BALI EXPRESS, DENPASAR - Memasuki hari ke-19, gelaran Bali Mandara Mahalango tetap mampu mengundang daya tarik penonton. Hal ini dikarenakan persembahan Sanggar Semara Ratih yang membawakan tari dan tabuh kreasi. Sanggar yang berasal dari Ubud, Kabupaten Gianyar, ini membawakan tarian di masing-masing jaman di kalangan Madya Mandala, Taman Budaya, Denpasar, Kamis malam (27/7).
Koordinator Sanggar Semara Ratih, Ubud, Gianyar, A.A. Anom Putra menjelaskan bahwa pada Gelaran Bali Mahalango menampilkan karya-karya seni tari dan tabuh dari tiga jaman berbeda. Yakni seni lokal yang tergolong klasik, dilanjutkan dengan seni setelah ada perkembangan. Dan ada karya seni modern.
“Karena saya ingin memperlihatkan kepada penonton tentang perbandingan dan perbedaan dari perkembangan seni tari dan tabuh di Bali dari dulu hingga saat ini,” ujar Anom Putra.
Sehingga menurut Anom Putra, penonton dapat merasakan perbedaan dari karya-karya seni tari dan seni tabuh di Bali. Pementasan ini sekaligus memberi kesempatan kepada penonton bagaimana rasanya menonton seni tari dan seni tabuh dari tiga jaman sekaligus di satu panggung secara bergiliran.
Adapun materi yang dibawakan Sanggar Semara Ratih yakni Tari Cilinaya, Tari Amangun Semara yang menceritakan tentang dewa Siwa yang melakukan yoga semadhi dengan tekun di gunung Mahameru. Ia tak acuh dengan segala sesuatu yang memikat panca indera. Ada juga tari Gadung Melati dan Tari Legong Atma Prasangsya. Penampilan tari-tarian ini, diselang-seling dengan tabuh. Diantaranya tabuh Punarbawa, tabuh Hujan Arja dan tabuh Manuk Aguci sebagai pembuka pementasan, “Tadi ada tabuh yang direkontruksi yaitu ada tabuh Manuk Aguci yang diciptakan tahun 1950 an,” jelas Anom.
Pengamat seni sekaligus kurator Bali Mandara Mahalango IV, Prof. Dr. I Made Bandem, MA menjelaskan Bali Mandara Mahalango memang memiliki tujuan menginventarisasikan karya-karya yang sudah populer jaman dulu dan sekarang dikembalikan. Bandem menilai pementasan Sanggar Semara Ratih bagus dan ada semacam revitalisasi seni tabuh dan tari-tarian yang diciptakan pada tahun 1986 seperti tari Cilinaya karya Prof. Dr. I Wayan Dibia, SST,MA. “Juga ada tadi tari penyambutan yang saya duga lebih klasik dari tari-tari penyambutan yang ada sekarang,” katanya.
“Ini sebagai satu bentuk penyelamatan dan kaderisasi dari gong-gong gebyar yang telah lama diciptakan,” ungkap Bandem.
Editor : I Putu Suyatra