BALI EXPRESS, SINGARAJA -Tradisi memunjung saat perayaan Pagerwesi di Desa Pakraman Buleleng selalu menarik perhatian. Masyarakat yang memiliki sanak keluarga sudah meninggal, namun belum diaben berbondong-bondong mendatangi setra (kuburan, Red). Mereka menghaturkan punjung sebagai wujud penghormatan terhadap leluhur yang telah meninggal. Tapi, karena banyak jasad yang sudah dibakar, krama yang memunjung pun tiap tahun berkurang.
Aktivitas warga di Setra Buleleng, yang berlokasi di Jalan Gajah Mada, Banjar Jawa, Singaraja sudah terlihat sejak pukul 06.00. Mereka terlihat menghaturkan sesajen di atas kuburan sanak saudara. Sesajen seperti banten punjung sudah tertata rapi dihaturkan di atas kuburan.
Seperti dilakukan Nyoman Widiarsa, 63, warga yang bermukim di wilayah Banjar Jawa, Singaraja. Widiarsa mengaku sudah datang ke setra sejak pukul 06.00 Wita. Dia membawakan banten punjung untuk dipersembahkan kepada almarhum Ketut Gede, yang tak lain adalah pamannya sendiri. Pamannya tersebut meninggal sekitar dua bulan lalu, tepatnya 20 Juni 2017.
Menurutnya ada rasa keterpanggilan untuk senantiasa mempersembahkan banten punjung selama almarhum belum diaben saat Perayaan Pagerwesi. Bahkan dirinya juga membawa makanan kesukaan almarhum semasih hidupnya.
“Setelah sembahyang di sanggah merajan, saya bersama saudara langsung menuju setra. Ini mau menghaturkan punjung buat pamannya yang sudah almarhum. Ini juga bawa nasi kuning, dengan lauk ayam suwir, kesukaan almarhum semasih hidup,” ujar pensiunan Guru di SMAN 1 Singaraja, Rabu (23/8) kemarin.
Dikatakan Widiarsa, banten punjung memang diperuntukkan bagi orang meninggal. Seusai menghaturkan banten punjung, dirinya tidak langsung pulang. Bersama keluarganya Widiarsa bersantap di setra, dengan menikmati bekal yang sudah dibawanya dari rumah sembari bercengkrama.
“Ini wujud penghormatan kami terhadap para leluhur yang telah meninggal. Makan di setra, dengan membawa makanan kesukaan almarhum semasih hidup, serasa sedang makan bersama beliau,” tuturnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Seperti biasa, sehari sebelum membawa banten punjung, dirinya sudah datang terlebih dahulu ke kuburan almarhum untuk membersihkan areal kuburan. Tujuannya biar nyaman saat berdoa di kuburan. “Sehari sebelumnya areal kuburan harus kami bersihkan, biar enak saat sembahyang dan makan bersama,” katanya.
Di tempat terpisah, Kelian Desa Pakraman Buleleng, Nyoman Sutrisna menjelaskan tradisi memunjung setiap pagerwesi oleh warga Desa Pakraman Buleleng sudah dilaksanakan secara turun temurun. Di sisi lain, dirinya tak menampik, jika saban hari krama yang melaksanakan tradisi ini kian sedikit. Pasalnya sudah banyak jasad yang sebelumnya dikubur telah diaben.
“Memang tradisi memunjung kian hari semakin sedikit, karena yang meninggal tersebut sudah diaben. Selain itu, masyarakat semakin sadar, saat sanak keluargannya meninggal, jasadnya langsung dibakar, ataupun menkingsan di geni. Kalau dibakar jasadnya kan sanak saudaranya tidak perlu memunjung di kuburan,” paparnya.
Editor : I Putu Suyatra