Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dilanggar, Bisa Apes; Ini Dewasa Ayu dan Pantangan Bercocok Tanam

I Putu Suyatra • Selasa, 5 September 2017 | 16:05 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Di Bali hampir setiap kegiatan bisa dicarikan padewasan. Padewasan berasal dari kata dewasa yang artinya  hari pilihan, hari baik. Jadi, padewasan berati ilmu tentang hari yang baik. Sedangkan Dewasa Ayu artinya adalah hari yang baik untuk melaksanakan suatu aktivitas.
Pada umumnya penentuan dewasa dipergunakan untuk kegiatan panca yadnya. Padahal, hampir di setiap sendi kehidupan bisa dianalisis dari sudut dewasa. Mulai dari kegiatan upacara keagamaan, seni, budaya, perikanan, pertanian, peternakan, peralatan senjata, pembangunan, dan aneka usaha senantiasa menggunakan ala ayuning dewasa. Sebut saja penggunaan dewasa dalam bidang pertanian. Penyusun Kalender Bali Gede Marayana mengungkapkan kepada Bali Express (Jawa Pos Group), agama Hindu tidak bisa dipisahkan dari budaya agraris (pertanian). Demikian pula dalam aktivitas keagamaan antara upacara dan pertanian memiliki hubungan yang erat. Upacara sebagai bagian dari tri kerangka dasar agama Hindu, sedangkan  sarana yang dipersembahkan dalam upacara adalah  bersumber dari hasil pertanian. “Semua hari adalah baik. Tidak ada hari yang buruk. Namun, masyarakat Bali memahami adanya waktu yang tepat untuk melakukan suatu aktivitas tertentu," ulasnya.
Demikian juga, lanjut  Gede Marayana,  ada waktu yang kurang tepat untuk aktivitas yang lain. Perhitungan waktu ini disebut dengan 'ala ayuning dewasa', yang kalau diterjemahkan bebas maksudnya adalah baik buruknya waktu.
Tak jauh beda dalam bidang pertanian, seperti soal musim tanam  juga sangat ditentukan  dari padewasan. Karena tanaman  akan  berhasil dengan baik, apabila  jenis tanaman  tepat  dan cocok dengan musim pada saat tersebut. “Ada mantram yang biasa diucapkan jro mangku dalam pratista dengan maksud untuk memohon kemakmuran. Misalnya saat redite sarwa masoca, soma sarwa bungkah, anggara sarwa gadang, buda sarwa mesari, wraspati pala wija, sukra woh, saniscara sarwa bun,” kata Gede Marayana saat ditemui di rumahnya, kemarin.
Menurutnya, mantram tersebut dimaknai bahwa jika redite sarwa mesoca  yang artinya pada saat hari Minggu baiknya menanam tanaman yang berbuku. Seperti bambu, tebu dan tanaman berbuku lainnya. “Makanya, pantang memotong bambu pada saat hari Minggu. Karena kalau memotong bambu pada hari Minggu untuk keperluan, maka satu lingseh (koloni)  bambu bisa mati. Memang sudah terbukti pantangannya itu,” ujar  Gede Marayana.
Selanjutnya, sambung Gede Marayana, pada hari Senin dianjurkan menanam tanaman yang berumbi (sarwa bungkah), seperti ketela, singkong, bengkuang. Sedangkan hari Selasa momen untuk menanam tumbuhan yang dimanfaatkan pada bagian daun (sarwa daun), seperti berbagai jenis sayuran, tembakau.
“Nah, kalau hari Rabu itu dewasa ayu menanam segala tumbuhan yang dimanfaatkan pada bagian bung (sarwa sekar). Kamis menaman segala biji-bijian (sarwa wija) seperti padi, jagung, dan kedelai. Untuk hari Jumat sebaiknya nenanam segala  buah (sarwa phala) seperti mangga, manggis, durian, pisang, jeruk, dan tanaman buah lainnya. Pada hari Sabtu sebaiknya menanam tumbuhan yang  merambat (sarwa melilit) seperti labu, mentimun, semangka, anggur, dan pare,” jelas Gede Marayana.
