tergambar dalam lukisan tersebut. Bahkan setahun belakangan, lansia 73 tahun ini giat melukis pura yang ada di Bali. Hal itu dilakukannya konon setelah medapat pawisik atau bisikan gaib. “Saya bergairah melukis, sepertinya ada pawisik dan saya bermimpi, sebelum saya meninggalkan dunia ini agar melukis pura yang ada di Bali maupun luar Bali,” ungkapnya di sela-sela pameran lukisan di rumahnya, Banjar Langon, Desa Kapal, Mengwi pada Minggu (23/7) lalu.


Dikatakannya, setelah mendapat pawisik tersebut, dia pun giat mendatangi pura dan mencari pemandangan yang indah. Berbekal kamera yang menjadi teman setianya selama menjalankan hobi fotografi, Beratha Yasa menaiki sepeda motor vespa tuanya keliling Bali. Setelah mendapat foto yang pas, dia pun menyalinnya di atas kanvas. “Dengan melukis pura tersebut, saya punya tujuan mendekatkan diri kepada Ida Hyang Widhi atau Tuhan Yang Maha Kuasa. Setiap saya melukis, saya selalu berdoa agar diberikan keselamatan,” ujarnya.


Apalagi seperti katanya, sebagai seniman dan putra Bali, ada satu prinsip yang selalu dia pegang, yakni keinginannya untuk mengabadikan tradisi dan budaya Bali lewat lukisan. “Saya orang Bali pelukis, melukis yang Bali. Apapun yang ada di Bali, saya tuangkan di atas kanvas. Saya teringat seniman karikatur yang terkenal yang mengatakan, seni itu lestari, hidup itu singkat. Seni itu lestari sepanjang zaman, asalkan hasil karya itu tidak rusak. Sementara, kita hidup singkat,” terangnya.


Bahkan saking cintanya terhadap seni lukis, dia berharap jika meninggal kelak, lukisan dan benda seni yang ada agar disimpan dengan dibuatkan tempat yang layak. “Saya berpesan kepada anak cucu, jika saya meninggal kelak, lukisan dan benda seni lainnya supaya dipelihara dengan baik, dan bila perlu dibuatkian gedung museum. Sehingga tidak melupakan sejarah,” tambahnya.


Tak berhenti disitu, semangat mantan pegawai Pemkab Badung ini masih berapi-api, tatkala menyampaikan keinginannya untuk menggelar pameran pertama bersama seniman-seniman lainnya, ketika Gedung Budaya yang digarap Badung selesai. “Kami perupa se-Badung akan pertama kali pameran. Sementara saat ini kami para seniman masih didata oleh Dinas Kebudayaan Badung,” katanya penuh semangat.


Lebih lanjut, Beratha Yasa saat ini fokus melukis tentang pura dan alam. Ratusan lukisannya yang digarap semenjak Maret 2016 senantiasa bertema pura, pemandangan alam, danau, sawah, pantai, gunung, dan tarian Bali. Pesan yang ingin disampaikannya yakni pentingnya melestarikan alam bagi kehidupan. Bahkan, dia mengaku terinspirasi dari kain warna-warni hitam-putih yang oleh orang Bali biasa disebut saput poleng. “Di depan pura biasanya ada pohon dan diberikan saput poleng. Pohon tersebut tidak diizinkan ditebang. Kadang-kadang katanya ada penunggunya. Itu sebenarnya termasuk pelestarian,” ujarnya.


Meski demikian, dia mengharapkan, tanpa saput poleng pun hendaknya pohon-pohon senantiasa dijaga keberadaannya, dengan tidak melakukan penebangan secara liar atau sembarangan. “Kalau pohon habis, danau tak berair, matilah kita. Itu saya berusaha ikut melestarikan. Selain itu, pura juga agar dilestarikan. Malahan kalau rusak diperbaiki,” imbau pria yang telah mendapat penghargaan seni dari Pemprov Bali dan Kabupaten Badung ini.


Di samping itu, Beratha Yasa juga ingin mempromosikan tempat wisata yang ada di Bali pada umumnya, dan di Badung khususnya, termasuk di desa kelahirannya, Desa Kapal. “Walaupun objek wisata tersebut sudah dikenal, namun saya ingin mempromosikan lewat lukisan. Khususnya Kapal yang termasuk desa wisata. Desa wisata kan banyak objek wisatanya, Pura Sada misalnya, saya berusaha promosikan lewat lukisan,” paparnya.


Mengenai aliran, Beratha Yasa yang juga hobi tulis-menulis mengatakan, lebih mempertahankan aliran naturalis. Walau pun sang anak, I Nyoman Suyasa cenderung ke aliran abstrak. “Kalau anak saya suka yang abstrak. Sedangkan saya pertahankan naturalis. Lukisan naturalis orang awam bisa tahu secara gamblang,” ujarnya.


Walaupun seperti katanya, naturalis kerap dibilang kuno. Tapi bagi dia, dirinya tetap lebih memilih mempertahankan aliran naturalis. “Saya mengikuti Basuki Abdullah, Abdul Azis, tetap naturalis. Sebab kalau belajar melukis, naturalis harus bisa dulu. Kalau tidak bisa naturalis, sebaiknya jangan ke abstrak. Kadang-kadang kan orang tidak bisa naturalis, sukeh (sulit), kalau abstrak dianggap mudah. Ini keliru,” terangnya. Meski demikian, dia tak menampik pernah mencoba membuat lukisan abstrak, namun ada temannya yang mengingatkan agar dirinya tetap mempertahankan naturalis. 

Editor : I Putu Suyatra
#lukisan #badung