BALI EXPRESS, MANGUPURA - Pura Dukun Sakti adalah sebuah pura kuna yang terletak di sebelah utara Balai Banjar Tuban Griya, Badung. Masyarakat Bali maupun luar Bali sering mengunjungi pura yang tergolong 'pingit' atau angker ini. Mereka datang tak hanya untuk memohon kesembuhan , tapi juga untuk mendapatkan Taksu (kharisma) berkesenian.
Tak Banyak umat Hindu yang mengetahui keberadaan Pura Dalem Dukuh Sakti ini. Sebab, pura yang berada di utara Banjar Tuban Griya ini merupakan pura milik keluarga besar Arya Wang Bang Pinatih. Namun, siapa pun dapat mengunjungi tempat suci ini, apalagi diyakini mampu memberikan petunjuk kesembuhan bagi segala penyakit.
Pura ini pada mulanya dibangun secara bertahap. Pertama dari utara menuju selatan dan selanjutnya diikuti oleh bangunan lainya. Ada beberapa pelinggih (tugu) yang ada di lingkungan Pura Dalem Dukun ini. Ada Padmasana yang merupakan palinggih Ida Bhatara Puncak Mahameru, Gedong yang merupakan palinggih Ratu Gede Dalem Ped, Padmacapah yang merupakan palinggih Pramanca Mahajenarantaka. “Ada juga Padma Kembar yang merupakan palinggih Dalem Blambangan, Tugu Capah yang merupakan palinggih Jero Gede, Gedong Dalem Majapahit, Tajuk Pengaruman dan Palinggih Perahu", ujar Jro Mangku I Wayan Pugig atau yang lebih dikenal dengan Mangku Lingsir kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Kamis (1/12/2016).
Jro Mangku Lingsir yaang menjadi penerus Jro Gede Mangku Wayan Patra (alm), pangempon dan juga panglingsir Pura Dukun Sakti ini, menambahkan, pura yang diempon oleh sekitar 40 maksan aktif ini, pembangunannya dilakukan bertahap.
Hal itu menyebabkan fisik pelinggih menjadi berbeda, menjadi lebih indah dan tertata rapi.
Pasir malela merupakan bahan yang dipilih untuk mengganti keseluruhan palinggih di Pura Dukun sakti. Setelah pemugaran selesai dilaksanakan Upacara Ngenteg Linggih dan Padudusan Agung. Total biaya keseluruhan pemugaran pura dan karya ngenteg linggih kurang lebih Rp 30 juta. Adapun pujawali di pura ini dilangsungkan pada Purnama Sasih Katiga.
Dikatakan Mangku Lingsir, beberapa orang yang pernah meminta petunjuk di pura ini tak jarang yang ikut menjadi anggota maksan. Namun, seiring bertambahnya usia yang bersangkutan, maksan tersebut sering dilupakan sehingga menyebabkan berkurangnya jumlah warga maksan.
Dituturkannya, banyak warga yang tangkil saat pujawali, baik dari Bualu, Nusa Dua, Kuta, dan Kedonganan. Bahkan, masyarakat dari luar Badung banyak pula berdatangan, dan sebagian dari mereka adalah orang yang pernah memohon petunjuk di pura ini.
Pura diduga memiliki kaitan erat dengan pura-pura yang berada di Bali, salah satunya dengan Pura Uluwatu dan Pura Dalem Ped. "Ada juga Bhatara dari tanah Jawa yang berstana di pura ini, yakni Ida Bhatara Majapahit dan Ida Bhatara Mahameru," ujar pria 76 tahun ini.
Pura yang pingit ini memiliki banyak keunikan serta pantangan yang wajib diikuti oleh pengempon pura tersebut. Selain nunas tamba, pura ini juga dikenal mampu memberikan kelancaran untuk segala aktivitas kesenian agar lebih berkharisma (taksu).
Penggunaan nama Dalem sendiri tidak diketahui secara pasti dari mana dasarnya. Pihaknya menduga, penggunaan kata Dalem diambil dari sebagian besar Bhatara yang berstana di pura ini yang menggunakan gelar Dalem. Sedangkan kata Dukun digunakan akibat permohonan masyarakat untuk mendapatkan kesembuhan selalu dikabulkan, seperti halnya Dukun atau orang yang bertindak sebagai penyembuh atau pemberi obat secara tradisional. Namun, pihaknya tidak menampik adanya masyarakat yang menyebutkan pura ini dengan Pura Dalem Dukuh. Penyebutan itu didasarkan pada keunikan pura ini.
Menurut cerita para tetua, bahwa salah satu yang berstana di pura ini adalah Ida Dukuh bersenjatakan Bajra. Hal ini menjadi sebab mengapa setiap pujawali di pura ini tidak pernah menggunakan Genta atau Bajra. "Pernah sekali menggunakan Pedanda dan menggunakan genta, namun setelah itu saya sakit yang cukup lama. Hal itu disebabkan karena ‘kesalahan’ penggunaan bajra dan pedanda saat upacara," imbuhnya. Masalah tersebut diketahui, setelah datangnya orang misterius berkunjung ke rumah pamangku, yang membeber permasalahan yang terjadi.
Editor : I Putu Suyatra