Gede Marayana mengingatkan agar para petani tidak melanggar dewasa ayu beserta pantangan-pantangan tersebut, karena akan berakibat fatal bagi hasil pertanian. “Kalau menanam tembakau yang memanfaatkan daun, jangan di hari Rabu, karena kalau hari Rabu nanti tumbuh bunga, rugi nantinya. Tembakau cocoknya ditanam di hari Selasa. Karena memanfaatkan daun. Seperti itulah ala ayunya. Kalau dewasa ayunya untuk menanam, jangan hari menanam itu dipergunakan untuk memetik, juga bisa fatal,” kata  Gede Marayana.
Ia menambahkan, peran wewaran, khususnya Saptawara memang besar dalam bidang pertanian. Hanya saja khusus tri wara, yakni pasah, beteng, dan kajeng, masing-masing dipergunakan untuk perhitungan saat mengairi lahan pertanian. “Misalnya pada budidaya padi, saat mengairi lahan persawahan menggunakan acuan tri wara, terutama beteng. Tujuannya agar airnya bisa mengaliri seluruh areal persawahan,” imbuhnya.
Selain itu, pada padewasan berdasarkan pawukon atau perhitungan wuku yang sifatnya berlaku selama satu minggu penuh. Gede Marayana menyebutkan, setiap wuku memiliki sifat-sifat tertentu yang bagus untuk bercocok tanam. Seperti wuku yang memiliki sifat jiwa manganti, dijadikan sebagai hari yang baik untuk menanam segala jenis tumbuhan. Kemudian padewasan ratu magelung untuk menanam tunas kelapa, ratu mangura cocok untuk menanam palawija, tanaman merambat dan tanaman buah-buahan.
“Sedangkan dalam pertanian budidaya padi sering menggunakan padewasan menurut pawukon seperti basah cenik, lanus yang sangat cocok untuk menanam padi. Sedangkan pantangannya adalah jangan menanam pada wuku yang terdapat sifat ehep (redup) karena tanaman bisa mati,” beber Gede Marayana.
Menurutnya, wuku yang  dianggap baik atau lanus adalah  Wuku Landep hari Senin, Wuku Kulantir hari Selasa, Wuku Gumbreg hari Rabu, Wuku Wariga hari Senin, Wuku Langkir hari Kamis, Wuku Kelurut hari Jumat, dan Wuku Bala hari Minggu.
Sedangkan wuku yang dianggap tidak baik atau ehep yaitu Wuku Tolu hari Selasa, Wuku Wariga hari Jumat, Wuku Kuningan hari Sabtu (tumpek Kuningan), Wuku Tambir hari Selasa, Wuku Menail hari Kamis, dan Wuku Watugunung  hari Jumat.
Lebih lanjut dijelaskan Gede Maryana, padewasan untuk bercocok tanam juga bisa diperoleh berdasarkan perhitungan penanggal panglong. Kegiatan menanam tumbuhan bisa dilakukan pada hari yang ada sifat amerta wija dan amertamasa. Tetapi wajib menghindari hari yang ada sifat gehengmenyinget karena tanaman bisa mati. “Kalau padewasan berdasarkan wewaran dalam bidang pertanian, maka juga harus dihindari hari yang ada sifat babi munggah dan bojog munggah, karena buruk terhadap tanaman. Tetapi bisa dicari hari yang ada sifat kajeng rendetan, kala empas turun, kala gumarang turun, karena semuanya bagus untuk bercocok tanam,” imbaunya.
Konkritnya, sambung Gede  Marayana, bila dicari hari baik untuk bercocok tanam berdasarkan perhitungan saptawara, panca wara dan wuku, maka diperoleh hari Redite Umanis wuku Merakih, Coma umanis wuku Tolu, Anggara umanis wuku uye, Buddha umanis wuku Julungwangi, Wraspati umanis wuku ugu, Sukra umanis wuku langkir , dan Saniscara umanis wuku Watugunung
Sedangkan pantangan menanam tanaman berdasarkan Sapta  Wara, Panca  Wara dan  Wuku yang wajib dihindari terjadi pada hari Wrhaspati Pon wuku Landep, Redite Pon Julungwangi, Soma Pon Dunggulan, Anggara Pon wuku Langkir, Budha Pon wuku Pujut, Wrhaspati Pon wuku Krulut, dan Wraspati Pon wuku Tambir.

Editor : I Putu Suyatra
#tradisi bali #pertanian #buleleng